• News

  • Sisi Lain

Agil Tidak Menyangka, Tangisan Perempuan Misterius Itu Berasal dari Sekolah Ini

Ilustrasi gedung sekolah angker
foto: hipwee.com
Ilustrasi gedung sekolah angker

TEMANGGUNG, NETRALNEWS.COM - Hal yang diharapkan saat menikmati liburan adalah kegembiraan. Apa jadinya jika masa liburan justru melahirkan pengalaman menyeramkan? Tentu tidak mengenakkan.

Hal itu justru yang harus dialami oleh Agil R Saputra. Pada tanggal 23-24 Oktober 2018, ia berlibur ke kota Temanggung, Jawa Tengah, tepatnya di Desa Jampiroso, Kecamatan Temanggung.

Di alam fana ini, ternyata manusia memang bukan hidup sendirian. Ada makhluk tak kasat mata, kekuatan magis, atau energi gaib berada di sekitar manusia. Masalahnya, keberadaan mereka tidak mudah dilihat dengan mata telanjang.

Dibutuhkan nyali, keberanian, dan teknik supranatural untuk bisa merasakan dan melihat keberadaan mereka. Mungkin itulah yang dilakukan oleh Agil.

Merasa terganggu dengan apa yang ia rasakan dan apa yang ia dengar, bukannya takut, ternyata nyali Agil bangkit dan berani menelusuri penampakan misterius. Karena keberaniannya, ia berhasil mengungkap tentang lokasi angker di kota Temanggung.

Pengalaman mistis yang dialami Agil bermula dari munculnya suara aneh yang berupa tangisan perempuan. Padahal, hari telah larut malam.

Agil yakin bahwa mustahil ada orang keluyuran di tengah malam. Apalagi, di Desa Jampiroso, pada pukul 22.00 mayoritas penduduk sudah beraktivitas di dalam rumah mereka masing-masing.

Tergerak oleh rasa penasaran, Agil bangkit dari rasa takut lalu diam-diam mencari sumber suara misterius itu. Tanpa alat penerangan mencukupi, ia mengendap-endap agar tidak diketahui oleh orang lain.

Agil berpikir, jangan-jangan suara itu adalah suara orang yang membutuhkan pertolongan. Bila suara itu bukan berasal dari manusia, Agil sudah bertekad untuk melihatnya secara langsung.

Satu unit telepon pintar ia genggam. Ia pasang alat perekam gambar. Ia bergerak perlahan sambil tetap waspada agar tidak tersandung atau salah jalan.

Semakin mendekati sumber, telinga Agil mendengar suara tangisan perempuan semakin mengeras dan kadang berganti dengan suara serangga malam. Agil masih tetap sendirian.

Agil sempat berpikir benarkah tidak ada seorang pun yang terusik dengan suara-suara itu? Mengapa hanya dirinya yang terusik dan mendengarnya? Mengapa hanya ia sendiri yang keluyuran berburu suara misterius?

Pertanyaan-pertanyaan itu ia tepis ketika ia semakin mendekati lokasi sumber suara. Ditengoknya kanan dan kiri. Yang ada hanya sepi, suara kodok, jangkrik, dan binatang malam lainnya.

Agil tidak menyangka, sumber suara itu ternyata berasal dari sebuah bangunan tua yang masih digunakan sebagai sekolah dasar negeri. Sekolah itu gelap tanpa penerangan memadahi.

Siapa sebenarnya yang menangis di dalam gedung sekolah di tengah malam begini? Tanya Agil dalam hati. Ia sempat menjadi ragu dengan dirinya. Apakah ia sedang berhalusinasi?

Ia cubit pipinya sendiri. Ia yakin benar-benar sedang dalam kondisi sadar dan bukan pula sedang bermimpi.   

Karena merasa kurang yakin, sekali lagi Agil memastikan suara aneh itu karena suaranya kadang timbul dan tenggelam. Telinganya ia pasang dengan cermat. Suara itu muncul lagi. Agil pun yakin, suara itu memang bersumber dari dalam gedung itu.

Teringatlah pesan neneknya bahwa di kampung ini memang ada lokasi-lokasi angker yang dihuni aneka rupa jenis makhluk halus. Kata neneknya, ada makhluk halus bernama kuntilanak yang penampakannya selalu menyerupai perempuan berambut panjang.

