• News

  • Singkap Sejarah

Jarang Diungkap, DN Aidit Pernah Menyelamatkan Wibawa Bung Karno

Dipa Nusantara Aidit berorasi dalam kampanye PKI pada 1955.
FOTO/Wikicommon
Dipa Nusantara Aidit berorasi dalam kampanye PKI pada 1955.

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Sejarah itu abu-abu, namun pandangan yang seringkali dianut masyarakat seolah sejarah itu hitam putih. Artinya, semestinya, dalam memandang satu tokoh sejarah, tak bisa hanya melihat hanya kejahatan atau kebaikannya  saja.

Menengok sejarah kelam peristiwa Gerakan 30 September (G-30-S) tahun 1965 dan peristiwa selanjutnya di tahun 1966-an, kita akan menjumpai sosok kontroversial bernama Dipa Nusantara Aidit, atau yang dikenal sebagai DN Aidit,

Bagi sebagian orang yang tidak mengenalnya secara utuh, mungkin yang muncul di benak hanyalah sosok serba jahat karena menjadi dalang penculikan dan pembunuhan tujuh perwira TNI Angkatan Darat. Apalagi dalam film garapan Arifin C Noer  digambarkan sebagai pria merokok tanpa henti dan menjadi dalang dari penyiksaan biadab.

Padahal, ada banyak sisi lain yang jarang diungkap dari tokoh ini. Ia pernah memiliki pemikiran cemerlang dan sering menginspirasi banyak orang, termasuk Presiden Soekarno.

Sepanjang tahun 1950-1960-an, DN Aidit mewarnai wajah perpolitikan di Indonesia. Ia juga menuangkan pemikirannya melalui sejumlah buku namun buku-bukunya kemudian diberangus dan dimusnahkan di era Orde Baru.

Jadi, apa saja fakta menarik yang selama ini jarang diungkap ke publik?

Menukil reportase Liputan6.com, fakta pertama yang semestinta tidak boleh disembunyikan adalah keterlibatan dan peran DN Aidit yang sangat penting dalam peristiwa rapat raksasa di Lapangan Ikada.

Peristiwa yang terjadi sebulan setelah Proklamasi Kemerdekaan, tepatnya, 19 September 1945, semestinya akan diisi dengan pidato Bung Karno. Namun rencana itu dibatalkan.

"Waktu itu ada kekhawatiran dari Sukarno, Jepang akan datang saat rapat raksasa dilakukan di Ikada," ujar Muhidin M Dahlan, budayawan sekaligus aktivis literasi, beberapa waktu lalu di Yogyakarta.

Karena pertimbangan keamanan itulah, Bung Karno tidak kunjung datang dan naik ke podium. Akibatnya, ribuan rakyat yang sudah berkumpul resah dan gerah menanti kedatangan sang proklamator.

Sukarno masih sibuk dibujuk untuk segera hadir dan butuh waktu yang tidak sebentar. Saat itu DN Aidit naik ke atas panggung dan mengajak mereka bernyanyi serta berteriak yel-yel kemerdekaan.

"Tujuannya, berusaha menenangkan massa yang mulai ribut karena acara tidak segera dimulai," ucap Muhidin.

Setelah massa kondusif, barulah Sukarno naik ke podium dan berpidato di lapangan yang sekarang berlokasi di sebelah selatan Monas tersebut.

Rapat Lapangan Ikada berjalan dan berhasil mempertemukan pemerintah dengan rakyatnya. Dalam hal ini, DN Aidit berhasil menjaga dan menyelamatkan kewibawaan pemerintah dan dukungan rakyat terhadap kemerdekaan tetap terjaga.

Mungkin peristiwa itu juga menjadi catatan penting bagi Soekarno, yang di waktu-waktu kemudian membuat Bung Karno sangat akrab dengan DN Aidit

Bisa dikatakan, relasi antara keduanya laksana senior dan junior. Pemimpin partai politik komunis di Indonesia itu menjadi murid kursus politik Sukarno. Aidit muda kerap mengantar jemput Sukarno dalam kursus itu.

"Wajar jika Aidit sebagai kader muda mengambil alih sementara untuk membuat situasi di Ikada kondusif," kata Muhidin.

Fakta berikutnya, Aidit ternyata juga pernah menjadi loper koran. Hal itu dilakukan setelah koran Harian Rakyat, milik partainya, dibredel oleh pemerintah.

Koran yang terbit pertama kali pada 31 Januari 1951 tersebut adalah salah satu media massa Indonesia pada periode 1950-1965. Sepanjang perjalanannya, Harian Rakyat yang semula bernama Suara Rakyat sudah dibredel sebanyak sembilan kali.

"Saat menjadi loper koran, Aidit menjabat sebagai ketua partai, dan tujuannya ketika itu bukan pencitraan atau kampanye karena memang sedang tidak musim kampanye," ujarnya.

Dia bercerita, pada 2 November 1959, seorang nona mendatangi Aidit yang sedang menjadi loper koran di depan pasar Stasiun Senen.

Perempuan itu heran melihat Aidit dan bertanya mengapa Bung (Aidit) berjualan koran. Pertanyaan itu dijawab Aidit, pembredelan Harian Rakyat satu pekan mengakibatkan kerugian, maka rakyat membela hariannya.

Menurut Muhidin, tindakan terjun langsung menjadi loper koran yang dilakukan Aidit menunjukkan tokoh itu berpolitik setiap hari bersama rakyat, bukan hanya saat atau menjelang pemilu.

Di masa itu, oran memiliki arti yang sangat penting bagi keberadaan Partai. Koran adalah corong Partai. Bahkan, Aidit pernah menegaskan dalam salah satu pidatonya, tidak boleh ada konferensi partai tingkat paling atas sampai bawah yang tidak membicarakan koran Harian Rakyat, terutama soal mengintensifkan penyebaran dan pemasukannya.

Harian Rakyat bergantung pada oplah dan penderitaan pekerja koran sama dengan penderitaan komunis lainnya, yakni berada di barisan depan musuh rakyat.

Fakta terakhir tentang sosok DN Aidit adalah tentang ambisinya untuk bisa menjadikan PKI sebagai pemenang pemilu. Namun, hal itu tidak pernah terwujud karena terjadi pasca peristiwa G-30-S, PKI diberangus dan semua anggotanya menjadi pesakitan. 

"Aidit seharusnya diperlihatkan seperti ini, dia tidak menakutkan, jangan diperlihatkan seperti hantu, karena semakin terbuka untuk didiskusikan, maka kritiknya pun bisa bermunculan di segala lini," ucap Muhidin.

Editor : Taat Ujianto