• News

  • Singkap Sejarah

Seks Raja Jawa di Antara Birahi, Wibawa, dan Laku Spiritual

Ilustrasi relief Kamadhatu di Candi Borobudur
Liputan6.com
Ilustrasi relief Kamadhatu di Candi Borobudur

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Menyusuri perilaku seksual raja-raja di Tanah Jawa tempo dulu, ternyata memiliki keunikan yang mungkin berbeda dengan tolok ukur di masa sekarang.

Kisah ini tercermin dalam catatan Risa Herdahita Putri berjudul "Di Balik Perilaku Seks Para Raja" yang dilansir Historia.id. Terlihat jelas bahwa seks bagi para raja Jawa bukan sekadar pelampiasan nafsu birahi semata namun juga erat kaitanya sebagai cara menaikkan legitimasi/wibawa kekuasaan, serta bagian dari laku atau olah spiritual.

Menurut Filolog dan dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) FKIP Universitas Veteran Bantara Sukoharjo, Adi Deswijaya, kisah semacam itu salah satunya tercermin dalam teks Jawa Asmaradana. Kata asmara (baca: asmoro) berarti asmara dan dahana berarti api.

"Api asmara yang dilakukan bangsawan dan raja-raja masa lalu terdapat dalam teks-teks," kata Adi dalam dialog sejarah "Seks Zaman Dahulu Kala dari Fetish sampai Bestialitas" yang disiarkan langsung melalui saluran Youtube dan Facebook Historia.id, Selasa, 11 Agustus 2020.

Dalam teks Jawa Baru ditemukan beberapa variasi kata asmara. Di antaranya asmaratantra ketika bersinggungan dengan seorang perempuan. Asmaranada ketika berbicara. Asmaratura ketika saling pandang. Asmaranala ketika dalam taraf berkirim surat. Asmaragama ketika sudah sampai tidur bersama melakukan persetubuhan.

"Meskipun hanya bersinggungan atau baru saling pandang atau baru berbicara tetapi keluar air mani karena begitu menggebu hasrat cintanya bisa dikatakan asmaragama," kata Adi. "Ini kata Ranggawarsita dalam suratnya kepada Winter pada 15 Desember 1842."

Lebih jauh, menurut Adi, hal ini juga tercermin dalam filosofi Jawa di mana sosok lelaki utama harus memiliki empat hal yaitu curiga (keris), wisma (rumah), wanita (perempuan), turangga (kendaraan), kukila (burung). Maka, seperti dalam Babad Tanah Jawi, kisah api asmara juga berhubungan erat dengan pertunjukkan kekuasaan seorang raja.

"Di dalam Babad Tanah Jawi banyak cerita tentang asmaradana, api asmara seorang bangsawan zaman dulu, perebutan harta, takhta, dan wanita," kata Adi.

Seks untuk tingkatkan wibawa

Dalam Babad Tanah Jawi yang ditulis oleh Yasadipura I, pujangga masa pemerintahan Pakubuwana III (1749–1788) dan IV (1788–1820), juga mengulas tentang makna seks sebagai alat meningkatkan legitimasi kekuasaan.

"Karena bait-bait terakhir Babad Tanah Jawi berkelanjutan di Babad Giyanti yang memang jelas karya Yasadipura I. Babad Tanah Jawi menurut saya zaman Pakubuwana III," kata Adi.

Salah satu contoh kisah api asmara raja Jawa dalam Babad Tanah Jawi adalah saat Sultan Mangkurat Mataram merebut Ratu Malang. Padahal, ia sudah bersuami Ki Dalem dan sedang hamil.

Karena kecantikan Ratu Malang, Sultan Mangkurat akhirnya tak peduli dan tetap ingin memilikinya. Tak tanggung-tanggung, Ki Dalem pun dibunuh. Namun fatalnya, Ratu Malang mengalami kesedihan dan ikut meninggal. Jenazahnya kemudian dibiarkan di dalam keraton, tidak langsung dikebumikan oleh sultan.

"Akhirnya sultan bermimpi kalau Ratu Malang sudah bertemu Ki Dalem. Baru sultan mau memakamkan," kata Adi.

Di Babad Tanah Jawi juga ada kisah raja yang berhubungan dengan makhluk halus, seperti cerita Panembahan Senopati dengan Ratu Pantai Selatan. Ada juga kisah Jaka Tarub dan bidadari Nawang Wulan.

Menurut Adi, seorang raja bisa memperoleh legitimasi kekuasaan dari keahlian bercinta. Termasuk dengan makhluk astral, sebagaimana cerita Panembahan Senopati.

Seks sebagai laku spiritual

Dalam tradisi Jawa, seks juga sebagai bentuk laku spiritual yang harus dikjalani sesuai dengan ketentuan ajaran Tuhan. Hal ini  tercermin dalam Serat Centhini, karya bersama para pujangga Keraton Surakarta di bawah arahan Pakubuwono V ketika masih menjadi putra mahkota. Serat ini selesai pada 1814.

Dikisahkan, setelah menikah, Syekh Amongraga dan Ken Tembangraras tak langsung melakukan persetubuhan. Mereka menunggu selama 40 hari baru melakukan persetubuhan.

Seks dalam tuntunan Jawa intinya adalah kesabaran. "Dalam Centhini kenapa harus menunggu 40 hari, karena ujung-ujungnya spiritual," kata Adi.

Uniknya, dalam Serat Centhini juga memuat interaksi seksual dari berbagai orientasi. Bahkan, dikisahkan pula perilaku bestialitas yakni berhubungan seksual dengan kuda.

"Dalam bentuk ilham melalui mimpi Ki Kulawiryo untuk penyembuhan Nuripin yang mengalami sakit raja singa atau sipilis," kata Adi.

Kerena mengungkap soal-soal laku spiritual, banyak pujangga Jawa menganggap isi dalam Surat Centhini begitu luhur. Maka, munculah mutrani (duplikasi) kembali Serat Centhini. Contohnya Masalah Saresmi dan Kawruh Sanggama.

Masalah Saresmi berisi ajaran Rasul kepada anaknya Fatimah az-Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Di antaranya adalah larangan dan tuntunan bersenggama.

"Nggak boleh tanggal pertama dan terakhir bulan. Nggak boleh hari Minggu dan Rabu. Jangan matikan lampu, akan berakibat anaknya bodo, celaka, menjadi durjana, dan sebagainya," kata Adi.

Sedangkan Kawruh Sanggama merupakan ajian asmaragama yang didapat Batara Guru dari Sang Hyang Tunggal dengan bertapa. Karena sebelumnya ia memiliki empat putra yang wataknya tidak baik.

"Kemudian menggunakan ajian asmaragama akhirnya punya anak Sang Hyang Wisnu," kata Adi.

Kawruh Asmaragama mengatur sikap dan tata cara dalam melakukan hubungan seksual. Lebih lanjut istilah sanggama, karonsih, saresmi dan istilah lain dalam

Jawa yang didasari watak lila, narima, temen, dan sabar akan dapat menghasilkan hakikat kebenaran sejati pasangan.

"Semua perbuatan haruslah didasari ilmu. Ilmu dapat menuntun kita ke arah hal positif," ujar Adi.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : Historia.id