• News

  • Sisi Lain

Veronika Tak Menyangka Kecantikannya Dianggap Menyaingi Kuntilanak

Salah satu titik rawan (angker) di desa Siberuk, Kecamatan Tulis, Kebupaten Batang, Jawa Tengah
foto: majulahsiberuk
Salah satu titik rawan (angker) di desa Siberuk, Kecamatan Tulis, Kebupaten Batang, Jawa Tengah

BATANG, NETRALNEWS.COM - Ada yang berpendapat bahwa “cantik itu luka”. Dan itulah yang dirasakan oleh Veronika (22), mahasiswi semester delapan fakultas ilmu budaya di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah.

Ia biasa dipanggil Vero. Dan ia mengaku tak pernah meminta dilahirkan dengan paras rupawan.

“Dari lahir saya, ya ditakdirkan begini. Orang selalu bilang saya cantik. Sementara saya tak pernah serius menganggap diri saya cantik, karena saya juga tidak pernah meminta lahir harus menjadi perempuan cantik,” kata Vero berusaha rendah hati.

Ia mengaku baru benar-benar paham apa yang dimaksud cantik, setelah orang tuanya memberi tahu agar kelak sesudah dewasa harus bisa jaga diri, tidak boleh sombong hanya karena cantik, dan tidak boleh meraih kesuksesan hanya dengan modal tubuh yang cantik.

“Sebenarnya saya capek hati, karena sejak kecil sudah terlalu banyak larangan, harus gini, harus gitu, gara-gara saya dikatakan perempuan cantik,” keluh Vero dengan mulut monyongnya menahan sebal.

Di satu sisi, Vero bersyukur dengan karunia yang diberikan Tuhan kepadanya. Karena parasnya yang elok, ia selalu mudah mengundang perhatian. Dan saat kuliah pun, ia dengan mudah mendapatkan banyak teman, baik mahasiswa maupun mahasiswi.

Ia mengaku tidak pilih-pilih teman dalam pergaulan. Dan memang, saat netralnews.com berbincang-bincang dengannya saat berlibur di Jakarta pada Sabtu (20/4/2019), terasa bahwa ia memang seorang pemudi yang pemberani tetapi santun, lincah, dan tegas. Tak ada kesan ganjen atau kegenitan.

Vero ternyata suka dengan pepatah “cantik itu luka”. Katanya, “Kalau mengingat pepatah itu, saya jadi selalu berhati-hati agar tidak mengakibatkan ‘luka baru’ dan fatal bagi hidup saya maupun orang lain.”

Ia berpendapat bahwa kecantikan bisa mengakibatkan luka (melukai) bagi orang lain. Menurut pemahaman Vero, “Ya, bisa membuat perempuan lain iri. Bila dekat lelaki yang sudah punya pacar, bisa mengundang cemburu. Dan untuk kaum pria, menyita perhatian. Kira-kira begitulah!”

Mungkin karena itulah Vero berusaha selalu menjaga sikap. Jangan sampai karena ulahnya kemudian menimbulkan masalah yang tidak perlu.

“Ya, itu tadi. Singkatnya, cantik itu luka,” tegas Vero.

Sebagai perempuan milenial, Vero tidak mau hidup hanya bermodal paras cantik. Ia ingin memiliki banyak keahlian dan ilmu pengetahuan yang bisa digunakan untuk berkarya di masyarakat.

“Malu, dong sama Kartini,” masih menurut Vero. “Cita-cita Kartini ingin menjadikan kaum perempuan berdikari, bermartabat, setara dengan kaum laki-laki dalam meraih prestasi di segala bidang. Masak saya hanya lulus SMA, lalu nikah,” kata Vero sambil tersenyum simpul.

Namun, dari sekian masalah akibat kodrat kecantikan yang ia terima sejak lahir, ternyata Vero pernah mengalami satu pengalaman mistis dan membuatnya kerepotan.

“Masalah disiuli lelaki iseng, masalah lelaki yang mendadak baik sekali kepada saya namun tidak terlalu saya tanggapi, sudah biasa buat saya. Namun, yang pernah membuat saya heran, mengapa kecantikan saya dikatakan menyaingi roh halus,” kata Vero dengan mimik serius dan mengejutkan.

Rupanya, ia memiliki pengalaman kurang mengenakkan ketika ia sedang melakukan survey lokasi yang akan dijadikan sebagai tempat praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN). Karena tugas wajib mahasiswa dari kampusnya, menghantarkannya mengenal dinamika kehidupan pedesaan di Jawa Tengah.

Tahun 2016, Vero mengaku pernah menyusuri Desa Siberuk, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Dari sekian alternatif desa yang akan dijadikan tempat KKN, Desa Siberuk dipilih kelompoknya karena memiliki beberapa potensi yang sesuai dengan kajian yang dibutuhkan.  

