• News

  • Sisi Lain

Ditindih Sosok Hitam Legam, Monica Kapok Jadi Pramuniaga

Tragedi Mei 1998, pusat perbelanjaan di Jakarta dijarah dan dibakar massa
dok. istimewa
Tragedi Mei 1998, pusat perbelanjaan di Jakarta dijarah dan dibakar massa

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Berangkat gelap, pulang gelap, demikian keseharian Monica (24) ketika masih bekerja sebagai pramuniaga di salah satu supermarket kawasan Ruko Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Dari rumahnya di Bogor, ia selalu berangkat saat subuh dan pulang pada malam hari sekitar pukul 21.00.

Sebenarnya, lelah karena bekerja bukanlah menjadi sesuatu yang berat bagi Monica. Ada penyebab lain yang membuatnya kapok dan tak mau lagi menjadi pelayan toko swalayan. Ia mengaku dihantui pengalaman mengerikan di tempatnya bekerja.

“Lelah dan capek, itu mah dah biasa. Namanya juga bekerja. Cuman, ini bukan karena beban kerja, tapi saya masih selalu gemetar bila teringat kejadian itu. Saya belum berani bekerja bila pulangnya kemalaman,” tutur Monica kepada netralnews.com di kediamannya, Rabu (24/4/2019).

Perempuan lulusan SMK itu berusaha mengisahkan pengalaman buruk yang ia maksudkan. Wajahnya masih tampak ragu. Seolah, kejadian itu baru tadi malam terjadi. Hawa ketakutan masih menyelimuti dirinya.

Monica takut kegelapan sejak kejadian buruk yang menimpanya delapan bulan silam. Padahal, hari masih sore. Namun Monica, merasa agak canggung menuturkan pengalaman pahitnya di hadapan netralnews.com, walau sudah ditemani ibundanya.

Baru ketika ayahnya datang, usai kerja sebagai tenaga security di satu perumahan, Monica menjadi lebih yakin untuk mau bercerita terbuka. Sesekali kepalanya menengok ke ayah dan ibunya, seolah minta persetujuan.

“Lulus SMK, saya langsung bekerja. Saya diterima menjadi pramuniaga di ***  (supermarket, red) Pasar Minggu. Semua berlangsung lancar dan tidak ada masalah,” tutur Monica mulai lancar.

Monica merasakan bangga bisa membantu orang tuanya membiayai sekolah ketiga adiknya mengingat penghasilan ayahnya tidak seberapa. “Biarpun hanya menjadi pramuniaga, saya bersyukur. Lumayan penghasilannya,” lanjut Monica.

Kondisi itu berlangsung selama sekitar tiga tahun. Kemudian munculah kejadian-kejadian aneh yang mulai mengganggu ketenangannya bekerja.

“Kadang saya menggantikan teman yang bertugas shift malam hari. Nah, bila bertugas malam itulah mulai ada kejadian-kejadian aneh. Sering terdengar troli jalan padahal tidak ada pembeli. Kadang ada suara benda berjatuhan dari atas rak. Dan kejadian seperti ini, terus berulang,” kata Monica.

Gadis bertubuh langsing dengan paras manis itu sejenak mengambil nafas dalam-dalam dan meneguk air teh yang disodorkan ibunya. Netralnews merasakan situasi perbincangan seolah sedang mengintrogasi pelaku kejahatan karena saking tegangnya.

Ayah Monica sesekali menawarkan kopi dan meminta sambil menikmati makanan kecil di meja. Mungkin ingin agar tidak terlalu serius dan larut dalam pengalaman buruk yang dialami Monica.

Kemudian, Monica melanjutkan kisahnya. Bila bertugas shift malam, kejadian aneh kembali muncul. Pernah suatu ketika, Monica mendengar suara perempuan menangis dari gudang di bawah tangga menuju lantai dua.

“Sekitar pukul 01.00 dini hari kejadian itu. Badan saya dah terlanjur merinding dan menggigil. Saya ajak teman saya yang juga mendengar suara itu. Namun, tidak dijumpai siapapun dari lokasi asal suara,” kata Monica dengan sungguh-sungguh.

Suasana hati Monica mulai dihinggapi perasaan tidak nyaman. Apalagi, teman kerjanya ada yang mengaku, suatu malam bermimpi seolah sedang berjaga di supermarket itu. Dari kejauhan, ia melihat seorang ibu tengah mengandung mendorong troli sedang memilih belanjaannya.

