• News

  • Sisi Lain

Hantu Kereta Kencana Keracunan Insektisida?

Ilustrasi kereta kencana.
Pinterest
Ilustrasi kereta kencana.

PURWOREJO, NNC - Mungkin para pembaca bingung. Apa hubungannya hantu kereta kencana dengan insektisida atau racun serangga? Apa hubungannya roh penunggang kereta kencana dengan hama wereng batang coklat (WBC) yang disemprot insektisida berjenis organofosfat?

Dua entitas ini dipertemukan dalam penggalan hidup penulis, yaitu sekitar tahun 1970 hingga 1980. Kala itu, roh kereta kencana yang selalu mengiringi hari-hari menjelang maghrib, tiba-tiba raib dan tidak pernah dijumpai lagi sejak adanya hama wereng coklat.

Hantu Kereta Kencana
Sebuah dukuh di Desa Condongsari, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, bernama Krajan, di situlah penulis menghabiskan masa-masa kecilnya.

Di sebelah Selatan tempat tinggal penulis, terdapat sebuah sumur keramat. Warga desa biasa menyebutnya Gondang. Artinya, pohon yang tinggi dan besar dengan daun sangat rimbun. Dalam Bahasa Sunda, Gondang diartikan pula sebagai upacara menghormati Dewi Sri atau dewi padi.

Sumur ini terbentuk secara alami. Bentuknya sangat unik, karena berada di antara akar-akar pohon kepuh atau pohon kelumpang (Sterculia foetida). Usia pohon besar itu sudah ratusan tahun.

Akar pohon kepuh membentuk formasi seperti seekor ular melingkar dengan perut seperti sedang mengandung. Tepat di tengah-tengahnya, terdapat sumber mata air yang tak pernah kering walau musim kemarau. 

Di sumur tua inilah, setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon menurut penanggalan Jawa, sejumlah orang membakar dupa. Bahkan, setiap ada hajatan nikah atau sunat, pasti ada sesaji aneka rupa yang diletakkan di samping sumur. Pengirim sesaji itu adalah sang empunya hajatan.

Perlu diketahui, pohon kepuh besar di Gondang, berdaun sangat lebat. Di sekitarnya, banyak pohon beringin dan pohon bambu yang rimbun. Tak ada kesan selain seram dan angker.

Walau demikian, saat pagi hari Gondang sangat ramai. Kicau burung jenis katik (Chalcophaps indica), sikatan (Cyornis unicolor), trucukan (Pycnonotus goiavier), bajing (Sciuridae), manyar (Ploceus manyar), dan lain-lain, saling sahut-menyahut, riuh sekali. Mereka juga mencari makan di sekitar tempat itu.

Sementara itu, sejumlah orang memanfaatkan air sumur untuk mandi dan cuci. Sebagian lainnya melakukan aktivitas buang hajat di kali kecil, di samping Gondang.

Aktivitas di Gondang pada siang hari tidak sepi. Namun jangan dikata bila tiba azan maghrib. Hingga fajar tiba, Gondang berubah menjadi tempat yang sangat menakutkan.

Saat penulis masih kecil, belum ada penerangan lampu listrik. Warga masih menggunakan pelita dari minyak kelapa atau minyak tanah. Penampakan Gondang menjadi rimba belantara, gelap gulita.

Berulang kali, saat maghrib, penulis mendengar suara kereta dan ringkikan kuda melintas dari Gondang ke arah Utara. Namun saat menjelang subuh, kembali suara kaki dan ringkikan kuda, serta kereta melintas dari Utara ke arah Gondang. Namun, setiap kali dilihat tak pernah ada wujudnya.

Kata ibu penulis, “Itulah kereta kencana milik Eyang Abdul Gofur, penunggu Gondang. Saat sore setelah maghrib Abdul Gofur bepergian dan saat subuh kembali pulang ke rumahnya di Gondang.”

Saat dewasa, penulis baru tahu bahwa Abdul Gofur dipercaya warga sebagai cikal bakal penduduk Dukuh Krajan. Konon, dahulu kala ia dikuburkan di bawah pohon kepuh yang kini menjadi sumur keramat tersebut.

Memang, penulis tak pernah berhasil melihat langsung roh Abdul Gofur dengan mengendarai kereta, kenangan akan suaranya saja yang hingga kini masih bisa diingat dengan jelas.

Penulis membayangkan, kereta Abdul Gofur sama seperti kereta kencana Kanjeng Nyai Jimat di Keraton Yogyakarta, yang konon kereta itu digunakan sebagai kendaraan Sultan Hamengkubuwana I sampai Hamengkubuwana V.

Hama Wereng dan Akibat Semprotan Insektisida Massal
Hingga penulis berumur sepuluh tahun, derap kereta kencana Abdul Gofur setia menemani. Namun suatu ketika, suara itu tak pernah terdengar lagi. Berulang kali diamati, benar-benar tak pernah terdengar lagi. Sebagian orang di dukuh itu pun bingung

Setelah diamati lebih seksama, ternyata tidak hanya suara kereta kencana yang hilang. Suara riuh sahut-menyahut aneka burung juga menghilang. Bahkan hingga kini, burung manyar, pemakan padi dan sekaligus musuh para petani, lenyap.

Baru sadar kemudian, fenomena perubahan itu ada hubungannya dengan program pemerintah dalam rangka menghadapi wereng batang coklat atau WBC. Memang, kala itu wabah wereng coklat telah merusak ribuan hektare tanaman padi di Jawa, termasuk Dukuh Krajan.

Pemerintah kemudian mengeluarkan kebijakan melakukan penyemprotan secara massal dari darat dan udara. Helikopter meraung-raung menyemprotkan insektisida. Memang, kala itu wereng mati. Namun baru diketahui kemudian, tidak hanya wereng. Banyak burung pun ikut menemui ajal.

Burung-burung di Gondang pun terkena imbasnya. Pertanyaannya, apakah insektisida itu juga merenggut atau mengusir roh Abdul Gofur? Pertanyaan itu tak mampu ditemukan jawabannya.

Namun, yang ditemukan hanyalah catatan sejarah tentang evaluasi kebijakan pemerintah dalam memerangi hama wereng. Dalam catatan Soehardjan (1972) dan Kenmore (1991) disebutkan penyemprotan wereng dengan insektisida ternyata justru membuat wereng merajalela.

Sepanjang 1970 hingga 1980, insektisida organofosfat yang sangat beracun disemprotkan dari udara ke ratusan ribu hektare lahan sawah. Produksi padi sempat meningkat, namun dibarengi pula pertumbuhan wereng sepuluh kali lipat dibanding sebelumnya.

Menurut catatan World Health Organization (WHO), sekitar 25 juta petani di negara berkembang mengalami keracunan akibat insektisida. Mereka menderita gangguan syaraf, kelainan kulit, gangguan saluran pernafasan, dan gangguan pencernaan.

Penyemprotan insektisida secara massal telah merenggut pula keragaman hayati, termasuk ragam jenis burung di kampung halaman penulis. Bisa jadi, karena itu pula, roh Abdul Gofur dan kereta kencananya memang benar-benar pindah ke tempat lain yang lebih ramah lingkungan.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro