• News

  • Sisi Lain

Ratapan Arwah Calon Pengantin Korban Tsunami Krakatau 1883

Ilustrasi Gunung Krakatau meletus.
Istimewa
Ilustrasi Gunung Krakatau meletus.

JAKARTA, NNC - Menikmati liburan dengan melancong ke objek wisata di Pantai Anyer, Banten, sungguh mengasyikkan. Kegiatan tersebut diharapkan mampu mengusir penat setelah sekian lama serba diburu target kerja dari kantor. Namun, apa daya jika liburan tersebut berujung sebaliknya?

Maksud hati ingin membuat pikiran disegarkan, namun justru ketakutan dan keresahan yang diperoleh. Itulah kira-kira yang dialami oleh keluarga Robert. Ia bersama istri dan satu anaknya berangkat dari Jakarta berniat berlibur di Pantai Anyer.

Ia menginap di sebuah vila yang tidak terlalu jauh dari lokasi menara Mercusuar Cikoneng, atau sering disebut juga titik nol dari Jalan Anyer-Panarukan. Ia berencana bermalam di vila tersebut selama empat hari. Namun, di hari kedua ia terpaksa kembali ke Jakarta setelah mengalami penampakan menyeramkan.

Kepada NNC, pada Jumat (22/6/2018), Robert mengisahkan pengalaman traumatik keluarganya dan berharap bisa menjadi pelajaran bagi keluarga lainnya. Ia mengingatkan agar hati-hati dalam menentukan tempat liburan keluarga.

“Tiga hari sebelum Lebaran, kami sudah sampai di vila yang kami pesan. Vila tersebut merupakan salah satu dari empat vila yang berjajar di bibir pantai dengan pemandangan laut atau Selat Sunda, menghampar di muka vila,” kata Robert memulai kisahnya.

“Namanya liburan, ya semua serba bergembira. Anak perempuan saya yang berusia 13 tahun jingkrak-jingkrak di atas kasur, menari, dan menyanyi. Musik saya bunyikan keras. Istri asyik memasak makanan,” sambung Robert. Sampai malam, kegiatan liburan mereka berjalan normal. 

Suasana gembira berubah menyeramkan. Sekitar pukul 11.30 WIB, tiba-tiba lampu vila padam. Dari dalam kamar, Robert melihat gedung dan vila lainnya tidak padam. Ia berpikir, mungkin arus listrik tidak kuat. Ia bermaksud mau mencari tombol MCB (Miniature Circuit Breaker).

Niat tersebut urung karena mendadak istrinya mengalami kejang-kejang. Disusul kemudian anaknya meraung-raung tak jelas apa sebabnya. Robert pun mengalami kepanikan. Yang ia lakukan adalah menyalakan senter dari telepon pintar yang ia pegang.

Ia berusaha mengguncang-guncang tubuh istrinya yang menggelepar di atas lantai. Tak jauh dari istrinya, anaknya jongkok berteriak-teriak sambil menutup mata.

Kegaduhan keluarga Robert yang cukup lama, membuat seorang penjaga vila datang. Ia membantu menyalakan listrik dengan menaikkan tombol MCB. Penjaga vila itu tampak sejenak tertegun melihat istri dan anak Robert.

Lelaki paruh baya yang kemudian dikenal dengan nama Asep itu kemudian berkata, “Maaf Pak, sebaiknya Bapak jangan pergi ke mana-mana, tetap temani istri dan anak Bapak. Saya akan coba cari bantuan. Sepertinya ada sesuatu yang mengganggu istri dan anak Bapak.” Lelaki itu pun pergi.

Dalam keheranan, Robert mengangkat tubuh istrinya yang masih kejang ke sofa. Selanjutnya ia angkat juga tubuh anaknya ke sofa di samping istrinya. Ia mencoba menenangkan anak perempuan semata wayangnya.

Sambil mengucapkan doa, Robert terus membelai istri dan anaknya. Kepanikannya berkurang tatkala istri dan anaknya mulai sadar. Tiba-tiba istri dan anaknya memeluk Robert dan menangis.

Sambil sesenggukan, keduanya berkata dengan nada yang sama, “Ayo kita pulang saja, Pa. Penunggu vila ini tidak berkenan terhadap kehadiran kita.” Sontak Robert menjadi bingung.

