• News

  • Sisi Lain

Tak Disangka, Ani Yudhoyono Pernah Menaklukkan Hantu Penghuni Istana Merdeka

Ani Yudhoyono bersama keluarga di Istana Cipanas
Foto: Instagram/Aniyudhoyono
Ani Yudhoyono bersama keluarga di Istana Cipanas

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Siapa akan mengira bahwa keangkeran gedung Istana Merdeka juga pernah dikisahkan oleh Ibu Negara ke-6 Republik Indonesia, Kristiana Herawati atau akrab dipanggil Ani Yudhoyono.

Sebagai Ibu Negara yang senantiasa mendampingi Susilo Bambang Yudhoyono selama 10 tahun (2004-2014), Ani Yudhoyono tentu saja sudah sangat akrab dengan semua sudut gedung bersejarah yang terletak di Jalan Medan Merdeka Utara No.3, Jakarta Pusat.

Sehebat dan seterkenal apapun seseorang, pertama-tama pasti akan merasakan canggung ketika diminta tinggal di Istana Merdeka. Demikian halnya yang dirasakan Ani Yudhoyono.

Selain gedung yang megah, semuanya serba “angker” dalam arti jauh dari kerumunan, tidak sembarangan orang boleh masuk, dan sebagainya. Ia membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan kediaman barunya ketika suaminya terpilih sebagai Presiden ke-6 RI.

Bayangan keangkeran Istana Merdeka membuat Ani terasa berat melangkahkan kaki. Walaupun jarak rumahnya di Cikeas, Bogor, relatif tidak terlalu jauh dengan Istana Merdeka, tetap saja ada rasa keengganan yang misterius.

Kisah bagaimana lika-liku tinggal di Istana Merdeka yang konon angker itu, ditulis oleh Alberthiene Endah dalam buku Ani Yudhoyono: 10 Tahun Perjalanan Hati (2018). Buku ini terbit pada bulan Juli tahun lalu.

Ani mengaku bukanlah perkara gampang untuk menyesuaikan diri dengan situasi serba kaku yang sangat khas di Istana Merdeka. Suasana hatinya tidak menentu.

"Satu, dua, atau tiga hari di dalam istana mungkin akan menciptakan sensasi excited. Tapi selanjutnya, saya yakin siapa pun akan merindukan bantal guling di rumah, atau aroma hangat dapur dan ruang-ruang privat yang sangat akrab," kata Ani kepada Alberthiene Endah.

Tentu saja ia sangat bersyukur karena dipercaya menjadi Ibu Negara ke-6. Ia juga sekuat daya menerima berkah tersebut. Bagaimanapun juga ia harus betah tinggal di lingkungan baru.

Parahnya, di tengah kesiapan yang sedang dibangunnya, Ani justru merasakan gangguan-gangguan aneh yang berasal dari kisah-kisah mistis yang ia dengar dari sanak saudaranya.

Salah satu saudara Ani mengingatkan agar hati-hati karena bangunan itu dihuni makhluk halus.

"Hati-hati lho, Mbak, bangunan tua itu biasanya ada penghuninya," kata Ani menirukan peringatan saudaranya.

Ani Yudhoyono sempat menanggapinya sambil berusaha bercanda. "Lha ya pasti, sekarang saya dan Mas Bambang yang menghuni," jawab Ani.

Merasa tak puas dengan jawaban dan tanggapan Ani yang sepertinya tidak menjadi takut, saudaranya kembali menakut-bakuti Ani. Kali ini ia mempertegas ucapannya bahwa “penghuni” yang dimaksud adalah sosk-sosok hantu.

Ani tetap berusaha menanggapinya dengan tegar dan berani. Hanya dengan cara itu, anggapan Istana Merdeka berhantu bisa dihentikan, paling tidak bisa menguranginya sehingga  tidak menjadi semakin liar dan memperkeruh suasana (menakutkan).

Ani sebenarnya tergolong sebagai pribadi yang kurang memercayai penampakan-penampakan hantu. Mungkin karena itu juga ia merasakan menjadi lebih kuat.

Walaupun begitu, ketika suaminya sedang dinas dan tidak berada di Istana Merdeka bersamaan dengan para petugas protokol kepresidenan pergi, tetap saja ia mengaku merasa merinding.

"Saya lalu pura-pura riang melangkah ke segala penjuru istana, padahal sedang melarikan diri dari ketakutan di dalam kamar sendirian," tutur Ani.

Menghadapi dorongan gangguan yang menyerang syaraf-syaraf ketakutannya, Ani mencari cara dan pemahaman yang ampuh agar gangguan-gangguan dalam perasaannya bisa ditumpas.

"Siapa tahu kalau memang benar ada hantu, mereka baik pada saya. Maka saya pun meminta untuk bisa memahami istana lebih jauh," harap Ani dalam hati.

Ani Yudhoyono bersyukur. Di masa-masa awal mendiami Istana Merdeka, ada tim Sekretariat Presiden (Setpres) yang sangat membantu dirinya mengenali semua sisi Istana Merdeka.

Salah satu Tim Setpres itu bernama Otty. Bersamanya, Ani diajak berkeliling melihat-lihat semua sudut ruangan Istana. Sebelumnya ia hanya melihat dari layar televisi, tetapi kini ia  melihat langsung bagaimana ruang tamu negara, tempat presiden menyambut orang-orang penting.

Nama ruangan itu adalah Ruang Jepara. Ruangannya terkesan sangat mewah dengan dinding yang dihiasi aneka motif ukiran Jepara.

Setelah berkeliling dan dikenalkan sejarah gedung secara singkat oleh Otty, tumbuh keinginan Ani untuk semakin mendalami sejarah bangunan tua yang sudah berusia berabad-abad tersebut.

"Jadi, buat apa takut sama hantu? Malah saya tertantang untuk menyusuri istana-istana lainnya dan menginap di sana," kata Ani.

Bisa jadi, dengan berkeliling, menyelami, menghirup udara di sudut-sudut Istana Merdeka, Ani menjadi menyatu (mengenal mendalam) dengan gedung Istana Merdeka. Dengan cara itu, hantu yang mengganggu hati Ani, berhasil ditaklukkan.

Kalaupun benar ada banyak hantu di Istana Merdeka, mereka pasti sudah kenal terlebih dahulu dengan sosok Ani, Ibu Negara yang akan mendiami gedung selama beberapa tahun ke depan, mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Belum genap setahun setelah menerbitkan bukunya, ia ternyata menghadap ke Sang Khalik. Ia meninggal pada hari Sabtu (1/6/2019) pukul 11.50 akibat kanker darah yang diidapnya beberapa bulan terakhir. 

Bangsa Indonesia kehilangan sosok Ibu Negara yang sederhana dan penuh perhatian. Selamat jalan Ibu Ani, damailah senantiasa di Surga Abadi, Amin.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?