• News

  • Sisi Lain

Kepanikan di Tengah Pesta, Sosok Wanita Berambut Pirang Melayang

Penampakan Landhuis Tjimanggis di era Kolonial
Foto: KITLV
Penampakan Landhuis Tjimanggis di era Kolonial

DEPOK, NETRALNEWS.COM - “Saya memiliki kenangan unik dari mendiang nenek saya, Karomah. Saat kecil saya sering bermalam di rumahnya di Cimanggis. Saya selalu didongengkan penampakan misterius yang terjadi di gedung tua peninggalan Belanda,” kata Rohadi (41) kepada netralnews.com pada Jumat (3/4/2019).

Dongeng Karomah, neneknya Rohadi, ternyata mengisahkan tentang hantu-hantu yang menghuni gedung tua itu. Di tahun 1970-an, banyak kejadian mistis di area gedung tersebut. Cerita yang paling mengesankan bagi Rohadi adalah kisah tentang penampakan pesta arwah orang-orang Belanda.

“Tempat itu angker. Banyak orang pernah kesurupan saat melintasi area rumah tua. Tapi yang paling mengesankan bagi saya adalah cerita tentang penampakan pesta yang tiba-tiba berubah menjadi kekacauan,” lanjut Rohadi.

Sesuai penuturan Rohadi, suatu ketika menjelang subuh, Karomah yang sehari-hari berjualan sayuran di pasar Cimanggis, Depok, Jawa Barat, dibuat terpana dengan penampakan misterius saat melintasi area rumah besar peninggalan keluarga Belanda kaya raya yang biasa disebut Rumah Cimanggis.

“Ada sekumpulan wanita dan pria tengah mengadakan pesta di halaman rumah tua itu. Suara gamelan dan terompet sayup-sayup mengalun mengiringi pesta. Anehnya, ketika nenek saya semakin mendekati lokasi itu, semua penampakan itu menghilang,” tutur Rohadi.

Penampakan seperti itu bukan hanya sekali. Dini hari lainnya, Karomah melihat penampakan itu lebih jelas. Wajah-wajah wanita dan pria peserta pesta itu terlihat jelas. Pesta diterangi nyala api dari batang bambu (oncor) yang ditancapkan di sekeliling mereka.  

Wajah-wajah itu tampak jelas berparas muka orang bule dan sebagian berambut pirang. Sementara para penabuh gamelan merupakan sosok-sosok berperawakan pribumi.

“Nenek saya yakin itu adalah sosok-sosok arwah orang Belanda dan arwah para pemusik yang biasa disewa untuk mengiringi pesta-pesta yang digelar pemilik rumah itu. Disebut pesta arwah, pasalnya, setiap didekati, di rumah itu sebenarnya tidak ada apa-apa. Tidak ada pesta,” sambung Rohadi.

Masih menurut Rohadi, “Klimaks dari cerita nenek saya adalah ketika di malam berikutnya, ia melihat pesta itu tiba-tiba berubah menjadi kekacauan. Bumi bergetar. Genting atap rumah berjatuhan.”

Dari dalam gedung, muncul sosok-sosok perempuan berambut pirang dan berbaju putih berhamburan dan melayang keluar, lalu menghilang ditelan kegelapan. Pesta bubar. Dan nenek Rohadi terbengong-bengong karena tak tahu apa arti penampakan itu.

Karena penasaran, nenek Karomah yang pemberani itu mendekati area rumah tua itu. Tidak ada siapapun. Suasana gelap, sepi, dan hanya ada suara serangga yang masih terjaga. Ia kemudian meninggalkan tempat itu dengan menyisakan banyak pertanyaan di benaknya.

“Sebelum nenek saya meninggal, pengalaman itu selalu diceritakan kepada saya dan cucu-cucu lainnya. Seolah itu adalah harta warisan yang penting dan tidak boleh dilupakan anak cucunya,” kata Rohadi dengan wajah tertunduk. Sesekali ia mengisap rokoknya.

Rohadi mengaku menyimpan semua kenangan itu hingga ia dewasa. Ketika ia sudah bisa berpikir secara jernih, ia berani bertanya dan mencari tahu apa arti sesungguhnya dari dongeng yang dikisahkan neneknya tersebut.

“Bagi saya, yang terpenting dari cerita nenek saya, bukan terletak pada sosok-sosok hantu yang menampakkan diri. Yang membuat saya sangat menghargai adalah cara nenek saya menyampaikan cerita lisan mengenai sejarah gedung itu,” terang Rohadi.

Menurut Rohadi, gedung tua itu menyimpan legenda tentang asal-usul wilayah Cimanggis, Depok. Rumah itu tak bisa dilepaskan dari sejarah pembangunan jalan raya Jakarta (Batavia) menuju Bogor (Buitenzorg) yang dibangun atas prakarsa Herman Willem Daendels.

Di kemudian hari jalan itu termasuk bagian dari jalur De Grote Posweg atau Jalan Raya Pos. Sebelum jalan ini dibangun, rumah tua itu jauh sebelumnya sudah berdiri.

Bangunan yang berada sekitar 1 kilometer di Km 34 Jalan Raya Bogor, tidak jauh dari Pasar Cisalak (pasar Cimanggis), dibangun oleh David J. Smith antara tahun 1775-1778.

Rumah itu kemudian menjadi tempat tinggal Gubernur Jenderal Vereenigde Oost-Indische Compaginie (VOC) bernama Petrus Albertus van der Parra beserta anak dan istrinya. Konon, jenderal tersebut adalah salah satu pejabat Belanda yang terkenal korup.

Sebelum rumah dibangun, area sekitarnya dahulu berupa hutan karet. Petrus Albertus van Der Parra memilih membangun rumah peristirahatan (Landhuis Tjimanggis) di area itu karena letaknya strategis dan bisa menjadi persinggahan orang Belanda yang berpergian menuju Batavia-Buitenzorg.

“Sudah menjadi kebiasaan, bila ada pejabat singgah untuk menginap, di rumah itu diadakan pesta perjamuan bagi para tamu. Inilah yang mungkin menyisakan semacam jejak energi gaib yang penampakannya kemudian dilihat nenek saya,” jelas Rohadi.

Setelah Van der Parra meninggal, rumah itu sempat diwariskan ke istrinya yakni Johanna Bake. Rumah besar beserta tanah yang luas itu kemudian sempat jatuh ke tangan berbagai pihak karena alasan tertentu.

Pernah pula dijadikan sebagai tempat tinggal karyawan Radio Republik Indonesia (RRI), tapi kemudian ditinggal dan dibiarkan kosong.

Netralnews.com kemudian menanyakan ke Rohadi tentang arti penampakan kekacauan ketika pesta tengah berlangsung. Hal ini ternyata juga memiliki simbol peristiwa sejarah yang pernah melanda rumah tua itu.  

“Sekitar tahun 1834, terjadi gempa bumi dahsyat. Gempa menyebabkan rumah besar itu mengalami kerusakan cukup parah. Dalam catatan sejarah, gempa juga merusak bangunan lainnya seperti rumah Belanda di Pondok Cina. Bahkan, Istana Buitenzorg juga rusak berat,” terang Rohadi.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?