• News

  • Singkap Sejarah

Ini Sejarah Waisak

Illustrasi. Sidharta Gautama. (k15m1s.wordpress.com)
Illustrasi. Sidharta Gautama. (k15m1s.wordpress.com)

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Umat Buddha di Indonesia seperti halnya umat Buddha di seluruh dunia, memperingati Hari Raya Waisak, Kamis (11/5/2017). Secara nasional umat Buddha Indonesia menggelar peringatan Hari Waisak di pelataran Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. 

Candi Borobudur memang merupakan simbol peninggalan kejayaan Kerajaan Buddha di Indonesia. Lalu kapan dan asal usul perayaan Waisak itu digelar? 

Waisak atau Waisaka (Pali; Sanskrit: Vaiśākha वैशाख) merupakan hari suci agama Buddha. Hari Waisak juga dikenal dengan nama Visakah Puja atau Buddha Purnima di India, Saga Dawa di Tibet, Vesak di Malaysia, dan Singapura, Visakha Bucha di Thailand, dan Vesak di Sri Lanka. 

Nama ini diambil dari bahasa Pali "Wesakha", yang pada gilirannya juga terkait dengan "Waishakha" dari bahasa Sanskerta. Di beberapa tempat disebut juga sebagai "hari Buddha".

Dirayakan dalam bulan Mei pada waktu terang bulan (purnama sidhi) untuk memperingati 3 (tiga) peristiwa penting, yaitu : Lahirnya Pangeran Siddharta di Taman Lumbini pada tahun 623 S.M.,

Pangeran Siddharta mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha di Buddha-Gaya (Bodhgaya) pada usia 35 tahun pada tahun 588 S.M.

Buddha Gautama parinibbana (wafat) di Kusinara pada usia 80 tahun pada tahun 543 S.M.

Tiga peristiwa ini dinamakan "Trisuci Waisak". Keputusan merayakan Trisuci ini dinyatakan dalam Konferensi Persaudaraan Buddhis Sedunia (World Fellowship of Buddhists - WFB) yang pertama di Sri Lanka pada tahun 1950. 

Perayaan ini dilakukan pada purnama pertama di bulan Mei.

Waisak sendiri adalah nama salah satu bulan dalam penanggalan India Kuno.

Nama Waisak

Dalam tradisi Buddhis Mahayana, hari ini berasal dari nama bahasa Sanskerta, वैशाख (Vaiśākha), dan berasal dari variannya. Vesākha dikenal dengan nama Vesak atau Wesak (衛塞節) dalam bahasa Sinhala.

Waisak juga dikenal dengan : बुद्ध पुर्णिमा/বুদ্ধ পূর্ণিমা Buddha Purnima atau बुद्ध जयंती/বুদ্ধ জয়ন্তী Buddha Jayanti di India, Bangladesh dan Nepal, 花祭 (Hanamatsuri), juga terkait dengan Hari Bodhi di Jepang, 석가 탄신일 Seokka Tanshin-il (Hanja: 釋迦誕身日) di Korea, 佛誕 (Mandarin: Fódàn, Kantonis: Fātdàahn) di komunitas berbahasa Tionghoa, Phật Đản di Vietnam, ས་ག་ཟླ་བ། Saga Dawa (sa ga zla ba) di Tibet,

វិសាខបូជា Visak Bochéa di Khmer, วันวิสาขบูชา Visakah Puja (atau Visakha Bucha) di Thai, ကဆုန်လပြည့်ဗုဒ္ဓနေ့ (Kasone la-pyae Boda nei), lit. "Full Moon Day of Kason," the second month of the traditional Burmese calendar, ວິສາຂະບູຊາ Vixakha Bouxa di Lao, වෙසක් පසළොස්වක පෝය Vesak (Wesak) di Sri Lanka dan Malaysia.

Perayaan Waisak di Indonesia

Perayaan Hari Waisak di Indonesia mengikuti keputusan WFB. Secara tradisional dipusatkan secara nasional di komplek Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Rangkaian perayaan Waisak nasional secara pokok adalah sebagai berikut: Pengambilan air berkat dari mata air (umbul) Jumprit di Kabupaten Temanggung dan penyalaan obor menggunakan sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan.

Ritual "Pindapatta", suatu ritual pemberian dana makanan kepada para bhikkhu/bhiksu oleh masyarakat (umat) untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melakukan kebajikan.

Samadhi pada detik-detik puncak bulan purnama. Penentuan bulan purnama ini adalah berdasarkan perhitungan falak, sehingga puncak purnama dapat terjadi pada siang hari.

Selain tiga upacara pokok tadi dilakukan pula pradaksina, pawai, serta acara kesenian.

Hari Raya Waisak, bersamaan dengan Hari Raya Nyepi, ditetapkan sebagai hari libur nasional berdasarkan Keppres Nomor 3 tahun 1983 tanggal 19 Januari 1983.

"Pindapatta"

Hari Raya Waisak sendiri di kalangan umat Buddha sering disebut dengan hari raya Trisuci Waisak. Disebut demikian karena Waisak memperingati tiga peristiwa penting yang semuanya terjadi di bulan Vesakha dan pada waktu yang sama yaitu tepat saat bulan purnama. Tiga peristiwa penting itu adalah:

1. Kelahiran Pangeran Sidharta:

Pangeran Sidharta adalah Putra seorang Raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya. Pangeran Sidharta lahir kedunia sebagai seorang Bodhisatva (Calon Buddha, Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertingggi). Dia Lahir di taman Lumbini pada tahun 623 Sebelum Masehi

2. Pencapaian Penerangan Sempurna:

Pangeran Sidharta pada usia 29 tahun beliau pergi meninggalkan Istana dan pergi menuju Hutan untuk mencari Kebebasan dari Usia Tua, Sakit, Mati. Kemudian Pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak Pertapa Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan mendapat gelar Sang Buddha.

3. Pencapaian Parinibbana:

Ketika usia 80 tahun Sang Buddha Wafat atau Parinibbana: di Kusinara. Semua mahkluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan begitu juga Para anggota Sanggha , mereka bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha.

Waisak sebagai sebuah hari raya agama Buddha bisa memberikan contoh yang positif kepada setiap orang. Contoh positif yang dapat diteladani adalah pengembangan cinta-kasih kepada setiap makhluk hidup. 

Wujudnya bisa berupa berdana membantu mereka yang membutuhkan, mendonorkan darah, menjaga lingkungan sekitar dengan hidup sederhana atau perbuatan-perbuatan baik lainnya. Akhirnya satu harapan besar dari hari Waisak tersebut adalah bahwa setiap manusia diharapkan dapat merenungi segala perbuatannya dan setiap saat selalu hidup dengan rasa cinta-kasih tanpa kebencian, seperti yang tertulis di dalam Dhammapada,

“Kebencian tidak akan selesai jika dibalas dengan kebencian, tetapi hanya dengan memaafkan dan cinta-kasihlah maka kebencian akan lenyap.”

 

 

Editor : Marcel Rombe Baan
Sumber : Diolah dari Berbagai Sumber