Apakah suara itu adalah suara kuntilanak? Agil gamang antara memastikan siapa sesungguhnya yang sedang menangis atau memilih kembali masuk kamar dan menarik selimut. Agil memilih melanjutkan petualangannya. Hatinya mengatakan sudah kepalang tanggung.

Agil melangkah dan memasuki gerbang sekolah yang tidak terkunci. Ia beranikan melewati depan gedung itu. Hanya ada dua bohlam lampu yang menyala yaitu di ujung kiri dan ujung kanan sekolahan.

Ia memilih menyusuri sebelah kiri. Di sana ada pintuk menuju lorong sekolahan. Sial, ternyata terkunci, demikian kata hati Agil. Ia tidak dapat masuk ke area dalam gedung.

Agil ingin beranjak menuju ke arah kanan namun tiba-tiba jantungnya berdegup kencang. Ada suara anak-anak cekikikan dan berlari menjauhi Agil, menuju dalam gedung.

Disusul kemudian derit bangku digeser dan suara meja ditabuh lirih. Selama beberapa menit kemudian suara-suara itu menghilang.

Agil yakin, tidak akan mungkin ada anak-anak bermain di dalam kegelapan dan di tengah malam begini. Ia lirik jam di telepon pintarnya. Sudah pukul 01.17. Jelas tidak mungkin, tegas Agil dalam hatinya.

Badan Agil merinding namun belum mau memutuskan balik badan dan pulang. Ia kumpulkan keberaniannya kembali dan melangkah ke ujung kanan gedung sekolah.

Kali ini muncul kejadian aneh lainnya. Hidung Agil diserodok aroma bunga kamboja dan semilir angin dingin dini hari. Bulu kuduknya masih tegak berdiri karena suara perempuan menangis muncul kembali, dari agak keras, lalu semakin pelan, dan akhirnya menghilang.

Agil sebenarnya berani memasuki dalam gedung sekolah itu. Ia ingin pastikan semua keanehan itu. Sayangnya, ia tidak punya akses masuk karena semua pintu terkunci.

Terakhir, Agil menuju ke arah belakang sekolah. Ia mendengar suara orang menimba air. Di belakang gedung sekolah ternyata ada WC dan sebuah sumur. Tetapi tidak ada seorang pun di tempat itu.

Bekas orang menimba pun tidak ada karena embernya terlihat kering, padahal baru saja Agil mendengar suara itu dengan jelas.

Di antara remang satu lampu bohlam di lokasi itu, perasaan Agil merasa dirinya sedang ditonton oleh banyak pasang mata tak terlihat.

Badan Agil benar-benar bergidik. Ia tebarkan sekali lagi pandangannya. Ia longok pula dua kamar WC yang tidak terkunci. Tak ada seorang pun di lokasi itu.

Agil memutuskan menyudahi petualangannya. Ia baru merasakan bahwa menahan rasa takut dengan badan terus merinding ternyata bisa membuatnya kelelahan.

Ia memutar badan dan kembali ke kamarnya. Sampai di kamarnya, ia berusaha memejamkan mata tetapi suara anak berlarian, perempuan menangis, bunyi kerekan orang menimba air, masih terngiang-ngiang di telingannya.

Usai menjalankan Salat Subuh, barulah Agil bisa terlelap. Itu pun tidak lama karena pagi-pagi sekali, neneknya tiba-tiba membangunkannya untuk sarapan.

Dengan langkah gontai karena kurang tidur, Agil menikmati sarapan yang disediakan neneknya sambil menceritakan tentang petualangannya tadi malam kepada neneknya.

Tetapi, bukanya menerima pujian atas keberaniannya, Agil justru mendapat dampratan dari neneknya.

Apa yang dilakukannya dipandang bisa membahayakan keselamatannya, sebab bisa saja makhluk halus penunggu gedung sekolah yang angker itu, menyerang cucu kesayangannya.

Itulah kisah Agil yang pernah dituturkannya dalam akun twitternya dan pernah diangkat oleh media hipwee.com. Beberapa bagian penulis ubah dengan sedikit penambahan tetapi tanpa meninggalkan esensinya, agar memudahkan pembaca menikmati kisahnya.  

Editor : Taat Ujianto