• News

  • Sisi Lain

Pengantin Meninggal di Malam Pertama Akibat Kutukan Roh Halus

Perayaan perikahan menurut adat Jawa tempo dulu
istimewa
Perayaan perikahan menurut adat Jawa tempo dulu

BOGOR, NNC - “Kaum muda dari Suku Jawa yang ingin menikah, sebaiknya tidak menyepelekan tradisi dan adat mereka. Tak ada ruginya diikuti. Dan bila tidak dipenuhi bisa mendatangkan celaka,” kata Bingah.  

Wanita yang telah menjanda akibat ditinggal mati suaminya beberapa tahun silam hingga kini masih tinggal di sebuah desa di pinggiran kota Magelang, Jawa Tengah. Walau usianya sudah mencapai 76 tahun, namun fisiknya masih cukup kuat memimpin ritual pernikahan adat Jawa.

Selama hidupnya, ia menggeluti profesi itu. Maka tak heran bila sebagian orang memanggilnya Mbah Bingah atau “Mbah Dukun”.

Dan beruntung, pada Sabtu (2/2/2019), saat Bingah berkunjung ke salah satu anaknya yang tinggal di Bogor, NNC bisa mengobrol panjang lebar mengenai pengalaman hidupnya. Obrolan tersebut terutama membahas tentang pernikahan adat Jawa.

Di manapun, pernikahan adalah peristiwa penting yang selalu dinantikan oleh semua orang. Pada umumnya, calon pengantin akan mempersiapkan peristiwa itu dengan sebaik-baiknya agar rumah tangga yang dibina bisa menjadi keluarga bahagia, sejahtera, dan sakinah.

“Ritual pernikahan adat Jawa sebenarnya adalah wujud dari permohonan berkah, permohonan restu orang tua, permohonan doa kepada sanak saudara. Dan jangan lupa, juga untuk memohon restu kepada para leluhur yang sudah meninggal,” tutur Bingah.

Ia menambahkan, “Dengan restu dari semua pihak, akan melahirkan energi untuk membentengi suami-istri dari kekuatan jahat. Dan salah satu roh halus yang biasanya mengganggu pengantin dalam kepercayaan orang Jawa namanya hantu anja-anja.”

Dari asal katanya, “anja-anja” berarti “laba-laba”.  Namun demikian, hantu anja-anja tidak berwujud laba-laba. Tetapi perilaku dan model serangannya bisa dianalogikan seperti laba-laba.

Dalam mitologi Jawa, hantu anja-anja merupakan roh halus yang membawa kutukan bagi para pengantin yang tak memiliki benteng pertahanan. Konon roh ini akan menyerang pengantin saat malam pertama, atau saat melakukan hubungan intim.

Roh anja-anja menyerang pengantin saat berhubungan intim. Biasanya, menyerang pihak pengantin wanita. Menurut Bingah, “Tanda seorang pengantin menjadi korban anja-anja, saat meninggal tubuhnya berubah menjadi kebiruan. Tubuhnya seperti keracunan binatang berbisa atau sama seperti akibat kematian mendadak.”

Mengapa bisa demikian? “Hantu anja-anja akan menyerang pasangan pengantin yang melalaikan ritual adat,” jawab Bingah.

Seperti disinggung di awal, pasangan pengantin yang tidak melakukan ritual adat maka tidak memperoleh “energi” yang bisa membentengi dari segala kekuatan jahat.

Di zaman sekarang, keberadaan mitologi hantu anja-anja tenggelam dengan peristiwa hingar-bingar dunia modern. Walau begitu, mengenai ritual pernikahan adat, pada umumnya, orang Jawa tidak melupakannya.

Pertanyaannya, di zaman sekarang, masih adakah pengantin yang menjadi korban hantu anja-anja? Sepertinya jarang terdengar.

Namun menurut Bingah, dahulu kala peristiwa pengantin mati mendadak di malam pertama sangat sering terjadi. Oleh sebab itu, para leluhur orang Jawa selalu mengingatkan kepada setiap generasi muda agar jangan sekali-kali melupakan tradisi dan adat.

“Saat saya masih kecil, di daerah Magelang, masih sering terjadi, pengantin meninggal mendadak di malam pertama. Saya pernah menjumpai. Kala itu, usia pengantin perempuan yang meninggal masih berumur sembilan tahun,” kata Bingah.

Hingga awal abad  ke-20, pernikahan di bawah umur di Jawa, memang masih sering terjadi. Pernikahan seperti itu (di bawah umur) sebenarnya tidak hanya terancam hantu anja-anja.

Pernikahan di bawah umur secara ilmu kedokteran juga membahayakan keselamatan calon pengantin, khususnya pihak pengantin perempuan. Organ reproduksinya belumlah matang.

“Pengantin yang meninggal itu adalah teman saya bermain. Ia mati dengan tubuh membiru. Ia meninggal mendadak setelah perayaan nikah yang kala itu tidak dihadiri dan tidak direstui oleh sang Ibu,” kenang Bingah.

Dan saat Bingah ditanya umur berapa saat menikah, Bingah menjawabnya dengan tersipu malu, “Saya menikah tiga tahun kemudian. Ya maklum, di zaman itu, sangat malu kalau disebut perawan tua.”

Editor : Taat Ujianto