Namun, di luar persoalan survey lapangan, tak disangka, Veronika harus menghadapi masalah yang sulit diterima akal sehat. Tim survey yang terdiri dari lima mahasiswa termasuk Vero, mendadak dibuat panik dan ketakutan.   

“Teman saya satu tim, mendadak mengamuk tanpa sebab. Ia menjambak-jambak rambutnya sendiri, menggeram, matanya berbalik putih, dan menuding-nudingkan telunjukknya ke arah saya,” kenang Vero atas pengalaman setahun silam.

Peristiwa aneh itu terjadi setelah tim survey yang dipimpin Vero berkeliling untuk memetakan wilayah Desa Siberuk.

“Sekitar habis Maghrib, kejadiannya. Untung ada mahasiswa senior, anggota perkumpulan mahasiswa pecinta alam, yang terbiasa menangani masalah seperti itu,” terang Vero.

Menurut mahasiswa senior itu, seperti dituturkan Vero, temannya kerasukan makhluk halus yang menghuni lokasi angker di Desa Siberuk. Diduga, hal itu disebabkan karena tim survey lupa mengucap permisi di awal kedatangannya.

Menurut Vero, walaupun tim survey sudah permisi dan minta izin secara resmi kepada Kepala Desa dan sesepuh setempat, namun belum cukup. Dalam mitologi Jawa, ada hal lain yang perlu dilakukan sebagai pendatang yang ingin bertamu ke lokasi baru.

“Ya, di antara kami lupa berdoa dan permisi. Percaya atau tidak percaya, apa salahnya masing-masing mengucapkan permisi. Walau hanya di dalam hati, sebenarnya sudah cukup. Namun, kala itu, benar-benar tidak kepikiran,” kata Vero.

Sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya, Vero tetap menghormati sistem kepercayaan dan mitologi yang dianut masyarakat Suku Jawa. Dan hal itu rupanya sempat dikonsultasikan Vero dengan sesepuh setempat.

Menurut cerita warga, ada beberapa lokasi yang dianggap angker. “Seingat saya, daerah yang dianggap angker oleh warga setempat bernama Gredu, yaitu dari Gapura perbatasan antara Desa Kebumen dengan Desa Siberuk. Dan tak jauh dari Gredu, ada kuburan tua,” terang Vero.

Menurut keterangan warga seperti dituturkan Vero, di lokasi itu ada sosok-sosok makhluk gaib yang sering menampakkan diri kepada warga yang melintas di tengah malam.

Ada sosok bertubuh besar berwarna hitam kadang melintas. Ada juga sosok lelaki tua berbaju putih  yang kadang menampakkan diri kepada pengendara yang melintasi jalan turunan di Gredu.

“Dan ada satu lagi, yaitu makhluk halus yang konon merasuki teman saya. Makhluk halus itu katanya adalah sosok perempuan penghuni kuburan tua. Orang sering menyebutnya kuntilanak,” kata Vero.

Lalu mengapa merasuki tubuh teman Vero dan menunjuk-nunjuk ke muka Vero?

“Ya, saya sendiri merasa antara percaya dan tidak.  Katanya, roh itu iri terhadap kecantikan saya. Kedatangan saya yang tanpa permisi membuat roh halus itu terusik sehingga mengganggu dan menunjuk-nunjuk saya karena geram dan benci,” kata Vero menahan senyum.

Dan mengapa roh itu memilih teman Vero? Mengapa roh itu tidak memilih merasuki Vero?

Mungkin karena kesal terus dikejar pertanyaan netralnews.com, Vero menjawab dengan tersenyum ketus, “Wah, gimana ya. Ya mungkin, karena teman saya, perempuan yang kerasukan itu, adalah mitra, sahabat, tapi juga saingan saya dalam prestasi meraih nilai di kampus.”

Teman Vero yang kerasukan kuntilanak ternyata adalah sahabat dan sekaligus saingan kuliahnya di kampus. “Saya dan dia selalu susul menyusul dalam meraih nilai ujian mata kuliah,” tandas Vero.

Walaupun tim survey KKN menganggap insiden kerasukan roh halus hanyalah satu kejadian unik yang bisa mudah ditangani. Namun bagi Vero, pengalaman kecil itu patut diperhatikan oleh siapapun.

“Kita harus rendah hati dan jangan lupa menghormati keyakinan orang lain. Selain manusia, tumbuhan, binatang yang bisa kita lihat, ada kehidupan lain yang tidak terlihat. Kalaupun Anda tidak percaya, sebaiknya tidak perlu menghujat pihak yang percaya,” kata Vero memberi pesan.

Ia masih mempertegas pesannya, “Tak ada ruginya bersikap toleran. Dan saat mengunjungi daerah yang baru pertama kali diinjak, jangan lupa mengucap permisi baik kepada warga setempat maupun warga yang tidak terlihat. Dalam hati sudah cukup. Dan itu juga tidak ada ruginya bagi Anda.”

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?