• News

  • Sisi Lain

Menyeramkan, Rumah yang Dikontrak Ika Ternyata Istananya Dedemit

Ilustrasi rumah kontrakan angker di Cakung, Jakarta Timur
istimewa
Ilustrasi rumah kontrakan angker di Cakung, Jakarta Timur

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - “Hanya sebulan kami bertahan. Terlalu banyak kejadian mistis yang menghantui keluarga kami,” papar Ika (43) mengisahkan pengalamannya mengontrak sebuah rumah di daerah Kelurahan Pulo Gebang, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

Bersama suaminya, Ibu beranak dua itu tanpa ragu menceritakan pengalaman buruk yang dialami keluarganya sekitar lima tahun lalu kepada netralnews.com pada hari Senin (25/3/2019) di kediamannya.   

Saat memutuskan mengambil kontrakan, ia dan suaminya sebenarnya tak ada sebersit pun prasangka bahwa ada sesuatu yang ganjil dengan rumah itu walaupun sesuatu yang ganjil sudah muncul dari awal.

Dari sekian banyak rumah yang dikontrakkan, hanya rumah itu yang paling murah. Padahal, ukurannya cukup luas dan memiliki dua kamar, lengkap dengan kamar tamu, ruang keluarga, dan ruang dapur.

Di samping rumah yang berpagar besi itu, juga terdapat satu rumah kontrakan, tetapi sudah diisi sebulan sebelum mereka. Tetangga kontrakan itu adalah keluarga yang berasal dari Solo, Jawa Tengah.

Di suatu pagi, Ika berkunjung untuk mengenalkan diri kepada tetangganya. Ika sadar, sebagai pendatang baru wajib bertegur-sapa  dengan warga terdekat. Dalam keadaan tertentu, tetangga adalah keluarga terdekat yang bisa membantu.

Setelah basa-basi dan ngobrol sana-sini, Ika tercenung karena tiba-tiba, ibu pengontrak rumah di sampingnya mengeluh dengan kondisi rumah kontrakan. Keluhannya bukan karena fasilitas rumahnya, namun setiap malam keluarga itu diganggu penampakan dan suara misterius.

Konon kalau malam ada suara-suara orang seperti sedang memasak di dapur. Ketika didatangi, tak ada siapa-siapa. Kadang juga ada suara teriakan, tangisan, suara orang bertengkar, dan sebagainya.

Dan yang membuat keluarga itu tidak betah, anak mereka yang masih batita, setiap malam menangis seperti digoda seseorang, padahal tidak ada siapapun selain ibu dan bapaknya.

Anak itu berhenti menangis jika dibawa keluar rumah. Namun setiap dibawa masuk ke kamar untuk ditidurkan, kembali menangis dan meronta-ronta.

Ika sempat berusaha menghibur agar semua itu dibawa dalam doa. Semoga dengan kekuatan doa, semua hal aneh tidak muncul lagi. Ia pun pulang membawa bibit pertanyaan mistis di hatinya. Jangan-jangan benar yang dikatakan tetangganya.

Ika sempat menceritakan hal itu kepada suaminya yang terkenal serba berpikir logis. Dan tanggapan suaminya sudah bisa diduga. “Ngapain dipikirin? Mending mikirin suamimu yang pulang kelaparan tapi belum ada makanan di rumah,” kata Ika  menirukan protes suaminya.

Dua minggu berlalu. Tiidak ada hal aneh di rumah kontrakan Ika. Maka, ia kemudian ingin bertamu ke tetangga kontrakannya lagi. Namun Ika terkejut. Ia melihat tetangganya sedang membenahi seluruh perabotan dan barang di rumah itu.

Ternyata, tetangga kontrakannya memutuskan akan pindah ke kontrakan baru yang berada sekitar dua kilometer dari  tempat itu. Saat ditanya mengapa pindah, mereka menjawab, “Selama sebulan kami mencoba bertahan, tetapi gangguan aneh tidak hilang juga,” kata Ika menirukan ibu tetangga kontrakannya.

Konon, tetangganya sudah sempat mendatangi paranormal. Katanya di rumah itu terlalu banyak makhluk halusnya.

Sang paranormal mengaku tak sanggup kalau harus memindahkan roh halus itu sebab di sekitar rumah itu, memang merupakan kerajaan dedemit atau hantu yang suka mengganggu manusia.

Dahulu, di rumah itu ada dua pohon beringin kembar yang sangat besar. Pohon itu ditebang oleh pemilik lahan karena akan dibangun rumah kontrakan. Padahal, pohon itu memang menjadi istana para dedemit.  

Setelah pohon dirobohkan dan berdiri dua rumah kontrakan, ternyata para makhluk halus itu tidak mau pergi. Mereka malah menghuni di kedua rumah kontrakan yang baru dibangun itu (termasuk rumah yang dikontrak Ika).

Singkat cerita, sang paranormal menyarakan agar tetangga Ika itu pindah ke kontrakan lain. Bila memaksakan diri tinggal di kontrakan itu, bisa jadi akan membawa malapetaka. Setidak-tidaknya penghuninya bisa mengalami gangguan jiwa.

