• News

  • Sisi Lain

Sulit Memungkiri, ‘Wahyu’ Memimpin Negara dan Siluman Macan Menghuni Tempat Ini

Prasasti Batutulis pada tahun 1920
Netralnews/Tropenmuseum
Prasasti Batutulis pada tahun 1920

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Terlalu banyak untuk dirinci dan disebutkan apabila kita ingin menguraikan keunikan dan keragaman fenomena gaib yang terjadi pada situs peninggalan sejarah Sunda ini. Hampir semua masyarakat sudah mengetahuinya.

Bagi warga di luar Bogor, mungkin sekali waktu bisa melakukan wisata misteri ke tempat ini untuk sekadar membuktikan kebenaran kisah tersebut. Tidak ada ruginya sebab selain kaya misteri, tempat ini juga menyajikan pemandangan alam dan kaya objek wisata lain di sekitarnya.

Situs penuh misteri yang dimaksud adalah Prasasti Batutulis yang berlokasi di Jalan Batutulis Nomor 54, Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.

Asal Usul

Komplek Prasasti Batutulis menempati area sekitar 255 meter persegi. Selain batu prasasti juga menyimpan sejumlah benda peninggalan Kerajaan Sunda lainnya.

Prasasti Batutulis berangka tahun 1455 Saka atau sekitar 1533 Masehi. Bila menunjuk angka tahun tersebut, maka penelusuran asal usul prasasti akan membawa kita kepada sejarah Kerajaan Galuh Pakuan atau sering juga disebut dengan Pakuan Pajajaran yang berdiri pada abad XI-XVI.

Diperkirakan, prasasti ini dibangun pada masa pemerintahan Prabu Surawisesa yang berkuasa antara 1521-1536 Masehi. Prasasti ditujukan untuk menghormati ayahandanya yang telah mangkat, yaitu Prabu Siliwangi (1482-1521 Masehi).

Saleh Danasasmita dalam Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi (2015) menyebutkan “Mungkin pemasangan batu-tulis itu bertepatan dengan upacara srada yaitu ‘penyempurnaan sukma’ yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi.”

Penafsiran Danasasmita sebenarnya beralasan jika dibandingkan dengan isi terjemahan dari apa yang tertulis pada batu itu.

“Semoga selamat. Inilah tanda peringatan (untuk) Prabu Ratu almarhum, dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata...(dan seterusnya, red)”

Misteri Seputar Prasasti

Dalam catatan ekspedisi orang Belanda yang dilakukan oleh Van Riebeeck, pernah dikabarkan bahwa daerah sekitar Batutulis pernah mengalami kehancuran akibat letusan dahsyat Gunung Salak yang terjadi sekitar tahun 1699.

Tidak tahu pasti apakah peristiwa itu ada hubungannya dengan kehancuran kota Pajajaran atau tidak. Yang pasti, dalam tradisi lisan, Prabu Siliwangi dikabarkan menghilang dan tidak tahu di mana keberadaan makamnya.

Sebagian lain meyakini bahwa Prabu Siliwangi masih tetap menghuni Tatar Sunda. Dan di sekitar Prasasti Batutulis itulah menjadi tempat tinggal Prabu Siliwangi yang kini telah berubah wujud. Konon, ia bisa berubah wujud menjadi siluman macan.

Banyak warga Bogor mengaku pernah menjumpai penampakan siluman macan termasuk di sekitar Prasasti  Batutulis. Sosok macan itu, di waktu tertentu akan menjumpai seseorang yang ia kehendaki.

Ada pula yang meyakini bahwa di tempat ini, seseorang bisa mendapatkan kekuatan supranatural dari Prabu Siliwangi sehingga bisa menjadi pejabat atau orang yang mampu mempengaruhi publik. Tentu saja orang itu harus menjalani sejumlah ritual dengan bimbingan ahli spiritual.

Konon, mereka yang berhasil mendapat “wahyu” (istilah wahyu seharusnya hanya ditujukan bagi para nabi) akan mampu melihat penampakan cahaya atau kilat berwarna biru sebagai simbol kekuatan gaib yang diberikan kepada orang tersebut.

Cerita ini pula yang selalu dikaitkan dengan sosok Presiden Soekarno yang dahulu kerap mendiami Istana Batutulis yang lokasinya berada di seberang situs Prasasti Batutulis. Masyarakat meyakini bahwa Soekarno adalah salah satu tokoh yang pernah memperoleh “wahyu” tersebut.

Misteri terakhir yang sangat menghebohkan terjadi sekitar bulan Agustus 2002. Said Agil Husin Al Munawar, Menteri Agama di era pemerintahan Presiden Megawati, menginstruksikan penggalian di lokasi situs bersejarah tersebut.

Berdasar informasi dari seseorang, Sang Menteri meyakini di tempat tersebut terdapat harta karun peninggalan Prabu Siliwangi. Said Agil Husin Al Munawar yakin bila harta itu ditemukan, maka akan diserahkan kepada negara untuk membayar hutang negara.

Upaya penuh kontroversi itu berujung kegagalan. Alih-alih memperoleh harta karun, situs justru terancam mengalami kerusakan. Tak hanya itu, tindakannya ternyata telah melukai hati masyarakat Bogor dan mengguncang akal sehat rakyat Indonesia.

Editor : Taat Ujianto
Sumber : dari berbagai sumber