• News

  • Sisi Lain

Mendadak Ivana Didekap dan Diajak Melompat ke Dalam Kobaran Api

Ilustrasi sesaji untuk pertunjukkan tari Ndolalak
Netralnews/dok.istimewa
Ilustrasi sesaji untuk pertunjukkan tari Ndolalak

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM - “Sebenarnya lelah badan saya. Dua malam berturut-turut sebelumnya, sudah manggung di tempat lain, tapi namanya tanggung jawab sebagai anggota grup, membuat saya tetap harus kuat,” tutur Ivana (36), seorang mantan penari Dolalak kepada Netralnews.com pada Jumat (10/5/2019).

Malam itu, Ivana beserta teman-temannya diminta manggung di acara hajatan pernikahan satu keluarga di Desa Condongsari, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo. Ada satu pengalaman mistis yang ia alami.

Musik kendang, kecer, bedug, organ, terompet, dan biola mengiringi para penari sejak awal prosesi. Hingga tibalah bagian Ivana untuk menyuguhkan kebolehannya meliuk di atas panggung. Kala itu ia termasuk sebagai primadona grup “Arum Mekar”. Penonton pun bersorak.

Di belakang panggung, sesepuh telah menyiapkan aneka rupa sesaji dan berbagai jenis benda yang biasanya diminta penari saat mengalami trance atau kesurupan. Asap kemenyan mulai tercium hidung Ivana.

Mendadak ia merasakan tubuhnya mengeras dan kejang. Ia ambruk di tengah alunan musik yang bertalu-talu dan di bawah tatapan ratusan pasang mata penonton.

“Antara setengah sadar dan tidak, saya dibangunkan oleh sosok perempuan cantik berbaju kebaya putih, berselendang merah, dan bersanggul. Saya yakin itu bukan teman satu grup saya,” tutur Ivana.

Ia sadar, sedang didatangi roh penari yang jarang bisa dialami penari lain. Roh itu diyakini orang Jawa sebagai pelindung kesuburan. Ada yang menyebutnya Dewi Sri.

“Saya dibangunkan dan diajak menari. Tubuhnya merapat ke tubuh saya dan terasa menjadi satu. Saya mengikuti semua gerakan yang ia minta mulai dari gerakan adeg, tanjak, hayog, sered, mancad, jinjit, sepak, dan lain-lain. Pokoknya saya merasa seperti berada dalam kekuasaannya,” terang Ivana.

Dua syair lagu yaitu "Lingsir Wengi" dan "Ikan Cucut" telah usai dinyanyikan. Berikutnya, sayup-sayup ia masih mendengar suara lagu "Ada Nona".

“Saya diarahkan untuk meminta air kelapa. Saat air itu saya tenggak, yang saya rasakan, air itu mengalir ke mulut sosok perempuan di dalam diri saya. Juga kembang sesaji yang saya kunyah,” lanjut Ivana.

Di tengah gerakan tari bersama roh perempuan berkebaya, mendadak mata Ivana melihat sesosok lelaki tua, berjenggot putih membawa tongkat, mendekat dan ikut menari. Sosok itu juga tidak asing.

Penampakan seperti itu sudah biasa. Orang Jawa menyebutnya roh leluhur atau danyang desa. Malam itu, danyang desa tempat saya manggung ikut hadir, dan hal seperti ini, tidak perlu ditakuti,” sambung Ivana.

Dalam kepercayaan orang Jawa, danyang desa ikut menjaga keselamatan warga desa. Konon, ia adalah arwah pendiri desa setempat yang menghuni tempat keramat yang bisa berupa pohon besar di sekitar makamnya.

“Hanya, yang agak berbeda dari sebelum-sebelumnya, saya kemudian merasakan sangat lemas, sementara tubuh saya masih dikuasai roh Dewi Sri. Mata saya berkunang-kunang. Tiba-tiba saya seperti melayang dan dipeluk oleh danyang desa, lalu diajak melompat ke dalam kobaran api yang mendadak muncul di hadapan saya,” kata Ivana dengan wajah ngerinya.

Usai kejadian itu, Ivana mengaku merasakan gelap dan tak sadarkan diri. Ia tersadar berada di sudut panggung sedang dipijit tengkuknya oleh salah satu temannya. Ia merasakan badannya terasa capek. Beberapa saat, ia istirahat dan pertunjukkan digantikan pemain lainnya.

Menurut Ivana, adegan terakhir artinya bahwa tubuhnya sedang dikembalikan ke alam sesungguhnya. “Pintu keluar dari alam gaib itu berwujud kobaran api,” terang Ivana.  

“Itulah, gambaran pengalaman trance atau kesurupan yang saya alami. Antara pengalaman penari satu dengan penari lainnya, biasanya berbeda,” tutur Ivana.

Tahun 2010, Ivana menikah dengan seorang lelaki pujaan hatinya. Ia berhenti menari karena diajak suaminya tinggal bersama di daerah Depok, Jawa Barat.

“Saya berhenti menari Dolalak karena suami saya mendapat tugas kerja di Depok. Saya ikhlas meninggalkan dunia tari tradisional untuk membina keutuhan keluarga baru saya,” pungkas Ivana.

Hingga kini, Tari Dolalak masih berjaya menjadi kesenian rakyat khas Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Dahulu, tarian ini pernah digunakan sebagai syiar agama Islam.

Keunikannya, gerakan tariannya mengadopsi motif gerak dan lagu para serdadu Belanda. Kostum yang dikenakan juga mengadopsi kostum para serdadu. Motif tersebut kemudian diwariskan turun-temurun sejak abad ke-20 hingga sekarang.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?