• News

  • Sisi Lain

Ayat Suci Dilantumkan Fatimah, Tempat Tinggal Genderuwo Langsung Tumbang

Punden bernama Gondang di  Banyuurip, Purworejo sudah tidak dikelilingi pohon besar
Netralnews/dok.pribadi
Punden bernama Gondang di Banyuurip, Purworejo sudah tidak dikelilingi pohon besar

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM - Kejadian nyata dialami Fatimah (52) yang biasa dipanggil Ibu Fati. Berkat doa yang khusyuk, permasalahan berbau mistis pun bisa diatasinya, termasuk mengusir dedemit.

Wanita kelahiran Padang ini sehari-hari membantu suaminya mencari pohon besar yang ingin dijual pemiliknya. Pohon itu di kemudian ditebang dan dipakai untuk usaha pembuatan berbagai kusen dan aneka mebel milik suaminya yang asli dari Jepara, Jawa Tengah.

“Umumnya, tidak menjumpai masalah. Tapi pernah, ketika pemilik pohon sudah sepakat dengan harga, sudah dibayar, tetapi rencana menebang pohon terkendala karena kata pemiliknya, pohon itu berhantu. Ada genderuwonya,” terang Fatimah kepada Netralnews.com pada Minggu(12/5/2019).  

Pohon yang sudah dibeli oleh Fatimah adalah pohon sonokeling (Dalberga latifolia) yang terkenal memiliki galih (bagian dalam kayu) berwarna hitam keunguan. Pohon ini biasanya dipakai sebagai bahan alternatif pembuat mebel dan alat musik, selain kayu jati.

“Pohonnya besar, diameternya hampir 2 meter. Usianya katanya sudah ratusan tahun. Pemiliknya tidak berani menebang karena takut kesambet (diganggu roh halus, red),” kata Fatimah.

Lokasi pohon sonokeling, menurut penuturan Fatimah ternyata berada di atas punden warga Desa Condongsari, Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Punden itu berupa mata air kuno yang dipercayai warga angker dan keramat. Nama punden itu adalah “Gondang”.

“Dari cerita pemiliknya, banyak orang melihat penampakan sosok genderuwo bila malam hari tiba. Dahulu bahkan pernah dijadikan sebagai tempat mencari wangsit dan nomor togel. Katanya, sempat beberapa orang menang judi berkat penampakan genderuwo di tempat itu,” tambah Fatimah.

Suatu ketika, pemilik pohon sonokeling besar itu memutuskan untuk dijual. Selain sedang membutuhkan biaya, juga karena sudah terlalu besar, takut sewaktu-waktu roboh menimpa sekitarnya.

Kebetulan Fatimah mendengar rencana penjualan tersebut. Ia segera meluncur untuk membeli pohon tersebut. Tawar-menawar tidak berlangsung lama.

“Sebenarnya saya beli cukup murah sebenarnya. Harganya relatif lebih rendah dari semestinya, mungkin karena pemiliknya kurang tahu harga kayu atau mungkin karena sudah tidak tahan dengan keangkeran pohon itu,” sambung Fatimah.

Fatimah yang sejak kecil terbiasa hidup dengan tradisi Melayu, masih memegang teguh ajaran orang tuanya yang sangat kental dengan nilai-nilai Islami. Ketika mendengar cerita pemilik pohon itu, Fatimah hanya bisa mendengarkan, menghormati, dan berusaha memakluminya.

Galih pohon sonokeling terlihat hitam keunguan

Ia sudah beberapa kali menghadapi kejadian serupa. Namun, pohon sonokeling satu ini yang paling besar dan unik menurut Fatimah.

“Setelah harga disepakati dan uang sudah saya berikan, saya mengatakan bahwa besuk paginya, pohon akan ditebang. Sorenya, tiba-tiba pemilik pohon itu tergopoh-gopoh ke rumah saya, meminta agar penebangan pohon ditunda,” tutur Fatimah.

Ibu pemilik pohon itu bingung karena mendadak suaminya kejang-kejang kesurupan. Ia percaya bahwa kesurupan itu disebabkan oleh makhluk halus yang menghuni pohon tidak terima jika pohon akan ditebang.

Pihak pemilik rumah meminta waktu untuk mengadakan selamatan terlebih dahulu. Mereka akan membuat semacam ritual doa dan sesaji kecil agar roh halus penunggu pohon itu berkenan pergi tanpa menimbulkan masalah.

“Tadinya saya bersikukuh tetap mau menebang pohon itu. Tetapi karena perempuan pemilik pohon itu memohon-mohon, maka penebangan saya tunda. Suami saya juga setuju agar ditunda setelah pemiliknya selesai menjalankan ritual. Kita menghormati kepercayaan mereka,” kata Fatimah.

Dua hari berikutnya, pemilik pohon itu datang lagi ke rumah Fatimah. Ia mengabarkan bahwa ritual sudah dilakukan. Mereka mempersilakan penebangan.

Suami Fatimah segera mengirimkan anak buahnya menuju lokasi. Fatimah ikut mengawal mereka sementara suaminya tetap mengawasi para pengrajin di rumahnya.

“Kalau waktu kecil saya di Padang, ada yang menyarankan bila memasuki tempat angker harus mengucap ‘Nek, Tok numpang lewat’. Tetapi waktu mau menebang pohon itu, saya tidak mengucap kata-kata itu,” kenang Fatimah.

Fatimah kemudian mengucap salah satu ayat suci Alquran. “Allah Ta’ala berfirman,

وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” kata Fatimah mengutip  Surat Fushshilat ayat 36.

Dengan melantumkan ayat suci Alquran, Fatimah bersandar pada Allah SWT. Ia percaya bila memang direstui Tuhan, maka aktivitasnya akan dilancarkan, termasuk jika berhadapan dengan makhluk halus.

Ternyata terbukti, penebangan pohon sonokeling berlangsung lancar dan tidak ada masalah apapun. Pohon yang dipercaya sebagai tempat tinggal genderuwo itu diterjang gergaji mesin chainsaw dan langsung tumbang.

“Pemilik pohon itu mendekat dan menyalami saya. Katanya saya hebat. Pohon langsung tumbang dan tidak timbul masalah apapun. Padahal ibu itu berdebar-debar, khawatir saya mengalami sesuatu,” tutur Fatimah.

Hari itu juga, pohon sonokeling itu dipotong-potong sesuai ukuran dan kebutuhan pembuatan mebel suaminya. Potongan kayu kemudian diangkut dengan truk menuju ke halaman rumah Fatimah.

Sebelum pulang, Fatimah menyalami pemilik pohon itu sambil mengucapkan beberapa kalimat ucapan terima kasih.

“Terima kasih juga untuk ibu yang telah berkenan memberikan selamatan sebelum pohon saya tebang. Jadinya, proses penebangan pohon berlangsung lancar,” kata Fatimah menirukan kata-katanya saat itu.

Fatimah mengaku sangat sadar mengucapkan kalimat itu.

“Saya tetap menghormati keyakinan orang itu. Biarlah ia meyakini dan memiliki caranya sendiri berdoa. Saya memiliki keyakinan sendiri juga. Nyatanya pohon itu tumbang dan semua lancar adanya. Itu sudah lebih dari cukup dan menjadi pertanda berkah untuk saya dan untuk ibu pemilik pohon itu,” pungkas Fatimah.

Editor : Taat Ujianto