Kemudian terdengar suara gemuruh keributan dari luar supermarket. Disusul tumpukan kardus berisi minyak goreng terjatuh menimpa ibu yang tengah hamil itu.

Teman Monica berusaha berlari ingin menolong ibu itu, namun badanya terasa berat sekali. Kakinya sulit diangkat. Sementara, dari luar supermarket bermunculan orang-orang beringas dan menjarah semua isi supermarket tanpa memedulikan ibu yang tertimpa tumpukan kardus itu.

Kejadian berlangsung begitu cepat. Bisa jadi ibu yang tengah mengandung itu pingsan karena kepalanya terhantam benda berat. Namun malangnya, beberapa penjarah supermarket kemudian menyalakan api di gerai pakaian. Supermarket terbakar hebat.

Teman Monica terbangun dengan terengah-engah. Ketika mimpi itu dikisahkan ke Monica, semakin menambah ciut nyali Monica. Ia sering kepikiran takut jika terjadi kejadian yang mengancam keselamatannya.

Puncak dari kekhawatirannya, benar-benar terjadi. Delapan bulan lalu, Monica merasakan benar-benar kelelahan karena dua hari berturut-turut bekerja shift malam. Usai menyelesaikan jam kerjanya, ia ingin sejenak istirahat di samping ruang ganti pakaian.

Dua temannya sudah menggantikannya melayani pembeli. Dan terlelaplah Monica dengan harapan bisa terbangun dengan badan lebih segar. Namun sial, harapannya tidak tercapai.

“Saya terlelap. Setengah sadar, tiba-tiba muncul sesosok wanita hitam legam, menggendong sesuatu seperti bayi tetapi hitam legam. Bajunya seperti bekas terbakar, kulitnya seperti melepuh, wajah dan rambutnya seperti bermandi oli, dan matanya putih menatap ke arah saya,” kenang Monica terbata-bata.

Monica melanjutkan, “Wanita itu berdiri di samping saya berbaring lalu melompat menindih saya. Sosok itu menduduki saya. Saya ketakutan setengah mati. Namun badan saya tidak bisa digerakkan. Saya teriak-teriak, tetapi tidak keluar suara.”

Di tengah ketidakberdayaan itu, Monica menyerah. Ia berusaha keluar dari situasi itu. Kepalanya ia gerakkan dan sia-sia. Badannya tegang dan tangannya menyengkeram karpet tipis sebagai alas tidurnya.

“Saya bersyukur, ada teman saya yang datang karena mendengar suara saya seperti terengah-engah ketakutan. Kata teman saya, badan saya kaku sementara tangannya tegang seperti mau mencakar lantai. Saya terbangun setelah pipi saya ditampar pelan,” kata Monica.

Seingat Monica, saat terbangun, Monica merasakan seperti orang linglung. Ia masih sangat ketakutan. Sekujur badannya dingin menggigil. Oleh temannya, ia diberikan air minum. Tubuhnya kemudian dibaluri minyak kayu putih.

“Malam itu saya tidak berani pulang. Saya minta dijemput ayah saya. Dan baru pagi harinya saya bisa sampai rumah. Sejak kejadian itu, bila melihat gelapnya malam, saya teringat bayangan wanita hitam yang menindih saya,” terang Monica.

Monica kemudian kapok bekerja sebagai pramuniaga di supermarket itu. Ia memutuskan mengundurkan diri. Sambil berusaha memulihkan trauma yang ia alami, ia masih mengirimkan lamaran kerja di tempat lain.

“Saya berharap bisa mendapat kerjaan yang jam kerjanya siang hari,” kata Monica penuh harap.

Ayah Monica yang ikut mendengarkan kisah Monica, ikut menambahkan apa yang dialami anak gadisnya. Katanya, di daerah supermarket tempat kerja anaknya, memang terkenal angker.

Hal itu, salah satunya dipicu oleh kejadian kerusuhan Mei 1998. Ada sejumlah korban terbakar yang tidak berhasil diidentifikasi.

“Bisa jadi, arwah itu masih ingin menuntut keadilan. Arwah-arwah korban terbakar mengingatkan semua orang agar tidak melupakan kejadian kelam yang merenggut banyak orang tak bersalah itu,” timpal Ayah Monica.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?