• News

  • Sisi Lain

Setelah Meninggal, Rita Minta Cincin Tunangannya Ditemukan

Pintu Kereta Jambudipa, Cilebut, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Youtube
Pintu Kereta Jambudipa, Cilebut, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

BOGOR, NNC - Pada dini hari sekitar pukul 1.45 WIB bunyi alarm pintu perlintasan kereta di Jambudipa Cilebut meraung-raung memecah kesunyian. Atep (48) masih berusaha mengais rezeki sebagai tukang ojek di Stasiun Cilebut, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ia tertahan karena palang pintu terlanjur sudah menghalangi jalan.

Biasanya, saat jadwal kereta terakhir, jarang ada tukang ojek. Penumpang yang membutuhkan jasa ojek sering kesulitan pulang.

“Kasihan jika ada penumpang tetapi tidak bisa pulang hanya karena tidak ada tukang ojek. Ia harus menunggu sampai subuh,” kata Atep menjelaskan niat baiknya.

Namun, dini hari itu, ia tidak jadi melanjutkan usahanya mengais rezeki. Kejadian misterius yang ia alami membuatnya tidak bisa menuju ke pangkalan ojek di Stasiun Cilebut.

“Jadi, awalnya, saat palang pintu rel menutupi jalan, saya berhenti. Tiba-tiba, ada perempuan cantik langsung menaiki jok sepeda motor saya. Saya sebenarnya heran, karena sebelumnya, tidak terlihat ada orang di sekitar pintu kereta. Lagi pula, ini sudah dini hari,” kenang Atep.

“Perempuan itu mengenakan gaun berwarna putih terang tanpa membawa tas. Saya masih ingat dengan jelas. Saat ia bilang minta diantar, aroma parfum bunga kenanga menyengat hidung saya. Tanpa ada perasaan curiga, saya pun mengiyakan, lalu saya tanyakan tujuannya ke mana,” ujarnya melanjutkan cerita.

Masih kata Atep, “Perempuan itu tidak menyebutkan lokasi yang hendak dituju. Katanya, nanti saja, sambil jalan akan ditunjukkan.” Tanpa banyak bertanya, Atep pun segera melajukan sepeda motornya setelah KRL melintasi pintu kereta Jambudipa.

Setelah menyeberangi rel kereta, Atep merasakan suatu keanehan. Di sekelilingnya, tiba-tiba menjadi gelap gulita. Seolah-olah listrik padam dan hanya lampu sepeda motornya yang menyala.

“Saya sempat bilang ke perempuan itu bahwa listrik padam. Namun, hanya dijawab, ‘Iya Bang, hati-hati.’ Tak ada komentar lain,” katanya.

Atep tetap melajukan sepeda motor. Dalam hati ia berkata, “Saya itu kelahiran daerah Cilebut, Bogor. Sejak kecil hingga tua, selalu tinggal di sini. Namun, saat menyusuri jalan yang diarahkan perempuan itu, saya merasa asing dan tidak mengenal daerah itu,” tutur Atep.

Walaupun dalam hati penasaran, Atep tidak menanyakan kepada perempuan itu. “Saya malu, masak tukang ojek daerah sini mengaku tidak kenal daerah sendiri. Walaupun sesungguhnya, saya benar-benar tidak tahu. Namun, karena penumpang saya adalah seorang perempuan, saya tidak takut,” ujarnya.

Sekitar setengah jam perjalanan, perempuan itu kemudian meminta berhenti, tepat di depan halaman sebuah rumah cukup megah dan tampak gelap. Atep sengaja tetap membiarkan sepeda motornya menyala agar lampunya memberikan penerangan ke arah rumah itu. Atep berusaha mengenali tempat itu, tetapi tak berhasil.

“Perempuan itu kemudian meminta saya agar menunggu sebentar. Ia masuk ke rumah. Saat kembali lagi, saya amati wajah cantiknya dengan lebih seksama. Mukanya agak pucat. Ia kemudian menyodorkan uang Rp100 ribu dan sebuah surat,” tutur Atep.

Atep menerimanya sambil mengatakan bahwa ia tidak mempunyai uang kembalian. “Perempuan itu tidak minta uang kembalian, namun minta tolong agar saya mengantarkan surat yang ia berikan, sesuai alamat yang tertera di amplop. Saya menyanggupi,” ujarnya.

Atep memasukkan uang dan amplop ke dalam jaketnya, sementara perempuan itu masuk menuju ke rumahnya. Tiba-tiba keanehan terjadi lagi.

“Dalam sekali kedipan mata, saya melihat lampu jalan dan rumah-rumah di sekitar saya berada kembali menyala. Sekali lagi, saya benar-benar kaget,” kata Atep dengan mimik serius.

Kini, Atep bisa mengenali kembali di mana ia berada. Ia heran, mengapa masih tetap berada di samping pintu kereta Jambudipa, Cilebut. Bukankah tadi sudah pergi meninggalkan lokasi itu?

Belum selesai kagetnya, pundak Atep ditepuk oleh seseorang dari belakang. Penjaga pintu kereta sengaja menegur Atep, karena menurutnya sejak tadi Atep hanya diam saja di atas motor. Padahal, kereta sudah melintas. Atep pun bertambah bingung.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada penjaga pintu kereta, Atep akhirnya memilih berbalik arah dan pulang ke rumah. Ia tidak jadi mencari penumpang di Stasiun Cilebut. Hatinya terlanjur tidak enak dengan perasaan yang campur aduk.

Di atas sepeda motor, ia meraba saku jaketnya. Sekali lagi Atep bingung, di sakunya ada sesuatu. Ia kemudian menghentikan laju sepeda motornya. Ia keluarkan isi sakunya. Di tangannya benar-benar ada surat dan uang Rp100 ribu. Atep sekali lagi menatapnya penuh selidik. Semua nyata dan ia bukan sedang bermimpi.

Pagi hari pun tiba. Hari telah terang-benderang. Setelah mandi, Atep memutuskan mencari alamat yang tertera di dalam amplop. Tertulis nama “Hendarto, Perumahan *** Blok B No 18, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor”.

Sekitar pukul 10.00 WIB Atep sampai di depan rumah mewah sesuai alamat dalam amplop putih itu. Ia ketuk rumah sambil memberi salam. Pintu dibuka. Dari dalam keluar seorang perempuan berusia sekitar 60 tahun. Atep segera menyampaikan maksud kedatangannya. Ia disambut baik.

Atep dipersilakan masuk ke ruang tamu yang semua serba tertata dengan rapi, sebanding dengan rumahnya yang megah. Atep pun duduk sambil menunggu jawaban teka-teki yang sejak tadi malam mengganggu pikirannya.

Setelah berbasa-basi sana-sini, Atep mulai menemukan potongan-potongan jawaban yang ia nantikan. Laksana permainan puzzle, ia akhirnya berhasil merakit seluruh kisah secara utuh.

Rupanya, penumpang misterius pada malam itu adalah sosok perempuan yang telah meninggal pada tahun 2005. Namanya Rita. Sebelum meninggal, Rita bertunangan dengan Hendarto. 

Menurut ibu tua di rumah itu, yang tak lain adalah ibu kandung dari Hendarto, kejadian yang dialami Atep bukanlah kejadian yang pertama kali. Sebelumnya pernah terjadi. Seorang tukang ojek yang melintas pintu kereta Jambudipa, diminta sesosok perempuan misterius menyampaikan surat kepada anaknya, Hendarto.

Pesan dalam surat itu selalu sama. Kata ibu Hendarto seperti ditirukan oleh Atep, “Rita meminta Hendarto agar mencari dan menemukan cincin tunangannya yang hilang.”

Pada tahun 2005, sebulan sebelum pernikahan dengan Hendarto, Rita yang sedang mengendarai sepeda motor seorang diri, lalu mengalami kecelakaan di pintu kereta Jambudipa, Cilebut. Saat akan melintasi rel, sepeda motornya terseret kereta. Rita terjatuh dan mengalami luka cukup parah.

Dalam kecelakaan itu, cincin tunangan yang ia kenakan hilang. Entah jatuh saat kecelakaan atau sengaja diambil orang tak bertanggung jawab saat ia tak sadarkan diri. Rita sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Setelah meninggal, sejumlah orang mengaku menjumpai arwah Rita yang terus berusaha mengirim pesan agar Hendarto mencari cincin tunangannya. Hendarto dan keluarganya sempat tidak percaya dengan fenomena aneh itu. Sampai akhirnya, muncul beberapa kali kejadian seperti yang dialami oleh Atep, barulah Hendarto percaya.

Hendarto baru sadar, semua fenomena mistis itu merupakan pertanda bahwa Rita, calon istrinya, benar-benar sangat mencintai Hendarto. Hendarto pun merasa sangat kehilangan. Ia juga sempat berusaha mencari keberadaan cincin tunangan yang diminta arwah Rita, namun tidak pernah berhasil.

Menurut cerita ibu dari Hendarto kepada Atep, rencananya, Hendarto akan memberikan cincin tunangan yang baru ke dalam kuburan Rita. Namun, niat itu belum terlaksana karena kesibukan Hendarto yang masih harus bolak-balik ke luar negeri, mengurus pekerjaannya.

Kepada Atep, ibu Hendarto mangatakan niatnya untuk memberikan cincin tunangan yang baru secepatnya. Mungkin dengan cara itu, arwah Rita bisa segera tenang.  

“Saya tidak tahu kisah selanjutnya. Apakah Hendarto kemudian benar-benar mewujudkan niatnya. Lagipula, saya tidak pernah didatangi sosok Rita lagi. Beberapa bulan lalu, saya mampir ke rumah Hendarto, ternyata mereka sudah pindah ke Manado,” papar Atep.

Penulis : Taat Ujianto
Editor : Y.C Kurniantoro

Apa Reaksi Anda?