• News

  • Sisi Lain

Ramadan Kurang Sehari, Rengganis Disergap Raksasa Gaib Penunggu Gua di Bantul

Gua Siluman, peninggalan Sultan Hamengku Buwono II di Bantul
Netralnews/dok.istimewa
Gua Siluman, peninggalan Sultan Hamengku Buwono II di Bantul

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Rengganis (44), ibu beranak dua, kelahiran Bantul, Yogyakarta, tidak menyangka bahwa dirinya masih bisa selamat dan berumur panjang hingga memiliki keturunan. Pasalnya, saat ia berumur 12 tahun, nyaris tidak bisa diselamatkan oleh orang tuanya.

“Hari sial itu terjadi menjelang bulan Ramadan tiba. Saya mau pulang ke rumah, usai membantu bapak bekerja di kebun. Badan saya mendadak panas dan gatal sekujur tubuh. Saking tak kuatnya, semua pakaian saya tanggalkan,” tutur Rengganis kepada Netralnews di kediaman barunya di Bogor, Jawa Barat.

Wanita berparas cantik dan berkulit langsat itu mulanya mengaku tak tahu apa yang menjadi penyebab sehingga mengalami gatal yang amat sangat. Ibu dan bapaknya kala itu ikut kebingungan melihat tangan Rengganis menggaruk sana sini, seperti cacing kepanasan.

“Badan saya dalam sekejap membengkak kemerahan. Semuanya tak terkecuali. Tidak sampai di situ, saya kemudian mengalami sesak nafas. Ibu saya panik. Minyak kelapa satu botol digosokkan ke sekujur tubuh saya tetapi tidak mengurangi sedikit pun rasa gatal,” sambung Rengganis.

Malam itu Rengganis kepayahan. Ia dibawa ke dokter dan diberikan penenang. Namun hingga pagi, Rengganis tidak kunjung membaik. Bahkan paginya tak sadarkan diri.

“Bapak dan Ibu saya mulanya mengira saya terkena bulu-bulu tanaman kara rawe yang memang terkenal bisa menimbulkan gatal-gatal. Tetapi, perkiraan mereka meleset,” tuturnya.

Tanaman kara rawe, bentuknya menyerupai kara benguk (Mucuna pruriens). Kadang disebut juga dengan nama Velvet bean.

Tanaman ini sebenarnya memiliki beberapa varietas. Polong bijinya dipenuhi bulu-bulu halus seperti beludru. Bulu polong bisa merangsang rasa gatal dan iritasi kulit karena mengandung zat yang beracun.

Varietas paling gatal dinamakan kara rawé. Dari kata itulah kemudian muncul peribahasa “Rawé-Rawé rantas, malang-malang putung”, yang artinya, “siapa pun yang membelit-belit seperti tanaman rawé, atau yang menghalangi jalan, akan terbabat dan terpotong.”

Dugaan ayah dan Ibu Rengganis ternyata keliru. Gatal yang dialami Rengganis, konon bukan disebabkan oleh kara rawé.

Rengganis menerangkan penyebabnya, “Siang harinya, Pak De saya (kakak dari ayah Rengganis, red) datang dan mengatakan bahwa saya nyaris dimangsa makhluk halus penghuni Gua Siluman yang saya lewati saat pulang  membantu bapak bekerja di kebun.”

Lelaki yang disebut Rengganis dengan sebutan Pak De rupanya adalah sesepuh kampung halaman Rengganis. Ia tergolong ahli supranatural dan dunia kebatinan masyarakat Jawa di Yogyakarta.

Lelaki itulah yang mengatakan bahwa makhluk halus yang mengganggu Rengganis berwujud seperti sosok bertubuh besar berambut gimbal dan mulutnya bertaring.

“Pak De saya menyebut makhluk itu tergolong jin yang mematikan. Tetapi yang membuat saya bingung, apa salah saya. Seingat saya, tidak ada perbuatan satupun yang tidak patut saat saya melewati lokasi Gua Siluman,” keluh Rengganis.

