• News

  • Sisi Lain

Heboh Penangkapan Genderuwo dan 2 Anaknya

Genderuwo dipercaya suka tinggal di rumah tua
Netralnews/Taat Ujianto
Genderuwo dipercaya suka tinggal di rumah tua

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Mitos tentang memedi di tanah Jawa yang bernama “genderuwo” terus bergulir menjadi perbincangan publik. Tidak hanya dipercakapkan di pos ronda, tetapi kini sudah menjadi kamus sehari-hari para politisi.

Mengutip pernyataan Mada Zidan dan Bonaventura D Genta dalam buku Kisah Tanah Jawa (2018: 201), sosok genderuwo digambarkan sebagai makhluk halus bertubuh hitam kemerahan dan seluruh tubuhnya diselimuti rambut lebat.

Di berbagai sumber lain, disebutkan juga mengenai sosok genderuwo yang didiskripsikan bermata menyala, kadang melotot, mulutnya bertaring, dan “anunya” besar.

Keseramannya semakin bertambah karena dipercaya pandai merayu, biadab, cabul, dan mau menodai kaum Hawa. “Melalui gendam hipnotisnya yang sakti mandraguna, sosok ini kemudian mampu menanam benih di rahim perempuan,” tulis Zidan dan Genta.

Wujud sosok makhluk ini tidak pernah berubah sejak awal nenek moyang suku Jawa menghuni Pulau Jawa. Bila ia datang, biasanya ditandai dengan munculnya aroma ketela atau singkong bakar. Konon ia suka menghuni pohon besar di pinggir kali dan bangunan tua.

Ada banyak orang mengaku pernah melihat penampakan sosok makhluk ini. Sayangnya, mereka semua terus terang mengaku sulit untuk membuktikannya. Genderuwo bisa menghilang. Jangankan bisa menangkap, merekamnya saja tidak mudah.

Repotnya, makhluk ini mampu menyamar menjadi seorang lelaki. Dengan caranya itu, ia bisa mengelabui seorang istri yang mengira sosok yang menggaulinya adalah suaminya. Alhasil, pernah beredar kabar tentang sosok perempuan yang mengandung bayi genderuwo.

Menyusuri anak genderuwo tidak mudah. Mengapa? Banyak orang berpendapat bahwa tidak ada seorang ibu maupun bapak yang mau membuka aibnya. Kejadian seperti itu cenderung dirahasiakan atau ditutup-tutupi.

Akan tetapi, walaupun tidak mudah, dalam perjalanan jurnalisme Indonesia, setidaknya ada dua kisah sosok manusia yang menjadi heboh karena dikabarkan sebagai anak hasil hubungan intim antara seorang ibu dengan genderuwo.

Sebelum membahas mengenai heboh penangkapan genderuwo dan 2orang yang dianggap sebagai anak genderuwo dan pernah menjadi sorotan publik, ada baiknya kita merefleksikan tentang genderuwo. Sebenarnya, apa makna di balik sosok makhluk yang menyeramkan itu?

1. Simbol Patriarki dalam Masyarakat  

Jika kita mau merenungkan dan merefleksikan secara mendalam, mitos genderuwo sebenarnya merupakan refleksi tanpa sadar atau cermin dari realitas sosial yang ada di masyarakat Indonesia.

Mengapa sosok genderuwo  selalu digambarkan sebagai makhluk halus berkelamin laki-laki yang bisa menggagahi perempuan? Mengapa ia bisa menhipnotis perempuan sehingga bisa berhubungan intim sedemikian rupa?

Bahkan, ada yang mengatakan bahwa genderuwo bisa meniduri perempuan tanpa sadar, mengapa bisa demikian? Apa yang terjadi ketika seorang ibu dituduh mengandung anak genderuwo?

Ada banyak pertanyaan lain untuk bisa membawa kita pada titik kesadaran bahwa kisah genderuwo telah membuat kaum perempuan berada pada posisi lebih lemah. Perempuan seolah selalu tidak berdaya menghadapi kejantanan kaum pria.

Ini adalah simbol patriarki berlebihan terutama dalam persoalan seksualitas. Semua narasi tentang genderuwo membawa imaginasi betapa “beringasnya” seks kaum lelaki di Indonesia. Ia laksana hantu yang jika tidak terkendali, melahirkan tindakan terkutuk, misalnya perkosaan.

Sayangnya, kisah-kisah hantu genderuwo yang menyeramkan, ternyata juga digemari oleh kaum perempuan. Ini juga menjadi persoalan lain yang perlu direnungkan bersama.    

