• News

  • Sisi Lain

Satu Suro, Syahroni Setubuhi Kuburan di Gajah Mungkur

Sejumlah makam yang nampak ketika air di Waduk Gajah Mungkur mengering.
Youtube
Sejumlah makam yang nampak ketika air di Waduk Gajah Mungkur mengering.

WONOGIRI, NNC - “Semua yang saya alami malam satu Suro tahun lalu seolah nyata. Ada suasana romantis dan segalanya yang membuat saya hanyut dan tiba-tiba ditemukan warga berada di tengah kuburan di Waduk Gajah Mungkur yang telah mengering karena kemarau,” ungkap Syahroni (52).

Lelaki paruh baya, warga Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, yang hobi memancing itu, kepada NNC, Sabtu (8/9/2018), mengisahkan pengalaman misterius pada malam satu Suro 2017 lalu. Malam itu, ia sengaja memancing di Waduk Gajah Mungkur yang airnya sudah surut.

Bukan ikan yang didapat, ia malah mengalami peristiwa yang sulit diterima nalar. Setelah satu malam tidak kembali ke rumahnya, anaknya menemukan Syahroni sedang tidur memeluk sebuah nisan dengan kondisi tanpa busana. Saat dibangunkan, Syahroni mengaku sempat hilang ingatan.

Anak dan menantunya harus bersusah payah membawa pulang Syahroni ke rumah, memanggil sesepuh kampung, dan mengobatinya ke dokter. Dokter mengatakan bahwa ia mengalami dehidrasi.

Sementara menurut sesepuh desa, Syahroni nyaris dibawa oleh roh penunggu kuburan di tengah Waduk Gajah Mungkur. Pernyataan sesepuh desa ternyata senada dengan pengakuan Syahroni. Ia mengalami kejadian berbau supranatural.

Sekilas tentang Waduk Gajah Mungkur
Waduk Gajah Mungkur dibangun mulai 1976 dan mulai beroperasi pada 1982. Waduk itu terbentuk dengan membendung aliran Sungai Bengawan Solo dan dirancang sebagai salah satu flood control atau pengendali banjir.

Lokasi waduk berada sekitar enam kilometer sebelah Selatan Kota Kabupaten Wonogiri. Luas waduk sekitar 8.800 hektare atau sekitar 90 klilometer persegi. Waduk dimanfaatkan sebagai pembangkit tenaga listrik, budidaya ikan air tawar, dan sebagai objek wisata.

Saat dibangun, sebanyak 51 desa di enam kecamatan harus ditenggelamkan. Seluruh warga di semua desa itu, sebanyak 67.515 jiwa, wajib mengikuti program transmigrasi ke luar Jawa, antara lain menuju Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, dan Sumatera Selatan.

Mitos tersembunyi di Waduk Gajah Mungkur
Di balik penenggelaman 51 desa, ternyata ada satu kisah masa lalu yang ikut tenggelam dan tak pernah diungkap ke publik. Berkat kejadian aneh yang dialami Syahroni, kisah itu berhasil dikuak. Kisah itu ada hubungannya dengan makam yang dulu berada dalam wilayah Desa Pokoh Kidul, Kecamatan Wonogiri.

Makam yang dimaksud, saat musim kemarau akan tampak. Banyak batu nisan yang muncul dan terlihat utuh. Salah satu nisan itulah, pada tahun lalu, dipeluk Syahroni selama satu hari satu malam.

“Saya mulai memancing di waduk sejak sekitar pukul 19.00. Tiga jam berikutnya saya merasa ngantuk dan terlelap. Setelah terlelap, rasanya seperti nyata, tiba-tiba saya merasa seolah dibawa dalam situasi saat saya muda berumur 17 tahun,” kenang Syahroni.

Ia melanjutkan, “Saya bertemu dengan sosok perempuan muda itu, sepertinya saya sudah kenal, entah kapan tapi seperti dahulu kala, gitu. Wajahnya cantik dan mengajak saya berkeliling desa. Hingga akhirnya saya diajak menginap di rumahnya. Rasanya, kala itu tak ada orang lain.”

Syahroni mengisahkan bagaimana selanjutnya ia merasa seperti dimabuk cinta. Layaknya sejoli, dunia terasa milik mereka berdua, ke mana saja berdua, menikmati aroma malam, menikmati cahaya rembulan di desa, mendengarkan suara jangkrik, dan sebagainya.

Ia mengaku seperti lupa segalanya. Ia seperti lupa pada istri, ketiga anaknya, dan lima cucunya. Ia merasa benar-benar seperti masih lajang layaknya anak muda yang sedang berpacaran.

Sepanjang ia tak sadarkan diri, ia merasa berdua dengan perempuan yang membuatnya terasa dalam lautan asmara. Kata Syahroni, “Perempuan muda itu mengaku bernama Nita. Ia seusia dengan saya.”

Selama satu hari satu malam, Syahroni merasa seperti satu minggu bersama Nita. Hingga akhirnya, ia diajak bermalam di rumah Nita. Ia tidur karena kelelahan di samping Nita. Namun, saat ia bangun, tiba-tiba, di mukanya muncul anaknya yang tertua.

“Anak saya yang pertama menemukan saya sedang tidur memeluk batu nisan. Saya sebenarnya dalam kondisi belum benar-benar sadar. Namun, anak saya memaksa saya segera mengenakan pakaian dan memaksa pulang,” kenang Syahroni sambil tersenyum menahan malu. 

Saat sampai di rumahnya, ia baru merasa sadar sepenuhnya bahwa ia sudah menjadi seorang kakek dan memiliki banyak cucu. Namun, ia merasa benar-benar badannya terasa lemah. Berkat anak-anaknya yang membawanya ke dokter, baru kemudian tubuhnya terasa pulih.

Dari keterangan sesepuh Desa Pokoh Kidul, konon Syahroni nyaris tak terselamatkan. Ia sebenarnya sedang diincar menjadi teman arwah gadis bernama Nita. “Iya, kata Pak Haji (sesepuh desa-Red), saya akan dijadikan teman di alam baka oleh arwah gadis itu,” katanya.

Masih menurut sesepuh desa yang dituturkan kepada Syahroni, konon Nita adalah gadis Desa Pokoh Kidul yang tidak mau ikut transmigrasi bersama keluarganya ke Jambi. Ia kala itu sudah memiliki pacar dari desa lain yang tidak terdampak pembangunan waduk.

Namun, keluarganya tidak mengizinkan hubungan itu dan memaksa Nita ikut transmigrasi. Akhirnya, Nita memilih gantung diri sesaat sebelum keluarganya berangkat transmigrasi. Ia tetap dikuburkan di Desa Pokoh Kidul yang kemudian ikut ditenggelamkan.

“Nah, batu nisan yang saya peluk itu adalah batu nisan Si Nita,” kata Syahroni yang merasa seperti muda lagi setiap kali mengingat Nita.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro