• News

  • Singkap Sejarah

Kisah Penyelamatan Wanita-Wanita Korban Pemuas Nafsu Tentara PD II

Ilustrasi aksi PMI tempo dulu
Foto: Kompasiana
Ilustrasi aksi PMI tempo dulu

AKARTA, NETRALNEWS.COM - Tak lama setelah didirikan pada 17 September 1945, Palang Merah Indonesia (PMI) segera unjuk gigi dan berperan aktif dalam kancah nasional maupun international. Di bawah kepemimpinan Drs Mohammad Hatta, terbukti lembaga ini tak pernah "impoten".

Pertama-tama, lembaga ini memanfaatkan semua aset Nederlandsch Roode Kruise Afdeeling Indie (NERKAI) bentukan Kolonial Belanda yang kemudian dibubarkan sehari sebelum PMI didirikan oleh Pemerintah Indonesia yang baru merdeka. Maka, PMI bisa dikatakan bukanlah lembaga yang tak berpunya.

Sejak itu, PMI berhasil menarik simpati dunia. Keberhasilannya memberikan bantuan kepada korban bencana alam dan korban perang, membuat PMI segera dicatat oleh Komite Palang Merah Internasional (ICRC). Sehingga pada 15 Juni 1950, PMI diterima menjadi anggota resmi ICRC.

Kini, PMI memiliki cabang yang tersebar di hampir semua provinsi di Indonesia dengan jumlah tak kurang darai 408 cabang. Program PMI begitu hidup yang digerakkan oleh sekitar 1,5 juta sukarelawan yang selalu siap melayani korban bencana, konflik, jasa konsultasi, dan lain-lain.

Menyelamatkan korban tentara Jepang

PMI sangat berjasa bagi negara Indonesia. Kiprahnya di awal kemerdekaan antara lain meliputi upaya menghimpun obat-obatan bagi korban perang, melacak dan menyelamatkan para tawanan perang, hingga melacak dan menyelamatkan para wanita penghibur tentara Jepang (Jugun Ianfu).

Selama Perang Dunia II (PD II) berkecamuk dan Jepang menduduki Nusantara, banyak orang Indonesia yang dibawa ke luar negeri dan tak tahu di mana rimbanya. Mereka itu adalah orang-orang yang direkrut tentara Jepang untuk ikuti Romusha, Heiho, pekerja kapal, dan perempuan yang dijadikan penghibur di luar negeri.

Saat Jepang kalah dan disusul proklamasi kemerdekaan, mereka terjebak dan tidak bisa langsung kembali ke tanah air Indonesia. Diperkirakan, jumlah mereka mencapai tak kurang dari 250 ribu jiwa.

Memang, selama kurun waktu 1945-1946, PMI tidak berhasil melacak jejak dan menyelamatkan semuanya. PMI hanya berhasil mengembalikan sekitar 29 ribu saja atau sekitar 23 persen dari keseluruhan. Kesulitan utama yang dialami PMI adalah keterbatasan data dalam administrasi yang dimiliki tentara Jepang.

Data mengenai jumlah korban tentara Jepang yang berhasil diselamatkan PMI pernah dimuat dalam majalah PMI Jakarta terbitan tahun 1953. Dari total yang bisa diselamatkan, disebutkan sebanyak 24.987 orang adalah Romusha, 1.350 orang adalah Heiho, dan 3.021 adalah pelaut.

Sementara itu, untuk melacak Jugun Ianfu, PMI mengalami persoalan yang lebih sulit dan rumit. Catatan tentara Jepang mengenai perbudakan seks benar-benar sangat minim. Seolah, memang sejak awal, Jugun Ianfu dijalankan secara rahasia atau bukti soal itu sengaja dimusnahkan.

Selain karena keterbatasan catatan administrasi tentara Jepang, banyak mantan Jugun Ianfu juga memilih tidak mau kembali ke keluarganya karena alasan aib. Mereka kemudian menikah dengan orang asing yang masih mau menerima mereka dan sengaja agar namanya terhapus dalam sejarah.