2.  Kisah 2 Anak Genderuwo

Sekitar tahun 1990, masyarakat Indonesia sering memperbincangkan sosok lelaki yang lahir dari pasangan suami-istri bernama Fai dan Nasikah yang tinggal di lereng Gunung Watungan, Desa Wuluhan, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur.

Mereka merupakan pengantin baru yang hidup terpisah karena sang suami harus bekerja di sebuah proyek di daerah lain. Suatu ketika, Nasikah melihat suaminya pulang. Karena rindu, mereka berhubungan intim.

Ternyata, sosok yang menggaulinya bukanlah Fai, suaminya yang sesungguhnya sebab Fai yang sesungguhnya baru pulang ketika Nasikah sudah mengandung tujuh bulan. Suaminya marah begitu mengetahui istrinya mengandung oleh sosok yang menyerupai dirinya.

Fai ingin menolak kenyataan namun tak kuasa. Kemarahannya berhasil diredam oleh ulama setempat yang meminta Fai agar bersabar dan tawakal. Ia berusaha menerima anak dalam kandungan istrinya yang kemudian diberi nama Imam Sayuti.

Permasalahan masih berlanjut karena dari tubuh anak itu keluar bintik-bintik merah dan rambut dan memiliki badan yang menyeramkan. Atas saran dari orang pintar, anak mereka kemudian dipanggil “Tebo”.

Tebo dengan keanehan fisiknya

Tebo tumbuh dewasa di bawah pandangan masyarakat yang menganggapnya sebagai anak genderuwo, yang sebelumnya menyamar menjadi Fai dan menggauli Nasikah.

Sosok Tebo menjadi terkenal ketika ia direkrut manajer Wahana Misteri. Tebo selalu diikutkan dalam acara pameran tentang hal-hal bersifat gaib. Tebo selalu menjadi bintang dalam setiap pameran.

Selain Tebo, seseorang yang dipercaya sebagai anak genderuwo adalah Wagini (35). Kisah misteri Wagini yang dianggap sebagai anak genderuwo pernah heboh pada tahun 2013, bahkan pernah ditayangkan langsung dalam sebuah acara televisi.

Sejak umur 13 tahun, Wagini tidak lagi dirawat kedua orang tuanya tetapi dirawat oleh Eyang Ratih sejak bertemu di Alas Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur.

Sebelumnya, Wagini hidup susah setelah ayahnya meninggal dan ibunya meninggalkannya. Ia pernah berjumpa kembali dengan ibunya saat dewasa, tetapi ia kemudian memilih tetap tinggal bersama Eyang Ratih.

Eyang Ratih dan Wagini

Sejak awal Eyang Ratih meyakini bahwa Wagini adalah orang yang baik walaupun kondisi fisiknya tidak seperti orang pada umumnya. Justru karena itulah, Eyang Ratih merasa iba kepadanya.

Warga sekitar Alas Purwo memercayai bahwa Wagini adalah perwujudan anak genderuwo. Terhadap anggapan itu, Eyang Ratih selalu mengatakan bahwa Wagini adalah “anak genderuwo yang tampan”.

Sementara itu, ada seorang ahli yang meyayangkan munculnya anggapan Wagini sebagai anak genderuwo.

"Kalau orang mirip genderuwo iya. Saya kira berita itu tidak benar, itu pembodohan," kata Guru besar dari Departemen Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, Wimpie Pangkahila kepada sejumlah media, saat menanggapi kisah Wagini beberapa tahun silam.

3. Penangkapan “Genderuwo” yang viral

Mitos genderuwo memang menimbulkan penasaran banyak orang. Pada tahun 2016, pemilik akun Facebook Reality Kings mengunggah video berjudul Penangkapan kepala gendruwo di daerah Surabaya. Video tersebut mendadak viral. Jutaan orang menontonya.

Bagi Anda yang merasa tidak memiliki permasalahan dengan hal-hal yang menakutkan, masih bisa menyaksikan jejak video tersebut melalui youtube, di sini.

Durasi video tersebut sebenarnya cukup pendek, namun bagi yang belum pernah menonton pasti akan menanggapinya dengan sangat serius. Video amatir tersebut menggambarkan situasi yang menegangkan dengan suara-suara mistis yang mendukung.

Laksana bergulat dengan kekuataan gaib, para pelakunya berusaha menahan kepala genderuwo yang telah dibungkus dengan kain. Ketegangan akan berubah menjadi perasaan jengkel di akhir video karena ternyata, si pembuatnya hanyalah sekedar melawak.

Di dalam bungkusan kain itu bukanlah kepala genderuwo tetapi ternyata hanyalah topeng kepala tokoh film Iron Man. Walaupun bercanda, seharusnya si pembuatnya tidak lupa menyantumkan tanda petik di antara kata genderuwo, sesuai kaidah bahasa Indonesia yang benar.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?