• News

  • Sisi Lain

Lantunan Syahadat Terdengar dari Dalam Sumur

Luweng Grubug yang kini menjadi tempat wisata alam.
Antara
Luweng Grubug yang kini menjadi tempat wisata alam.

YOGYAKARTA, NNC - “Di sumur itu sering terdengar alunan syahadatnya orang Kristen. Saat dicari sumber suaranya, tak pernah ditemukan,” demikian kata Riyan (22), seorang pemuda yang tinggal tak jauh dari lubang sumur yang biasa disebut Luweng Grubug.

Luweng Grubug merupakan sumur alami di pegunungan karst yang terletak di Dusun Jetis, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari Kota Yogyakarta, berjarak sekitar 60 kilometer.

Menurut keterangan Riyan, selain alunan syahadat yang misterius, banyak warga lain menjumpai fenomena mistis di lokasi yang sama. Bentuknya beragam, ada yang melihat bayangan rombongan orang berwarna hitam, ada yang melihat darah memancar dari sumur, dan fenomena aneh lainnya.

“Sumur itu sangat angker. Banyak sekali jasad yang terpendam di dalamnya. Pada tahun 1982, karena ingin mengapus citra negatif tempat itu dan ingin menjadikannya sebagai objek wisaya, Pemda Yogyakarta telah membersihkan kerangka manusia sebanyak tiga truk,” ungkap Riyan.

“Bisa jadi, walaupun kerangka sudah dibersihkan, arwah dari orang yang mati di tempat itu, masih berada di situ. Karena dibunuh dan dikuburkan secara tidak layak, arwahnya mungkin sering menampakkan diri agar masyarakat tahu,” kata Riyan melanjutkan.

Berbekal informasi dari Riyan yang merupakan salah satu aktivis pemuda Gereja Katolik di kawasan Gunung Kidul, NNC diminta menemui salah satu saksi kunci terkait peristiwa di balik banyaknya arwah di Luweng Grubug. Saksi itu tinggal di satu sudut Kota Yogyakarta.

NNC berhasil menemui narasumber yang ditunjukkan Riyan tersebut. Biarpun sudah tua, namun orang ini sangat kooperatif dan tanpa takut atau malu menceritakan segala hal tentang dirinya. Orang itu biasa dipanggil warga sekitar sebagai Eyang Dwijo.

“Sampai sekarang, suara itu terus terngiang-ngiang dalam kepala saya. Saya selalu berusaha berdamai dengan arwah tersebut,” kata Dwijo (78) kepada NNC pada Sabtu (15/8/2018). Begitu berkenalan, ia memulai bercerita tentang pengalaman hidupnya.

Dwijo mempunyai nama lengkap Alfonsus Adeo Dwijo Seputro. Orang tuanya adalah campuran dari Jawa dan Ambon. Sekitar 1963, ia aktif menjadi salah satu anggota organisasi kepemudaan di Gereja Katolik di wilayah Yogyakarta.

Dwijo yang giginya sudah tidak lengkap lagi itu, menuturkan dengan lantang dan pasti, “Di tahun 2012 lalu, saya sengaja khusus mendatangi Luweng Grubug untuk berdoa dan berusaha berdamai dengan masa lalu saya. Artinya bertobat,” paparnya.

Ia telah berkonsultasi dengan sejumlah pastor (rohaniwan Katolik) yang ia percaya. Para pastor menyarankan agar Dwijo berani mendudukkan masa lalunya secara spiritual. Hal itu penting dilakukan agar psikologis dan dampaknya (dosa) tidak membebani hidupnya.

“Apapapun alasannya, membunuh adalah melanggar hukum Tuhan,” demikian kata Dwijo menirukan ucapan salah satu pastor yang membimbingnya secara spiritual. Ia mengakui, pada 1965 terlibat dalam pembasmian orang-orang yang dituduh sebagai anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pascaperistiwa Gerakan 30 September 1965 di Yogyakarta dan sekitarnya, para pemuda antikomunisme melakukan gerakan paramiliter. Dengan diarahkan tentara dari Angkatan Darat, ia ikut melakukan penangkapan dan pembunuhan dalam jumlah tak terhitung.

“Saat saya datang dan berdoa khusus di Luweng Grubug, sore itu saya benar-benar mendengar alunan seorang membacakan Syahadat Singkat Agama Katolik. Suara itu saya kenal betul dan bukan berasal dari orang yang masih hidup,” kenang Dwijo.

Ia melanjutkan, “Saya beranikan bercakap-cakap secara spiritual kepada arwah itu. Intinya, saya meminta maaf dan mengajak bersama saling menguatkan untuk mendudukkan semua persoalan terkait masa lalu, sehingga tidak saling menyerang dan menjatuhkan atau mengganggu.”

Dwijo selanjutnya menjelaskan bahwa di masa itu, ia mengaku benar-benar ikut dipengaruhi situasi zaman yang seolah hanya ada dua pilihan, “membunuh atau dibunuh”. Aktivis antikomunisme digiring untuk memerangi semua hal dan semua orang pendukung PKI.

Ia terlibat menangkap, membawa tahanan, hingga mengeksekusi pembunuhan sejumlah orang di Luweng Grubug tanpa proses pengadilan. Semua hal terkait masa lalunya, menurutnya tidak perlu ditutup-tutupi.

“Memang kenyataannya, saya begitu itu. Dan kini, setelah semua menjadi terang-benderang, saya melihat masa itu adalah masa di mana rakyat diadu secara politis demi merebut kekuasaan dan merubah arah Indonesia. Yang menjadi tumbal tetaplah rakyat kecil,” tutur Dwijo.

Ia kemudian melanjutkan pengalaman supranaturalnya dengan arwah di Luweng Grubug. “Dalam percakapannya, roh itu seolah meminta saya agar berani bersaksi dan sebisa mungkin menjernihkan masa-masa gelap di tahun 1965. Dan yang membuat saya menangis, saya diminta rajin berdoa di gereja,” kata Dwijo sambil berkaca-kaca.

Sambungnya, “Anak saya yang mendampingi saya berdoa di Luweung Grubug tak mendengar percakapan itu. Anak saya mungkin hanya melihat mata saya terpejam dengan air mata yang terus mengucur. Anak saya tidak tahu apa yang saya alami dan saya rasakan.”

Rupanya, arwah yang selalu melantunkan syahadat di Luweng Grubug adalah sosok anggota PKI yang dipenggal kepalanya oleh Dwijo. “Saya akui, arwah itu berasal dari tokoh simpatisan PKI yang bergama Katolik. Walau pendukung PKI, ia tetap seorang Kristen yang taat,” kata Dwijo dengan air mata berderai.

Sambil terbata-bata, “Sebelum saya penggal, saya minta ia membacakan syahadat. Dengan lancar, orang yang tidak saya kenal itu mengucapkan syahadat dengan lantang. Setelah ia selesai membacakan syahadat, pedang saya ayun kuat dan memisahkan kepala dari badannya.”

Sesaat, badan dan kepala yang terpisah itu masih bergerak. Selanjutnya, Kepala dan badan itu disorongkan masuk dan jatuh ke dalam lubang Luweng Grubug oleh rekan-rekan Dwijo.

Setelah itu, “Saya gemetar dan tubuh saya limbung. Pedang terlepas dari tangan dan jatuh ke lubang Luweng. Saya pingsan. Baru sadar setelah saya berada di markas bersama pemuda lainnya yang kemudian menyuruh saya agar bangkit dan semangat lagi. “Melanjutkan tugas negara,” kata Dwijo mengulang kata teman-temannya.

“Roh orang itu kemudian selalu mengganggu saya dalam rupa suara syahadat yang ia ucapkan. Suara itu sering bergema di Luweng Grubug dan juga mengikuti saya di manapun saya berada,” kata Dwijo sambil mengusap titik air di sudut matanya.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro