• News

  • Sisi Lain

Tujuh Tahun Ratna Lie Mengalami Penampakan Arwah Korban Kerusuhan, bahkan...

Peringatan Arwah Semua Orang Beriman di Katedral Jakarta biasanya dirayakan sekaligus memperingati Hari Pahlawan
Netralnews/dok.istimewa
Peringatan Arwah Semua Orang Beriman di Katedral Jakarta biasanya dirayakan sekaligus memperingati Hari Pahlawan

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Hari Kamis, 14 Mei 1998 adalah hari kelabu. Menjelang pukul 10.00, asap hitam mengepul dari atas  Plaza Glodok. Suara gaduh, teriakan ribuan massa beringas, beradu dengan suara pecahan kaca serta pintu gerbang yang dibuka paksa.

Suara-suara itu tidak hanya memekakkan telinga, tetapi merobek-robek hati Ratna Lie yang kala itu masih berusia 34 tahun. Ia meninggalkan restoran masakan Tionghoanya, mengikuti apa yang dilakukan warga Tionghoa yang menghuni kawasan di sekitar Glodok, Jakarta Barat.

Ratna Lie sadar, sejak tanggal 13 Mei, gerombolan massa bergerak di sepanjang Jalan Hayam Wuruk, melewati Jalan Kiai Tapa, Jalan Hasyim Ashary, Jalan Gajah Mada, dan jumlahnya terus bertambah. Pada tanggal 14 Mei, massa membludak dan akhirnya mengarah ke kawasan pertokoan Glodok.

Entah siapa yang menggerakkan. Yang pasti, mayoritas di antara mereka tampak bringas membongkar dan membuka paksa teralis ruko serta menjarah seluruh isinya.

“Satu, dua, tiga!” demikian aba-aba mendobrak pintu ruko lalu disusul suara “brak!” dan ruko terbuka. Beberapa mobil dikeluarkan dari dalam showroom lalu dibakar. Sejumlah komputer dikeluarkan dan dihancurkan di tengah jalan.

Sementara ribuan orang lainnya dengan wajah tertawa berteriak, “Pesta rakyat! Pesta rakyat!” sambil mengangkut berbagai alat elektronik dan barang-barang yang mereka kehendaki dan sukai.

Ratna Lie tidak menyangka bahwa massa ternyata bergerak memasuki gang dan kawasan di sekitar rumahnya. Jumlah mereka lebih banyak dibanding warga penghuni permukiman etnis Tionghoa.

“Bakar! Jarah! Bunuh! Abisin Cina!” kata-kata menakutkan itu menyadarkan Ratna untuk menyelamatkan diri. Bersama dengan suami dan dua anaknya, ia menyelinap dari gang ke gang menjauhi kerumunan massa tersebut.

Keluarga Ratna Lie selamat berkat bantuan warga Tionghoa lain yang menghuni kawasan sekitar Pasar Pagi Mangga Dua. Ia bersembunyi di rumah itu hingga kerusuhan mereda sementara kawasan Glodok habis dilalap si jago merah.

Malam hari setelah kerusuhan, suasana begitu mencekam. Banyak anggota keluarganya memutuskan meninggalkan Jakarta. Akibatnya, ribuan orang Tionghoa tertahan di Bandara Soekarno Hatta. Namun Ratna tidak berani beranjak keluar dari persembunyiannya.

Di kemudian hari, Ratna Lie baru tahu bahwa sejumlah etnis Tionghoa mengalami pelecehan seksual ketika menuju bandara. Kerusuhan juga menjalar ke jalanan umum dan jalan tol. Bila ada orang Tionghoa kendaraannya di rusak dan dipaksa menyerahkan uang mereka.

“Mungkin orang tidak bisa merasakan betapa perihnya hati ini  di masa itu. Harta saya ludes tetapi hidup tetap harus saya lanjutkan. Orang juga tak akan mengira bagaimana saya memulai  dari awal. Dari biasa sewa ruko harus memulai lagi dengan tenda kaki lima,” keluh Ratna.

Ia menambahkan, “Kala itu, air mata saya sudah kering. Sia-sia meratap. Saya harus bisa bertahan hidup. Kedua anak saya yang masih kecil membutuhkan saya.”

Ratna berusaha tegar, namun namanya manusia tetap ada saja batasannya. “Tanggal 1 November 1998, saya merasakan sangat terpukul, lelah, stres, dan merasa diganggu penampakan-penampakan di luar akal sehat. Kata suami saya, saya tak sadarkan diri,” tutur Ratna.

Beberapa hari berikutnya ia sadar kembali. Anehnya, suaminya mengatakan Ratna tak sadarkan diri dan menceracau yang bukan-bukan, tetapi Ratna mengaku melihat penampakan-penampakan mengerikan.

“Saya merasakan seperti melayang diombang-ambingkan bayangan-bayangan mengerikan. Sosok-sosok manusia hangus terbakar, jeritan, teriakan yang tak bisa saya pilah satu per satu. Sakit, perih, panas, menjadi satu selama saya terombang-ambing,” sambung Ratna.

Ratna memiliki seorang kakak ipar yang merupakan aktivis gereja Katolik di Katedral Jakarta. Kakak ipar Ratna kemudian mengonsultasikan apa yang dialami Ratna kepada seorang pastor dan meminta pendampingan spiritual. Hasilnya, secara berangsur-angsur psikologis dan kerohanian Ratna Lie bisa pulih.

“Tujuh tahun saya minta pendampingan seorang Pastor. Berkat bimbingannya, saya bisa menerima keberadaan arwah-arwah korban kerusuhan yang membutuhkan dukungan manusia yang masih hidup,” lanjut Ratna.

Tambahnya, “Pengalaman itu pula yang membuat saya tidak melulu menyalahkan pelaku kerusuhan. Mereka juga menjadi korban politik. Kami dan mereka adalah korban. Sayangnya, hingga kini tak ada satupun pihak yang bisa disebut sebagai dalang dan bertanggung jawab.”

Sebelum mencapai tahap kesadaran tersebut, Ratna sebenarnya mengalami penampakan arwah berulang kali. Kadang membuatnya merasa putus asa. Dorongan suami, saudara, dan kalangan umat Katolik membuatnya kuat bahkan menjadi dekat dengan spiritualitas Katolik.

Seperti dituturkan Ratna, dalam Gereja Katolik, ada yang namanya Hari Arwah atau Peringatan Arwah Semua Orang Beriman yang rutin diadakan setiap tanggal 2 November. Gereja Katolik percaya bahwa ada banyak arwah yang masih menghuni dunia.

Orang yang masih hidup dan beriman Katolik biasanya diajak untuk mengenang arwah orang yang sudah meninggal dan mendoakannya agar bersatu kembali dalam kedamaian di Surga.

Dalam tujuh tahun, setiap tiba hari peringatan Arwah, Ratna selalu mengikuti Misa Arwah di Gereja Katedral Jakarta. Selain itu ia juga memutuskan aktif menjalani ritual keagamaan dari rutin mengikuti misa, ibadat pengakuan dosa, dan konsultasi rohani dengan pastor.

Kegiatan ritual itu membuatnya semakin tegar dan meyakini bahwa kekuatan doa bisa membantu arwah orang meninggal meraih kesempurnaan.

“Dalam kurun tujuh tahun, ada perubahan dalam penampakan arwah-arwah kerusuhan Mei 1998. Saat saya mengalami ekstase (keadaan di luar kesadaran diri, red), sosok-sosok arwah mulanya sangat menyeramkan dan membuat saya kesakitan. Di tahun berikutnya, wujud mereka berubah lebih baik hingga menjadi seperti penampakan sosok manusia biasa,” kata Ratna.

Ratna Lie, kini mengaku relatif sudah pulih dari gangguan arwah dan trauma kerusuhan Mei 1998. Ia juga sudah jarang sekali mengalami kehilangan kesadaran. Usaha restoran masakan Tionghoa juga telah berkembang kembali. Ia berhasil membuka cabang baru di kawasan Cibinong, Bogor.

“Pengalaman serupa juga dialami adik kandung saya. Namun, dia lebih pahit. Bila saya membutuhkan waktu tujuh tahun, adik saya hingga kini masih memiliki sisa-sisa trauma. Ia kuat, namun saya dan keluarga sepakat untuk terus melindunginya sebab ia juga mengalami pelecehan seksual dalam kerusuhan itu,” kata Ratna kepada Netralnews.com di gerainya di Cibinong pada Rabu (8/5/2019).

Ia tidak mau membuka pengalaman terburuk yang dialami adiknya. Entah sampai kapan. Menurut Ratna, itu lebih baik dari pada kesaksiannya disalahgunakan, apalagi membuat situasi kembali memburuk bagi adiknya.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?