Rupanya, jin itu ingin memangsa bukan karena ada kesalahan yang diperbuat Rengganis. Makhluk mengerikan itu ingin menjadikan Rengganis sebagai tumbal atau teman sebelum memasuki Bulan Suci Ramadan, saat  jin tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kebetulan saya yang sedang melintas di depan makhluk yang tak kasat mata itu. Maka saya disembur dengan bisannya. Katanya, bila tidak segera ditolong Pak De, nyawa saya tidak akan bisa diselamatkan dalam tempo kurang dari dua hari,” terang Rengganis.

Itu artinya, tepat hari pertama puasa, jika Rengganis tidak ditolong, maka ia akan meninggal dengan kondisi mengenaskan. Tubuhnya akan membengkak akibat semburan racun dari mulut makhluk raksasa itu.

“Dengan ritual doa dan ramuan herbal yang diberikan Pak De, saya merasakan ada perubahan. Secara berangsur-angsur, rasa gatal dan sesak nafas menghilang. Hari kedua, sebelum malam Tarawih, saya sudah sembuh, tetapi sisa-sisa bengkak masih ada,” sambungnya.

Memasuki bulan Ramadan, Rengganis sempat dilarang berpuasa oleh bapak dan ibunya karena masih mengkhawatir keselamatan Rengganis. Tetapi, Rengganis justru bersikukuh menunaikan ibadah puasa.

“Justru karena saya ingin mengucap syukur atas keselamatan saya, makanya saya tetap bersikeras menjalani puasa. Pak De saya juga menyetujui karena ia melihat racun yang disemburkan makhluk raksasa itu sudah dibersihkan,” kata Rengganis menjelaskan alasannya berpuasa.

Itulah pengalaman unik yang dialami Rengganis dan berhasil dikorek Netralnews dalam rangkaian ngulik pengalaman nyata berbau mistis di bulan-bulan Ramadan.

Insyaallah, Lebaran nanti saya mudik. Mungkin saya akan mampir ke Gua Siluman sambil mengenang pengalaman kecil saya. Tapi saya akan mampir dulu ke makam Bapak dan Pak De. Saya tidak mau diganggu makhluk halus itu lagi,” demikian harapan Rengganis.

Mengenai Gua Siluman yang disebut-sebut Rengganis, sebenarnya tempat itu merupakan situs cagar budaya yang hingga kini masih dirawat oleh masyarakat Yogyakarta.

Lokasi persisnya berada di desa Wonocator, Banguntapan, Bantul. Gua yang dimaksud sebenarnya merupakan bekas bangunan pesanggrahan yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono II (1750-1828).

Bangunan berada di area seluas 20.000 meter persegi. Di sekitarnya terdapat kolam yang dahulu dirancang sebagai tempat permandian puteri-puteri keraton. Sementara itu, bangunan yang tersisa terdiri dari lorong-lorong yang tampak kusam dan ditumbuhi lumut.

Pesanggrahan ini sebenarnya merupakan bangunan yang belum sempurna atau belum selesai dibangun. Para pendiri Mataram kala itu keburu mendapat wangsit untuk memindahkan kerajaan dari kawasan Wonocatur menuji daerah Pleret.

Pesanggrahan di Wanacatur kemudian ditinggalkan. Di salah satu bangunan terdapat gedung yang menyerupai gua. Gua itu dinamakan Gua Siluman karena terkenal keangkerannya. Di dalam gua inilah, makhluk raksasa yang disebut-sebut Rengganis tinggal secara tidak kasat mata.

Walau bentuk Gua Siluman sudah tidak utuh lagi, masyarakat sekitar masih sangat menghormatinya. Selain sebagai situs sejarah, bangunan ini tetap dianggap keramat.

Editor : Taat Ujianto