• News

  • Singkap Sejarah

Sejarah Putusnya Pulau Jawa dan Bali

Selat Bali
winrymarini.blogspot
Selat Bali

DENPASAR, BALI, NETRALNEWS.COM - Indonesia saat ini terdiri dari ribuan pulau kecil dan besar. Begitu banyaknya pulau di Nusantara ini sehingga dikatakan bahwa negeri ini adalah negara kepulauan, juga disebut sebagai negeri seribu pula.

Namun, dalam berbagai mitos atau dalam bentuk cerita-cerita  legenda, dikatakan kalau sebelum terbentuknya pulau seperti yang kita lihat dan tempat ini, dulunya terjadi sambung-menyambung antara satu dengan yang lain.

Atau, dulunya hanya terdiri dari beberapa pulau saja, namun karena adanya becana alam seperti gempa bumi dan letusan gunung api dahsyat, sehingga daratan itu pecah dan banyak bagian yang tenggelam ke dasar laut dan sebagian membentuk pulau-pulau besar dan kecil.

Maka, muncullah Indonesia dengan munculnya begitu banyak pulau  hingga ribuan jumlahnya itu. Seperti penulis paparkan pada beberapa hari lalu tentang sejarah terpisahnya Pulau Jawa dan Bali. Dalam hal mana, ada pendapat ahli yang mengatakan bahwa Pulau Jawa dan Sumatera terpisah karena terjadi pergeseran lempengan yang bertentangan; ada yang mengarah ke Sumatera dan ada yang ke Pulau Jawa.

Terjadilah pemisahan antara kedua daratan; ada yang membentuk Pulau Sumatera dan ada yang membentuk Pulau Jawa. Itulah yang seperti kita lihat sekarang.

Selain itu, dalam tulisan pujangga Ronggowarsito,  dikatakan pemisahan antara Jawa dan Kalimantan itu karena letusan gunung api Krakatau yang sangat dahsyat.

Lalu, bagaimana dengan terpisahnya Pulau Jawa dan Bali? Dari sejumlah sumber yang ditelusuri dapat dikatakan bahwa terpisahnya pulau Jawa dan Bali itu lebih bernuansa legenda mitos yang jauh dari bukti-bukti ilmiah.

Kebanyakan orang-orang menduga bahwa pulau Bali dengan pulau Jawa asal mulanya menjadi satu daratan. Akan tetapi kapan putusnya kedua pulau itu, terciptanya selat Sunda antara Pulau Jawa dan Bali?

Tulisan di bawah ini secara jujur dikatakan lebih bersifat legenda atau mitos, karena dari berbagai sumber yang ditelusuri belum ada penelitian  ilmiah yang dapat menjelaskan tentang terputusnya atau terpisahnya Jawa dan Bali sehingga munculnya selat Bali.

Dan tulisan ini pun disarikan dari tulisan Adi Parmawan  Misteri dalam Nutrisi Media, yang memang tidak memaparkannya secara ilmiah, tetapi lebih pada penuturan. Sehingga, sejarah yang dituuturkan dalam kanal Singkap Sejarah ini pun lebih pada sejarah legenda atau mitos.

Dikisahkan perjalanan rombongan Markandeya ketika melakukan perpindahan dari Jawa ke Bali, sama sekali tiada menyebutkan tentang perjalanan mereka itu mempergunakan alat-alat pengangkutan di laut untuk menyeberang.

Hal itu mempertebal kepercayaan orang-orang, bahwa kedua pulau itu bekas menjadi satu daratan, sehingga memungkinkan orang-orang Bali Aga itu berjalan kaki menuju ketempat tanah-tanah yang dibukanya itu.

Menurut uraian sebuah kitab bernama “ Usana Bali ”, bahwa putusnya pulau Jawa dengan pulau Bali, disebabkan oleh kesaktian seorang Pandita bernama Mpu Sidhimantra. Pandita itu bertempat tinggal di Jawa Timur, kersahabat karib dengan seekor ular besar yang bernama “Naga Basukih" .

Naga itu berliang di desa Besakih yang terletak di kaki Gunung  Agung dan merupakan sebuah goa  besar yang dianggap suci. Karena persahabatan itu  Mpu Sidhimantra tiap-tiap bulan purnama raya, selalu datang ke Besakih mendatangi Naga Basukih dengan membawa madu, susu dan mentega, untuk sahabatnya itu.

 Mpu Sidhimantra mempunyai seorang anak laki-laki bernama Ida Manik Angkeran. Anaknya itu gemar berjudi, tidak perrnah menghiraukan nasehat ayahnya. Ida Manik Angkeran Sering kalah dalam perjudian.

Pada suatu ketika menjelang bulan purnama raya, Mpu Sidhimantra kebetulan sakit, tidak sanggup menjenguk atau menengok sahabatnya pergi ke Bali. Kesempatan itu dipergunakan oleh Ida Manik Angkeran untuk memuaskan nafsunya mencari  modal untuk berjudi.

 Sebuah Bajra kepunyaan ayahnya lalu diambilnya dengan diam-diam tanpa ijin orang tuanya, ia lalu pergi ke Bali menemui Naga Basukih sahabat ayahnya itu. Sampai di sana ia lalu duduk bersila sambil membunyikan Bajra yang dibawanya itu sehingga Naga Basukih keluar dari liangnya.

Naga Basukih bertanya alasan Ida Manik Angkeran membunyikan Bajra itu, Ida Manik Angkeran lalu menerangkan, bahwa ayahnya masih sakit oleh karena itu ia menjadi wakilnya membawa pasuguh berupa madu, susu dan mentega, yang biasa dihidangkan oleh ayahnya tiap-tiap bulan.

Pemberian Ida Manik Angkeran itu diterima oleh Naga Basukih dengan senang hati, kemudian ditanyakan kepadanya, apa yang dikehendakinya untuk bekalnya pulang kembali ke Jawa. Ida Manik Angkeran menjawab, bahwa ia tiada minta apa-apa, seraya dipersilakannya Naga Basukih supaya masuk ke  dalam goanya, sebelum ia mohon diri. 

Naga Basukih lalu masuk ke  dalam goanya, sedangkan ekornya yang begitu panjang  sebagian masih berada diluar. Ida Manik Angkeran kagum melihat sebuah batu permata besar yang melekat pada ujung ekor Naga Basukih itu, sehingga menimbulkan hasratnya  hendak mengambil  batu permata yang tiada ternilai harganya itu. 

 Terpikir olehnya, bahwa batu permata itu cukup nanti dipakainya berjudi seumur hidup. Sejenak berpikir demikian, ekor Naga Basukih itu lalu dipenggalnya batu permata itu lalu dibawanya lari.

 Akan tetapi,  baru ia sampai di hutan  “Camara Geseng”  tiba-tiba ia mati hangus terbakar, karena bekas jejak kakinya dapat dilihat oleh Naga Basukih yang sedang marah.

Mpu Sidhimantra cemas mengenangkan  nasib  anaknya sudah lama tidak pulang-pulang, sedangkan Bajra pusakanya telah hilang. Ia lalu pergi menemui Naga Basukih kemudian menanyakan keadaan anaknya yang sudah lama tidak pernah pulang.

 Naga Basukih lalu menerangkan kepada sahabatnya itu, bahwa Ida Manik Angkeran sudah mati lantaran keberaniannya memenggal ekornya yang berisi batu permata. Mpu Sidhimantra menyesali perbuatan anaknya itu, ia memohon kepada sahabatnya itu supaya dosa anaknya itu diampuninya.

Ia berjanji kepada sahabatnya itu, apabila anaknya itu dapat dihidupkan kembali, biarlah Ida Manik Angkeran selama hidupnya tinggal di Bali untuk mengabdi di Pura Besakih sebagai  “Pemangku”. Permintaan Mpu Sidhimantra kabulkan, Kemudian Ida Manik Angkeran lalu hidup kembali berkat kesaktian Naga Basukih itu.

 Maka semenjak itulah Ida Manik Angkeran disuruh oleh ayahnya supaya bertempat tinggal di Bali, tidak dibolehkan lagi pulang ke Jawa. Mpu Sidhimantra pulang kembali ke Jawa setelah anaknya hidup lagi sebagai sediakala.

Maka untuk mencegah kemungkinan  anaknya itu  akan menyusul perjalanannya, lalu digoreskanlah tongkatnya diperbatasan Jawa dan Bali, sehingga daratan pulau Bali dengan pulau Jawa menjadi putus  karenanya.

Demikianlah cerita asal mulanya Selat Bali yang disebut  “SEGARA RUPEK” . Kisah tadi merupakan sebuah penjelesan terpisahnya Pulau Bali dan Jawa, meski termasuk sebuah kisah takhayul ataupun dongeng, akan tetapi kenyataannya adalah Keturunan Ida Manik Angkeran itu disebut  “Ngurah Sidemen”  ternyata sampai kini berkewajiban menjadi  “Pemangku”  di Pura Besakih.

Itulah sejarah terpisahnya Pulau Jawa dan Pulau Bali, yang jika dilihat dari tulisan di atas, lebih bernuansa mitos dan legenda. Karena memang putusanya Jawa dan Bali hingga kini belum ada penelitian yang dilakukan hingga dapat membuktikan secara ilmiah tentang terpisahnya Pulau Jawa dan Bali, dan munculnya selat Bali.

 

Editor : Thomas Koten
Sumber : Disarikan dari Adi Parmawan Misteri dalam Nutrisi Media