• News

  • Sisi Lain

Digerayangi Hantu ‘Pak Ogah‘, Rahmat Nyaris Terjun ke Jurang

Peringatan hati-hati di Jalur Tengkorak
foto: krjogja.com
Peringatan hati-hati di Jalur Tengkorak

BANYUMAS, NETRALNEWS.COM – “Memang benar. Jalur ini sangat angker. Saya pernah mengalaminya sendiri. Ada penampakan sosok ‘Pak Ogah’ mengganggu pengendara, tetapi ternyata bukan sosok manusia. Itu hantu,” tutur Rahmat (42) kepada Netralnews.com hari Kamis (23/5/2019).

Sosok "Pak Ogah" yang dimaksud Rahmat adalah warga biasa yang sering mengatur lalu lintas layaknya polisi. Ia melakukan itu untuk mendapatkan imbalan jasa uang recehan. 

Rahmat kala itu membawa mobil kijang bersama anak dan istrinya saat ingin mudik Lebaran tahun 2018. Hawa malam dan rasa lelah menerjang kemacetan tidak membuat Rahmat menyerah untuk menikmati Lebaran bersama keluarganya di kampung.

Saat memasuki jalan raya Banyumas-Buntu, tepatnya di Desa Pageralang, Banyumas, Jawa Tengah, atau biasa disebut sebagai “jalur tengkorak”, Rahmat merasakan matanya berkunang-kunang dan muncul penampakan sosok misterius terlihat dari kejauhan.

“Saya terkejut dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Jaraknya sekitar 100 meter. Di depan saya kebetulan sedang tidak ada kendaraan yang jaraknya dekat. Saya melihat sosok aneh berkepala gundul, bajunya putih, dan tangannya melambai-lambai menunjukkan arah tangan ke kanan. Artinya saya diminta belok ke kanan,” lanjut Rahmat.

Dalam benak Rahmat, berkata, “Bukankah sebelah kanan adalah jurang? Firasat saya mengatakan, ini (sosok ‘Pak Ogah’, red) pasti tidak benar. Sontak saya istigfar, Astagfirullah...! Dan benar, dalam sekejap, saat kendaraan saya berada persis di sampingnya, sosok itu menghilang seketika,” kata Rahmat dengan muka tegang.

Rahmat menghela nafas panjang dan mengucap syukur kepada Yang Maha Kuasa. Sekali lagi ia merasa terhindar dari marabahaya. Ia sadar dan hafal jalur itu, bila mobil dibelokkan ke kanan, pasti menerjang pembatas jalan dan meluncur ke jurang.

Saat memasuki pom bensin terdekat, Rahmat membangunkan istri dan anaknya. Ia tidak menceritakan penampakan yang dialaminya agar tiduk membuat mereka panik. Baru ketika sampai di kampungnya, kejadian itu diceritakan kepada istrinya.

Pengalaman yang dialami Rahmat menambah referensi tentang misteri keangkeran Jalur Tengkorak. Mitos masyarakat tentang keangkeran ini sepertinya tak pernah berhenti mengalir.

Keangkerannya menyebabkan tingginya angka kecelakaan di jalur yang berkelok, naik-turun, membelah tebing, serta menerobos wilayah hutan milik Perhutani. Di sejumlah pohon besar di jalur itu konon ada penunggunya.

Bahkan ada cerita bahwa sosok penunggu pohon besar di jalur itu kadang juga menampakkan diri dalam rupa sosok anak kecil. Bila ia menampakkan diri dan meminta mainan kepada juru kunci di wilayah tersebut, itu pertanda sebentar lagi akan ada kecelakaan.

Permintaan mainan artinya simbol atau kode bahwa penunggu tempat itu membutuhkan teman bermain. Sosok makhluk halus itulah yang diduga menjadi salah satu penyebab kecelakaan yang sering merenggut korban di jalur tersebut.

Sosok makhluk halus yang menampakkan diri kepada Rahmat, bisa jadi merupakan bagian dari fenomena seperti halnya sosok anak-anak kecil, penghuni pohon besar di Jalur Tengkorak. Ini diyakini juga oleh Rahmat.

“Saya yakin dengan apa yang saya lihat. Itu makhluk halus pengganggu jalur mudik tersebut. Maka, saya berpesan agar semua pengendara, mohon benar-benar konsentrasi,” pesan Rahmat kepada Netralnews.com.

Selain konsentrasi, setiap pengendara yang melewati jalur itu ada baiknya memastikan kondisi fisiknya harus benar-benar prima. Juga penting membekali diri dengan doa permohonan keselamatan.

Sedangkan dalam tradisi masyarakat setempat, ada juga saran yang diberikan kepada setiap pengendara saat melintasi jalur tersebut yaitu agar membuang sebagian harta (uang koin) ke pinggir jalan sebagai simbol membuang sial.

Hanya saja, tradisi ini juga patut dikaji ulang. Pasalnya, ketika banyak penumpang membuang uang koin, muncul orang-orang yang memanfaatkannya. Mereka berdatangan dan mengambil koin-koin yang dibuang pengendara.

Bahkan ada juga yang sengaja mengemis. Ini pula yang menjadi salah satu penyebab para pengendara terganggu konsentrasinya.

Pada bulan Agustus 2013, fenomena pengemis terbukti pernah menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan bus Karya Sari nomor polisi AA 1654 CD jurusan Solo-Yogyakarta-Purwokerto yang mengakibatkan 12 orang tewas.

Selain karena rem blong, sopir bus (Suryanto) mengaku panik ketika hendak membanting setir ke kiri. Di sebelah kiri ada banyak pengemis di sepanjang pinggiran jalan. Ia akhirnya membanting setir ke kanan. Malangnya ada kendaraan sedan Corolla dan dua sepeda motor dari arah depan.

Bus menyeret sedan dan dua sepeda motor itu kemudian masuk ke jurang sedalam 14 meter. Kecelakaan itu terjadi di siang hari, bukan di malam hari.

Oleh sebab itu, penting bagi semua pihak mencermati fenomena pengemis di jalur itu, terutama di saat menjelang dan sesudah Lebaran. Ada baiknya semua berpikir secara bijak. 

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?