• News

  • Sisi Lain

Naomi Terkesiap, Sosok Perempuan yang Mendekapnya Persis Wajahnya

Ilustrasi rumah kosong di wilayah Bilabong, Bogor
Netralnews/ Dok.Istimewa
Ilustrasi rumah kosong di wilayah Bilabong, Bogor

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Naomi menekan saklar untuk mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur. Terang benderang pun berganti redup. Ia segera naik ke ranjang tempat tidurnya. Selimut ia rapatkan.

Malam telah larut. Musim penghujan di Bogor membuat Naomi bisa merasakan arti rasa dingin yang menusuk tulang. Ia ingin segera tidur. Esok pagi, padatnya agenda kegiatan sekolah telah menanti.

Benak Naomi masih mampu mengingat, ia beranjak ke tempat tidur pada pukul 22.45. Hari Minggu telah ia habiskan untuk bersantai dan memanjakan diri. Esok hari Senin, hari yang membosankan. Pagi-pagi harus berjemur di lapangan upacara.

Naomi segera memejamkan mata. Ia sempatkan sejenak mengucap doa. Ia bersyukur atas berkah kehidupan dan memohon dikirimkan rasa kantuk yang bisa membawanya pada tidur lelap yang sempurna.

Telinganya masih mendengar sayup-sayup bunyi detik jarum jam dinding di ruangan kamarnya. Kamar luas berdinding oranye, warna kesukaannya itu, kini benar-benar telah tertutup oleh kedua kelopak matanya.

Sepuluh menit berlalu. Naomi masih merasakan belum bisa tertidur. Ada sesuatu yang ganjil di sampingnya. Ia merasakan ada sosok mendekat, merayap, meraba, dan mendekap dari samping.

Naomi heran. Seingatnya, ia tidak menaruh guling di sampingnya. Pikirannya menjadi terganggu. Ia buka kain selimutnya. Mata Naomi terbelalak.

Di sampingnya tiba-tiba ada sesosok perempuan berambut ikal, bermata bulat, beralis tebal, berkulit langsat, sama persis dengan raut wajahnya.

Ia kibaskan selimutnya, turun dari ranjang, dan tergopoh-gopoh meraih saklar lampu. Kamarnya berubah terang benderang kembali. Ia tengok ke ranjangnya. Tak ada siapa-siapa.

Di atas ranjang, hanya ada selimut tergelepar akibat hentakan yang baru saja ia lakukan karena saking terkejutnya. Ia mengusap wajahnya dan menahan nafas. Ia kuatkan dirinya dan segera berlari menuju kamar ayah dan ibunya.

“Itu pertama kali saya dikunjungi saudara kembar yang telah meninggal sejak saya usia dua tahun. Saya sendiri tidak pernah ingat kembaran saya. Ia perempuan dan konon mirip mukanya dengan saya,” tutur Naomi (28) kepada Netralnews.com di kediamannya, hari Sabtu (25/5/2019).

Menurut penuturan ibunya, Naomi lahir lebih dulu dari kembarannya. Keduanya kemudian tumbuh bersama hingga berumur dua tahun. Sayangnya, di suatu pagi, kembaran Naomi mendadak demam tinggi dan kejang-kejang.

Orang tua Naomi berusaha membawanya ke Jakarta. Perjalanan yang terlalu lama menyebabkan kembaran Naomi terlambat mendapatkan penanganan. Tiba di Sint Carolus, Jakarta, kembaran Naomi sudah tidak sadarkan diri. Dua hari berikutnya meninggal.

Sejak saat itu, Naomi tidak lagi memiliki saudara lagi. Adik maupun kakak kandung pun tidak. Ia menjadi anak semata wayang ayah dan ibunya.

“Saat SD, saya pernah meminta adik, tetapi ayah dan ibu saya selalu menjawab dengan menggelengkan kepala. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi meminta,” kata Naomi.

Hingga duduk di kelas dua SMA, Naomi tidak pernah tahu bahwa ia sebenarnya pernah memiliki saudara kembar. Karena peristiwa malam itu, barulah ia tahu detail sejarah hidupnya dari ayah dan ibunya.

“Yang saya ingat, ibu saya, kalau belanja apapun untuk saya selalu berjumlah dua. Beli baju dua dengan ukuran dan warna yang sama. Beli sepatu untuk saya juga dua dan selalu sama persis. Kalau ditanya, ibu saya hanya menjawab, ‘untuk cadangan’. Saya pun manggut-manggut saja,” sambung Naomi.

Setiap barang kedua, disimpan di almari yang terpisah dengan almari Naomi. Naomi patuh. Jika barang yang satu rusak atau sedang dicuci, maka ia menggunakan barang kedua. Begitu seterusnya sehingga menjadi kebiasaan yang belum ia ketahui maksudnya.

“Ibu akhirnya menceritakan kisah rahasianya. Walaupun saudara kembar saya sudah meninggal, katanya ia sering menampakkan diri di rumah. Kadang berada di samping saya, saat saya sedang bermain. Anehnya, yang melihat hanya ibu saya,” kata Naomi pelan.

Ia masih menambahkan, “Ibu saya menganggap kembaran saya tetap tumbuh membesar seperti saya. Ia menamakan Naura. Ibu saya berjanji ingin merawat saya dan Naura. Itu sebabnya ia dan ayah sepakat tidak akan menambah anak lagi,” kata Naomi dengan mata berkaca-kaca.

Rupanya, Ibu Naomi memang sengaja tidak pernah memberi tahu rahasia masa kecil Naomi agar ia tumbuh tanpa beban. Ketika Naomi menyaksikan sendiri bahwa sosok Naura masih tinggal bersama, barulah Naomi diberi tahu segalanya.

“Sejak malam penampakan itu, saya percaya bahwa sehari-hari saya ditemani Naura. Ia tidak kelihatan tapi di saat-saat tertentu, saya merasakan ia hadir menemani  saya,” kata Naomi yang kini telah lulus Sarjana Strata Dua dan bekerja di sebuah Bank di Jakarta Selatan.

“Saya sekarang sudah mengambil rumah baru di Pasar Minggu. Ayah dan Ibu saya ikut bersama saya. Rumah lama, tempat saya dan Naura pernah bersama selama dua tahun berada di Perumahan Bilabong, Kabupaten Bogor,” tambah Naomi.

Ia menyebutkan alamat rumah lamanya. Rumah itu konon jarang dikunjungi dan sudah mengalami kerusakan. Sama seperti beberapa rumah mewah lainnya yang rusak dan dibiarkan kosong di perumahan itu.

“Sayang sebetulnya, tapi mau bagaimana. Saya terlalu capek kalau tinggal di Bogor. Kalau dari Pasar Minggu, ke tempat kerjaan tidak terlalu jauh. Waktu tidak banyak terbuang di jalan,” pungkas Naomi.

Terdorong oleh rasa penasaran, Netralnews.com sempat melacak  alamat perumahan yang dimaksud Naomi. Dari alamat tertulis, sampailah pada satu rumah besar yang tampaknya sudah tidak terawat cukup lama.

Karena, saat pencarian alamat dilakukan saat hari sudah petang, tim Netralnews, justru merasakan mirinding saat mendekati rumah itu. Rumah itu terasa menyeramkan

Mitologi mengenai kekuatan supranatural di balik anak kembar kemudian terbayang di benak. Buru-buru tim Netralnews.com beranjak meninggalkan tempat itu. 

Editor : Taat Ujianto