Salah satu bukti bagaimana sulitnya melacak perempuan yang dijadikan pemuas nafsu bejat tentara Jepang dapat diketahui dari bagaimana Menteri Sosial Indonesia Maria Ulfah berusaha mendesak Inggris agar mengizinkan perwakilan PMI Nona Hidayat untuk melacak Jugun Ianfu yang berada di Singapura.

Usaha itu berhasil. Nona Hidayat melobi Jendral Christianson sehingga mendapat izin melaksanakan tugasnya. Ia kemudian menemui Dokter Tan Heng Han, salah satu saksi yang mengetahui bagaimana nasib Jugun Ianfu di Singapura.

Di pulau itu, ada sekitar enam lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya gadis-gadis Indonesia yang dijerat dan ditipu dengan janji manis oleh tentara Jepang. Jumlah keseluruhan Jugun Ianfu sebenarnya sekitar 80 orang. Namun, Nona Hidayat hanya berhasil menemui 35 orang.

Nona Hidayat selanjutnya melobi dan menawarkan para perempuan itu untuk kembali ke Indonesia. Namun, semuanya ternyata sudah mengalami trauma yang kronis. Faktor utama sakit psikis mereka adalah persoalan beban moral dan aib. Mereka malu kembali ke kampung halaman mereka.

Data Jugun Ianfu yang ada di Singapura itu antara lain di Pasir Panjang (15 orang), Johor Road (2 orang), Espalnade (7 orang), Changi Road (7 orang), Kantong Road (2 orang), dan Pulau Biani (2 orang).

Membantu logistisk korban perang

Dalam catatan sejarah, di awal kemerdekaan PMI juga berkiprah di bidang lain. Upaya menarik simpati negara lain juga berhasil digalang oleh PMI antara lain dari Australia, Malaya, India, dan Mesir. India adalah salah satu negara yang bersedia menyumbang obat-obatan dengan menukarkannya sebagian dengan beras.

Kesulitan utama dalam menghimpun logistik berupa obat-obatan bagi korban perang adalah bayang-bayang pasukan Belanda yang terus menghalangi upaya PMI. Bahkan, dalam catatan sejarah, ada satu peristiwa tragis terjadi.

Pada 29 Juli 1947, pesawat DC-3 Dakota dengan registrasi VT-CLA yang mengangkut bantuan obat-obatan dari India ditembak jatuh oleh pesawat Kitty Hawk milik pasukan Belanda di Lapangan Udara Maguwo, Yogyakarta. Selain Abdul Gani Handonotjokro, baik pilot maupun semua penumpangnya tewas.

Di antara para korban itu, terdapat Komodor Udara Adisucipto, Komodor Udara Abdurrahman Saleh, operator radio Adisumarmo Wirjokusumo, Zainal Arifin, dan seorang teknisi India Bidha Ram. Peristiwa itu ikut menjadi catatan penting dalam bidang kemanusiaan atau palang merah dunia.

Berdasarkan catatan harian Republik terbitan 24 Januari 1947, PMI juga memperoleh bantuan berupa kain dari India. Bantuan itu kemudian disebarkan bagi korban perang di sejumlah karisidenan atau sekitar 19 kota di Jawa dan Madura.

Sementara dalam majalah PMI Jakarta terbitan 1953, bantuan melalui PMI juga diperoleh dari Australia, yaitu berupa obat-obatan senilai 5.000 pound. Dari total bantuan itu, 50 persen diberikan kepada PMI dan 50 persen diberikan NERKAI yang sempat dipertahankan Belanda, yang kala itu sempat berusaha kembali menguasai Indonesia.

Untuk bantuan dari ICRC melalui PMI, tercatat obat-obatan seharga 700.000 Franc Swiss. Kemudian dari Malaya sebesar AS$20.806,74, dari India sebesar AS$16.000, dan dari Mesir sebesar AS$1.000.

Dari gambaran kiprah PMI di atas, jelas bahwa ternyata PMI juga ikut menymbang arti pengakuan kemerdekaan Indonesia di kancah international. Perannya setara dengan perjuangan secara diplomasi.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber