• News

  • Sisi Lain

Misteri Keangkeran Segitiga Bogor, Pesawat Sebaiknya Dilarang Melintas

Pemandangan Gunung Salak dari kejauhan
kaskus
Pemandangan Gunung Salak dari kejauhan

BOGOR, NNC - Menurut cerita masyarakat Sunda, di daerah sekitar Halimun, Bogor, Jawa Barat,  terdapat benteng yang tidak terlihat.

Benteng ini diyakini dibangun Prabu Siliwangi dan menandai keberadaan kerajaan Pajajaran saat masih menguasai tanah Pasundan. Lokasinya berada di daerah Gunung Salak.

Dalam catatan Pieter Scipio, lelaki asal Belanda yang melakukan ekspedisi pada tahun 1687, ia  mengaku menemukan ratusan macan gembong atau harimau yang bertempat tinggal di bangunan dekat Kebun Raya bogor. Ia juga menemukan rawa yang isinya Badak di daerah Sawangan.

Selain catatan tersebut, juga terdapat catatan berbau mistis tentang keberadaan Segitiga Bogor.

Segitiga Bogor yang dimaksud adalah daerah di antara tiga gunung yaitu Gunung Halimun, Gunung Salak dan Gunung Gede Pangrango. Daerah ini terkenal angker karena memiliki aura mistis yang sangat kuat.

Kekuatan itu bisa mengganggu pesawat yang melintasi daerah tersebut. Maka tak mengherankan bila sering kali terjadi peristiwa kecalakaan pesawat di daerah Segitiga Gunung Halimun, Gunung Salak, Gunung Gede.

Konon, sumber energi gaib di Segitiga Bogor di atas adalah Istana Cipanas. Tepatnya adalah tempat yang menjadi lokasi Bung Karno dahulu selalu bermeditasi dan kini biasa disebut sebagai Gedung Bentol.

Di belakang gedung Bentol terdapat sumber air panas. Masyarakat meyakini tempat ini sesungguhnya dahulu menjadi tempat penting bagi Prabu Siliwangi. Di situ pula kisah Puteri Dyah Pitaloka dimulai.

Puteri Dyah Pitaloka dikenal sebagai putri yang kecantikannya seperti bidadari.  Karena kecantikan Puteri Dyah Pitaloka itulah menyebabkan setiap gadis-gadis di tanah Pasundan juga memiliki kecantikan yang diwarisi hingga kini.

Keberadaan Kerajaan Pajajaran sering dikaitkan juga dengan kisah tentang rahasia ”Wahyu Nusantara”. Yang dimaksud Wahyu Nusantara adalah daerah Bandung, Sumedang dan Cianjur.

Wahyu Nusantara ingin dikuasai oleh Mahapatih Gadjah Mada dari Majapahit. Akan tetapi, penguasaan wahyu Nusantara kemudian justru melahirkan konflik dengan Prabu Hayam Wuruk.

Menurut Hayam Wuruk, wahyu itu akan dapat dikuasai jika ia bisa menikahi puteri Raja Pajajaran. Cara lainnya adalah dengan menaklukan kerajaan Padjajaran dan membangun Kerajaan Majapahit Barat di Pakuan.

Mengenai Wahyu Nusantara, ada sebagian orang mengaitkannya dengan kisah Bung Karno menikahi putri Bandung yang bernama Inggit Gunarso. Konon, Inggit Gunarso adalah keturunan Raja Siliwangi. Dengan menikahinya, maka Soekarno bisa mendapatkan Wahyu Nusantara.

Wahyu Nusantara diyakini masih bersemayam di tubuh Inggit Garnasih. Oleh karena itulah Bung Karno bisa menguasai Indonesia.

Sementara dalam catatan sejarah, Bandung merupakan kota terakhir Prabu Linggabuana menyucikan diri. Lokasi secara persisnya adalah di danau Bandung.

Ia menyucikan diri sebelum ia memutuskan untuk berangkat ke Majapahit. Namun saat tiba di Pesanggrahan Bubat, datanglah pasukan Gadjah Mada.

Kemudian terjadilah perang dan pembunuhan besar-besaran terhadap rombongan Padjajaran. Peristiwa ini sering disebut sebagai Perang Bubat.

Konon laskar Pajajaran yang selamat dari serangan pasukan Mahapatih Gadjah Mada melarikan diri ke arah Gunung Salak dan ke Gunung Halimun. Di tempat itu mereka lolos dari pengejaran. Bisa jadi, karena keangkeran daerah itu membuat mereka tidak bisa diendus oleh pasukan Majapahit.

Hingga saat ini, daerah segitiga Gunung Salak, Gunung Halimun, dan Gunung Gede dipercaya menjadi tempat sakral yang bisa menyebabkan pesawat hilang kendali dan terjatuh di tempat tersebut.

Jatuhnya Pesawat Sukhoi Superjet 100 beberapa waktu lalu, dipercaya sebagian masyarakat Sunda adalah salah satu bukti keberadaan misteri zona Segitiga Bogor.  

Daerah atau zona segitiga dihasilkan dengan menarik garis lurus di antara Gunung Halimun, Gunung Salak, dan Gunung Gede

Terlepas benar tidaknya mitos tersebut, yang pasti dalam catatan sejarah kelam penerbangan di Indonesia, setidaknya sudah terjadi delapan kali kecelakaan pesawat di daerah segitiga tersebut.

1.  Pada tahun 1966, helikopter yang ditumpangi Laksamana RE Martadinata jatuh, sampai sekarang penyebabnya tidak diketahui. 

2. Pada 10 Oktober 2002, Pesawat Trike bermesin PKS 098 jatuh di Lido, Bogor. Dalam kecelakaan ini, satu orang tewas.

3.  Pada 29 Oktober 2003, Helikopter Sikorsky S-58T Twinpac TNI AU jatuh di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Korban meliputi tujuh orang tewas.

4.  Pada 15 April 2004, Pesawat Paralayang Red Baron GT 500 milik Lido Aero Sport jatuh di Desa Wates Jaya, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Korban meliputi dua orang tewas.

5. Pada 20 Juni 2004, Pesawat Cessna 185 Skywagon jatuh di Danau Lido, di Cijeruk, Bogor. Lima orang tewas dalam kecelakaan ini.

6.  Pada Juni 2008, Pesawat Casa 212 TNI AU jatuh di Gunung Salak di ketinggian 4.200 kaki dari permukaan laut. Korban dalam kecelakaan ini mencapai 18 orang tewas.

7.  Pada 30 April 2009, pesawat latih Donner milik Pusat Pelatihan Penerbangan Curug jatuh di Kampung Cibunar, Desa Tenjo, Kecamatan Tenjo, Kabupaten Bogor. Kecelakaan mengakibatkan tiga orang tewas.

8.  Pada 09 Mei 2102, Sukhoi Superjet 100 jatuh di Desa Cipelang Kecamatan Cijeruk. Kecelakaan mengakibatkan 47 orang tewas.

Nah, itulah misteri di balik Segitiga Bogor. Alam memang menyimpan misteri yang kadang tidak bisa dinalar dengan logika dan akal sehat manusia.

 

Penulis : Thomas Koten
Editor : Taat Ujianto
Sumber : Disarikan dari berbagai sumber