Ia berusaha tetap menenangkan istri dan anaknya. Ia ingin keluar vila dan mencari bantuan. Namun, istri dan anaknya tak mau melepaskan Robert. Mereka akhirnya berjaga hingga dini hari.

Sekitar pukul 3.30 WIB, tiba-tiba telepon di vila itu berdering. Robert berpikir, mungkin penjaga vila atau pemilik vila menelepon untuk bertanya atau ingin memberi bantuan. Saat diangkat, suatu keanehan baru terjadi lagi.

Dari gagang telepon, Robert mendengar suara perempuan berusaha menggunakan Bahasa Indonesia namun kurang fasih. Perempuan itu nampaknya mengumpat dan marah karena keluarga Robert telah mengusiknya. Karena merasa aneh, Robert segera menutup telepon tersebut.

Saat mentari dari ufuk Timur mulai menampakkan diri, Robert merasa lega. Ia melihat wajah istri dan anaknya yang tampak masih tegang. Istri Robert berkata, “Pa, ayo kita berkemas. Kita pulang saja hari ini.”  Robert masih belum mengerti apa yang terjadi.

Percakapan terputus tatkala terdengar suara pintu vila diketuk. Tampaklah Asep dan seorang perempuan tua masuk setelah pintu dibuka. Ibu tua Itu mengaku bernama Asti (64). Mereka datang, karena ingin membantu atas kejadian malam tadi.

Kepada Asti, istri dan anaknya menuturkan bahwa semalam mereka melihat penampakan yang sama. Mereka terasa dibawa pada masa dan suasana jauh, dahulu kala. Mereka melihat bentuk vila tempat mereka menginap sedikit berbeda.

Ada sejumlah orang bule sedang berkumpul di vila. Mereka mengitari sepasang pemuda dan pemudi berambut pirang. Tiba-tiba suasana menjadi kacau balau.

Dari arah laut, muncul ombak tinggi sekali. Nampak, ombak itu menghantam menara Anyer kemudian menyusul menuju vila. Semua porak-poranda. Istri dan anak Robert terasa seperti ikut terbawa ombak dan sulit bernafas.

“Pak Robert, vila ini memang dulu milik keluarga Belanda bernama Tuan Schuiit. Tanggal 28 Agustus 1883, keluarga ini sedang melangsungkan acara. Anak perempuan Tuan Schuiit dilamar seorang pemuda Belanda. Namun, acara itu berubah menjadi malapetaka,” cerita nenek Asti.

“Setelah Gunung Krakatau meletus, timbulah tsunami. Gelombang setinggi 40 meter menyapu semua yang ada di Pantai Anyer. Keluarga Schuiit tewas semua. Konon, jasad mereka tidak diketemukan,” sambung Asti.

Dalam catatan sejarah, Gunung Krakatau meletus selama tiga hari berturut-turut, yaitu 26, 27, dan 28 Agustus 1883. Letusan tersebut menimbulkan tsunami. Korban akibat letusan dan tsunami mencapai tak kurang dari 36.000 jiwa.

Nenek Asti mengaku memperoleh cerita itu melalui proses supranatural. Ia mampu menjumpai dan bercakap-cakap dengan roh-roh keluarga Schuiit. Menurutnya, roh yang sering mengganggu adalah arwah perempuan calon pengantin, anak Tuan Schuiit. Namanya, Elisabeth Schuiit.

Noni Belanda tersebut hingga kini merasa belum ikhlas dengan kenyataan hidupnya. Ia terobsesi dengan indahnya pesta pernikahan dan keluarga yang ingin dibangun. Namun, impiannya sirna akibat letusan Krakatau.

Arwahnya konon iri terhadap semua hal yang berbau mesra, gembira, dan keharmonisan suami-istri yang menginap di vila yang dulunya rumah atau tempat tinggal Keluarga Schuiit semasa masih hidup. Karena iri itulah, arwahnya sering mengganggu, seperti yang telah dialami Keluarga Robert.

Melalui penjelasan Asti, Robert mulai paham dengan apa yang telah terjadi. Hatinya menjadi tidak nyaman. Dorongan istri dan anaknya membuatnya makin yakin untuk segera kembali ke Jakarta. Malam takbiran pun akhirnya mereka nikmati bersama keluarga besar mereka di Jakarta.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?