Dan tetangga Ika itu benar-benar pindah meninggalkan Ika dan membiarkan rumah kontrakannya kosong. Kini Ika tidak memiliki tetangga kontrakan. Ia harus memulai bergaul dengan tetangga lainnya, yang jaraknya lebih jauh dari kontrakannya.

Ketika kejadian itu diceritakan ke suaminya, kembali jawaban suaminya meminta agar Ika tidak usah menghiraukan semua yang dialami tetangganya.

Namun, pada minggu ketiga, sikap suaminya berubah 180 derajat.

Suaminya yang terkenal sangat rasional, di suatu tengah malam berubah karena menyaksikan kejadian menyeramkan.

“Jadi, di rumah kontrakan sebelah yang sudah kosong itu, mendadak terang benderang dan ada suara ramai seperti orang berpesta, lengkap dengan iringan musik. Musiknya berubah-ubah. Kadang seperti gamelan, lalu berubah menjadi musik melayu (dangdut, red), keroncong, bahkan musik klasik,” lanjut Ika.

Karena penasaran dan merasa terusik, suami Ika kemudian mendatangi kontrakan sebelah untuk menegur agar jangan membunyikan musik keras-keras karena sudah tengah malam.

Namun betapa kaget suami Ika. Saat ia akan mengetuk rumah itu, ia melihat dari kaca jendela yang dilapisi horden tipis, terlihat sosok-sosok aneh. Ada perempuan berbaju putih dan berambut panjang, ada sosok berbadan dengan wajah merah, ada sosok menyerupai pocong, dan sebagainya.

Namun, ujung tangan suami Ika terlanjur mengetuk pintu rumah itu. Dan ketika ketukan pintu berbunyi, “Tiba-tiba rumah itu mendadak menjadi gelap gulita. Suami saya sangat terkejut,” sambung Ika.

Suami Ika sempat berusaha menenangkan dan memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Namun rumah itu memang benar-benar kosong, tak berpenghuni. Sekring lampu ia cek dan dalam kondisi nyala (on). Saklar lampu depan rumah itu ia tekan, namun bohlam lampu tidak mau menyala.

Karena takut, suaminya memutuskan kembali ke ke teras kontrakan yang berjarak sekitar 15 meter. Ia kembali terkejut saat tiba di teras yang dituju. Tape recorder di ruang tamu tiba-tiba menyala, memutar musik melayu yang mendayu-dayu, padahal suami Ika tidak menyalakan alat elektronik itu.

Keanehan baru muncul lagi. Dari arah dapur terdengar suara seperti orang melemparkan piring dan alat perabotan memasak. Suami Ika segera berlari ke dapur setelah mematikan tape recorder yang menyala tiba-tiba itu.

Di dapur ia tak mendapatkan suatu apa pun. Tak ada alat dapur yang terjatuh. Tak ada tikus. Tak ada hewan lain yang bisa menyebabkan suatu barang terjatuh.

Suami Ika segera menuju ke kamar menemui Ika. Di saat itulah, Ika melihat suaminya yang super rasional ternyata bisa berubah menjadi percaya pada sesuatu yang bersifat supranatural.

“Puncaknya terjadi tiga hari berikutnya. Anak kedua saya yang masih berumur lima bulan, pada dini hari mendadak belingsatan lalu menangis seperti sedang dikelitiki orang. Padahal saya, suami saya, dan anak saya yang besar sedang tertidur dan terbangun karenanya. Tak ada orang lain,” jelas Ika.

Karena tidak mau tenang dan terus menangis dan meronta, anak itu digendong suami Ika dan dibawa ke teras rumah. Saat di luar, anak itu berhenti menangis. Ketika dibawa masuk, anak itu kembali belingsatan dan malah menangis kencang membangunkan kakaknya.

“Kepanikan menjadi-jadi karena kemudian listrik rumah padam. Disusul suara hujan deras yang kala itu mengguyur kota Jakarta. Lalu, di dalam rumah muncul cahaya-cahaya aneh seperti kilat tetapi hanya terjadi di dalam rumah kontrakan kami. Sementara di luar gelap gulita tanpa ada kilat dan petir,” sambung Ika.

Suami Ika kemudian mengajak Ika berdoa. Anak tertua mereka yang menangis dengan wajah bingung dipeluk suami Ika. Sementara anaknya yang kecil berada dalam dekapan Ika.

Dipimpin suami Ika, mereka yang  merupakan keluarga Nasrani mengucapkan doa “Bapa Kami” untuk berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.

Lalu listrik tiba-tiba kembali menyala. Disusul suara gema Azan Subuh. Walau di luar masih terdengar suara hujan, namun Ika dan suaminya lega. Perlahan, anak-anak mereka berhenti menangis.

Hari pagi tiba. Ika dan suaminya sudah matang. Mereka memutuskan untuk pindah kontrakan. Suami Ika akhirnya harus mengakui bahwa memang di rumah itu ada sesuatu yang tidak beres.

“Bila kami ngotot bertahan, kami khawatir justru  muncul kejadian yang lebih parah. Kami harus mengakui apa yang telah diceritakan oleh tetangga kami, yang sudah pindah lebih dulu. Cukuplah kami tinggal sebulan di istana dedemit itu,” kata Ika yang dipertegas dengan anggukan setuju suaminya.

Editor : Taat Ujianto