• News

  • Singkap Sejarah

Sejarah Api Abadi Mrapen dan Waisak

Ritual pengambilan api abadi Moleh Bhiksu rapen. (http://2.bp.blogspot.com)
Ritual pengambilan api abadi Moleh Bhiksu rapen. (http://2.bp.blogspot.com)

MAGELANG, NETRALNEWS.COM - Umat Buddha memperingati Hari Raya Waisak, Kamis (11/5/2017). Hari Raya Waisak dikenal pula dengan Tri Hari Suci oleh umat Buddha.

Kenapa disebut Tri Hari Suci? Sebab, proses perayaan Waisak itu sendiri berlangsung dalam tiga hari dengan ritual tersendiri.

Perayaan Hari Waisak di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah tiap tahun digelar sebagai puncak Tri Hari Suci. Sebelumnya acara digelar di Candi Prambanan, Umbul Jumprit, dan Mrapen.

Di Umbul Jumprit sendiri merupakan pengambilan air suci di sebuah mata air di sebuah guah yang letaknya di atas gunung dan diyakini oleh umat Buddha bahkan masyarakat setempat bahwa air suci itu punya daya penyembuh dan khasiat kesehatan lainnya.

Dari umbul Jumprit, prosesi Tri Hari Suci juga berlanjut ke Mrapen, yakni tempat pengambilan sumber api abadi. Nah, bagaimana sejarah api abadi Mrapen tersebut?

Api abadi Mrapen adalah sebuah kompleks yang terletak di desa Manggarmas, kecamatan Godong, Kabupaten Grobogan,Jawa Tengah. Kawasan ini terletak di tepi jalan raya Purwodadi - Semarang, berjarak 26 km dari Kota Purwodadi.

Kompleks api abadi Mrapen merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api, sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan sekalipun.

Banyak peristiwa besar mengambil api dari kompleks api abadi Mrapen sebagai sumber obornya, misalnya pesta olahragainternasional Ganefo I tanggal 1 November 1963. Api abadi dari Mrapen juga digunakan untuk menyalakan obor Pekan Olahraga Nasional (PON) mulai PON X tahun 1981, POR PWI tahun 1983 dan Hari Olahraga Nasional.

Pesta olahraga internasional yang menggunakan Api Abadi Mrapen untuk obornya adalah SEA Games XXVI 2011 pada 11-22 November 2011 di Jakarta dan Palembang. Selain itu juga untuk Asian Beach Games (ABG) I di Bali 2008, Asian Beach Games II di Muscat, Asian Beach Games di Oman 2010, dan Asian Beach Games III di Tiongkok.

Islamic Solidarity Games (pesta olahraga multievent negara-negara Islam dunia) 2013 di Pekanbaru, Riau, juga mengambil sumber api dari Api Abadi Mrapen. Bahkan api SEA Games yang digelar di Palembang juga mengambil api dari Mrapen. Kemungkinan besar api abadi untuk penyalaan obor pada pembukaan ASEAN Games 2018 di Jakarta, juga akan diambil dari Mrapen.

Tidak hanya kegiatan olahragam api abadi dari Mrapen juga digunakan untuk obor upacara hari raya Waisak. Dan itu pasti dilakukan pada perayaan Waisak 11 Mei 2017 ini yang dipusatkan di Candi Borobudur, apinya diambil dari Mrapen.

Selain api abadi, di komplek tersebut juga terdapat kolam dengan air mendidih yang konon dapat dipergunakan untuk mengobati penyakit kulit, serta batu bobot yang konon apabila seseorang dapat mengangkatnya maka yang mengangkat tersebut akan mendapatkan keinginannya.

Sumber Api Abadi Mrapen di Desa Manggarmas sering menjadi tujuan wisata karena juga terdapat juga kolam air mendidihSendang Dudo yang dipercaya dapat mengobati penyakit kulit dan reumatik. Air Sendang Dudo memiliki keunikan karena yang tadinya bersih dan bening dapat berubah menjadi keruh dan selalu mendidih tetapi tidak panas.

Air ini juga bisa terlihat keruh tetapi bila dimasukkan ke dalam sebuah gelas maka dapat berubah menjadi bening. Selain itu, ada pula keunikan lain yang Anda sendiri dapat mencobanya yaitu dari gelembung air yang mengambang apabila disulut dengan api maka dapat menyala di atas permukaan air. Hal itu dimungkinkan karena air tersebut mengandung mineral dan zat kimia.

Ada pula Watu Bobot yang letaknya berada di sebelah Sumber Api Abadi Mrapen. Menurut cerita barangsiapa dapat mengangkatnya maka akan tercapai keinginannya.

Editor : Marcel Rombe Baan
Sumber : Diolah dari Berbagai Sumber