• News

  • Sisi Lain

Warok Suro Bledug Berhadapan dengan Roh Halus Penghuni Keris, Ada Prabu Siliwangi

Bernardus Nurqiantoro atau Warok Suro Bledug
Netralnews/dok.pribadi
Bernardus Nurqiantoro atau Warok Suro Bledug

YOGYAKARTA, NETRALNEWS.COM - Nama aslinya Bernadus Nurqiantoro (42), kelahiran Wonosari, DI Yogyakarta. Sejak 10 tahun terakhir, ia mengikrarkan dirinya menjadi pegiat budaya Jawa dengan nama Warok Suro Bledug.

Sejak kecil, ia sudah memiliki ketertarikan dengan budaya Jawa dan hasil-hasilnya. Sebagai orang Jawa, ia ingin berkontribusi melestarikan budaya adilihung agar tidak dilupakan bangsa Indonesia.

Tentang sebutan namanya,“Nama itu saya pilih untuk mengingatkan bahwa leluhur saya berasal dari Jawa Timur. Meskipun warok khas Ponorogo sementara leluhur dari Malang, namun leluhur saya dahulu memang seorang yang disegani dengan nama Jaya Mustaram,” papar Sang Suro Bledug.

“Sosok warok ini memiliki sifat ksatria. ‘Suro’ itu kerbau sebagai simbol pendiam dalam arti penyabar namun sebenarnya mempunyai kekuatan yang sangat besar. Sedangkan ‘Bledug’ artinya ‘debu’. Ini adalah simbol bahwa aktivitas Sang Kerbau akan berlangsung tiada pernah berhenti,” tambahnya.

Membuat Benda-Benda Budaya Jawa

Berlandaskan pada prinsip spiritualitas dan jiwa orang Jawa, Nurqiantoro atau Warok Suro Bledug kini menekuni pembuatan benda-benda kebudayaan Jawa terutama warangka keris, surjan, singep, jagrak, blawong, dan lain-lain.

Di rumahnya yang terletak di Dusun Ngijorejo, Desa Gari, Kecamatan Wonosari, Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat koleksi dan berbagai jenis produk karya tangan yang sudah dipesan oleh kalangan pengagum pakaian dan aneka benda budaya Jawa.

“Pemesan keris itu biasanya mempunyai harapan atau cita-cita yang ingin tercapai. Ikrar mewujudkan impiannya kemudian dicurahkan dalam bentuk keris. Ada ratusan bentuknya yang disebut ‘dhapur’, contohnya dhapur jalak, dhapur tilam sari, keris luk seperti keris jangkung luk 3, pandawa luk 5, dan seterusnya,” terang Nurqiantoro.

Masih menurut penuturannya, “Di dalam keris juga ada istilah ‘pamor’ atau warna putih yang membentuk motif dalam permukaan keris, misalnya pamor woswutah, udan mas, junjung derajad, dan sebagainya. Semuanya memiliki filosofi yang sangat dalam dan tak bisa dijabarkan hanya dalam dua lembar tulisan.”

Bahkan masing-masing bahan dasar pembuatan keris pun memiliki filosofinya sendiri-sendiri yang juga tak akan selesai dibahas dalam tempo dua hari dua malam. Itu disebabkan karena begitu banyak detail pernak-pernik dalam pembuatan keris dan masing-masing memiliki makna dan tujuan.

Dalam hal pembuatan warangka keris, Warok Suro Bledug menjelaskan, “Warangka juga banyak macamnya. Bentuk warangka biasanya menunjukkan daerah tertentu. Ada model warangka Bali, Melayu, Bugis, Madura, Yogyakarta, Solo, dan lain-lain.”

Bahkan satu daerah saja ternyata memiliki keberagaman bentuk dan arti. Misalnya, di Yogyakarta, model branggah, gayaman, pakualaman, dan sebagainya. Model warangka itu biasanya dinamakan juga dengan istilah wanda atau wandan, misalnya warangka Yogyakarta wandan Pakualaman.

Keberagaman dan kekayaan yang tersimpan dalam keris juga bisa dilihat dari gagang atau handle keris, atau sering disebut juga deder atau ukir. Bentuk dan modelnya ada banyak sekali.

Nama-nama berikutnya dalam bagian keris antara lain mendak  yakni bagian seperti cincin yang terdapat di pangkal keris. Kemudian pendok yakni logam yang menutupi sarung keris. Semua itu juga memiliki banyak motif.

Untuk benda-benda berupa aneka pakain Jawa seperti surjan, singep, jagrak, dan blawong, Nurqiantoro selalu dibantu oleh Istrinya yang setia menjahit pakaian sesuai pesanan.

Pergumulan dengan Khodam

Menjadi pegiat budaya Jawa, salah satu tantangannya adalah berani mendalami dunia spiritual Jawa. Bukan budaya Jawa bila tanpa dipenuhi simbol dan unsur  spiritual. Dari awal mula, manusia Jawa sangat akrab bergumul dengan bidang itu.

“Terkait pengalaman spiritual dalam pembuatan warangka keris, sebenarnya, hal yang paling lama dilakukan itu adalah nglaras yakni membuat bentuk akir sesuai pakem (ketentuan adat Jawa). ini diperlukan keheningan batin bagi saya. Kadang seolah sudah selesai tapi dalam perjalanan waktu ternyata rasa hati tidak sreg (cocok),” papar Nurqiantoro.

Proses tersebut merupakan bagian yang wajib dilalui dimana ia digembleng naluri spiritualnya. Ia tidak memungkiri juga saat harus membuat warangka untuk pusaka, hal-hal aneh yang tidak bisa dijelaskan secara ilmiah bisa terjadi.

“Pernah saya ditemui sosok pria dengan pakaian ksatria kraton. Pernah juga didatangi nenek-nenek dengan bentuk yang aneh, bahkan terakhir ini, didatangi tiga ibu dari Jawa Barat berjilbab yang katanya mencari titisan Prabu Siliwangi,” terangnya.

Nurqiantoro pada mulanya awam dengan dunia supranatural. Keganjilan dan keanehan kadang membuatnya bingung mengapa fenomena mistis itu bisa terjadi.

“Bahkan, saya pernah merasakan dicekik oleh sosok gaib  yang sangat mengerikan saat tengah membuat warangka keris,” lanjutnya.

Ketika menghadapi fenomena seperti itu, Nurqiantoro ternyata juga memilki pegangan spiritual “tambahan” yang ia anut sejak kecil yakni ajaran Agama Katolik.

“Spiritual utama yang sangat penting bagi saya adalah berpegang teguh pada doa-doa yang diajarkan Yesus. Itu terbukti menjadi sumber kekuatan yang tiada taranya. Tentu harus dilandasi keyakinan penuh,” jelas Nurqiantoro.

Ia kemudian mengambil contoh salah satu doa yang diajarkan Yesus.

“Coba kita renungkan ini: ‘Jauhkanlah dari pencobaan dan bebaskanlah kami (saya) dari yang jahat.’ Itu adalah salah satu kalimat penting dalam membentengi diri saat menghadapi sosok-sosok gaib. Ada kalimat-kalimat lain yang mempunyai makna dan fungsi yang berbeda-beda,” lanjutnya.

Ia menjelaskan bahwa dalam spiritual Jawa, ada istilah yang namanya tayuh yakni fenomena srawung (pergaulan antar roh penghuni keris) pusaka yang berkhodam (dihuni makhluk gaib).

Keris pusaka seperti itu biasanya bisa ditayuh dengan cara tertentu sehingga kita bisa berkomunikasi dengan khodam tersebut. Tak jarang, khodam itu sengaja nayuhi (menemui) orang yang dianggap cocok bagi roh tersebut.

“Waktu itu, ada keris sepuh (tua) punya klien yang saya simpan. Selang beberapa hari, tiga ibu berjilbab dari Jawa Barat mencari orang yang katanya titisan Prabu Siliwangi yang disinyalir ada di kampung saya,” tutur Nurqiantoro.

Masih penuturannya, “Tiga ibu itu ke rumah dan ditemui istri saya di ruang jahit. Mereka menanyakan siapa di kampung saya yang merupakan titisan Prabu Siliwangi. Namun istri saya bingung. Saat melihat saya datang, sekonyong-konyong, ketiga ibu bangkit bersamaan dan berseru, ‘Nhaaa, itu dia. Mirip seperti ini’ sambil menunjuk saya. Saya pun menjadi kebingungan,” kenang Nurqiantoro.

Editor : Taat Ujianto