• News

  • Sisi Lain

Kolonial Belanda Ternyata Pernah Terdesak oleh Serangan Hantu Pemakan Organ Kelamin

Orang Belanda di antara warga Papua sekitar tahun 1969
Netralnews/ Dok.Istimewa
Orang Belanda di antara warga Papua sekitar tahun 1969

MANOKWARI, NETRALNEWS.COM - Pada bulan Januari 1960, Frans Peter dibuat pusing tujuh keliling. Setelah selesai membangun permukiman penduduk di Warmare (kini masuk Kabupaten Manokwari, Papua Barat), tersiar kabar bahwa Nico Mandatjan tiba-tiba meninggal tanpa sebab.

Nico Mandatjan adalah seorang anak kepala Desa Mokwam dan salah satu tokoh penting proyek migrasi orang-orang Papua dan Belanda dalam rangka pembukaaan lahan perkebunan baru yang digagas pemerintah Kolonial Belanda.

Kematiannya ternyata disusul dengan kematian-kematian warga lainnya yang kemudian membuat geger warga Papua yang sedang “dibina” di bawah pengawasan Frans Peter. Warga setempat percaya bahwa kejadian itu akibat serangan hantu yang mematikan.

Mengenai Frans Peter, ia adalah lelaki berkebangsaan Belanda yang dipercaya Ratu Belanda menjadi Kontrolir di wilayah Residen West Nieuw Guenea (kini bernama Papua) pada tahun 1958.

Dalam laporannya berjudul “HPB di Manokwari, Menangani Segudang Tugas” dalam buku Pim Choorl berjudul Belanda di Irian Jaya (2001: 162-163), disebutkan bahwa kematian-kematian mendadak misterius itu disebabkan oleh serangan hantu bernama “suanggi”.

Setelah Nico Mandatjan, tokoh penting yang menyusul menemui ajal adalah seorang Kepala Desa Siau. Ia juga meninggal mendadak setelah pulang dari Manokwari. Berikutnya adalah kematian massal dan mendadak yang dialami 31 orang warga di Desa Moire,

Frans segera mengirim tim penyelidikan. Dari keterangan penduduk Warmare, diperoleh informasi bahwa di daerah Warmare telah terjadi serangan praktik ilmu hitam dengan mengirimkan makhluk halus atau roh gaib sehingga semua warga mengalami ketakutan dan, tak berani keluar rumah.

Yang membuat Frans Peter dan anak buahnya menjadi pusing tujuh keliling, bukan hanya karena serangan roh gaib yang mengakibatkan kematian massal. Yang lebih memusingkan karena fenomena mistis itu menyebabkan seluruh aktivitas pembukaan lahan perkebunan cokelat berhenti total.

Semua warga lari tunggang langgang pulang ke rumah. Tak ada orang Papua yang mau dan berani melanjutkan pekerjaan mereka membuka lahan perkebunam. Suasana menjadi begitu sunyi mencekam.

Sebagian dari warga Warmare menganggap bahwa tragedi yang menakutkan itu karena serangan sosok hantu bernama suanggi yang dibangkitkan oleh seseorang. Hantu itu marah karena aktivitas pembabatan hutan, pembangunan jalan, dan pembukaan perkebunan secara besar-besaran.

Bagi warga Papua, hantu itu terkenal mematikan dan tidak mudah dilawan. Selain bisa menyerang secara massal, dalam kepercayaan orang Indonesia Timur, hantu ini konon suka memakan kelamin kaum laki-laki.

Karena hantu suanggi sangat mengerikan, mereka mengusulkan kepada Tuan Kontrolir Frans Peter agar  mau menunda pembangunan proyek perkebunan. Mereka khawatir serangan hantu suanggi akan semakin menjadi-jadi.

“Hanya menghirup udara atau makan di sana saja, bisa menyebabkan penyakit atau kematian. Hantu suanggi tak bisa dilawan,” demikian pendapat warga kebanyakan.

Pendapat lain mengatakan jika berlama-lama di Warmare berarti mengundang maut. “Tuan juga harus hati-hati,” saran mereka kepada Frans Peter.

Frans Peter sempat berpikir ulang dengan tugasnya. Namun, tugas adalah tugas. Ia berusaha melawan mitologi warga setempat. Kebetulan, menurut kepercayaan warga setempat, hantu suanggi konon hanya memangsa warga asli Nieuw Guenea (Papua).

Bagaimanapun juga, walaupun hantu tidak akan meyerang Frans Peter, tapi ia benar-benar terdesak karena sangat dirugikan. Mitologi tentang hantu suanggi menyebabkan ia kesulitan mendapatkan tenaga kuli untuk melanjutkan proyeknya.

Di satu sisi, ia berusaha menghormati kepercayaan warga. Di sisi lain, ia juga harus mampu menemukan cara untuk melawan hantu suanggi. Paling tidak, agar ia bisa mencegah bencana kematian massal?

Frans Peter berusaha mencari semua kemungkinan yang bisa menjadi solusi persoalan tersebut dengan sabar. Kesabaran Frans Peter ternyata membuahkan hasil.

Frans Peyter membagikan obat malaria dan disentri kepada penduduk. Dengan caranya, Ia berusaha meyakinkan bahwa obat itu bisa membuat warga kuat dari serangan hantu suanggi. Frans Peter bahkan juga mendatangkan juru rawat dan mendirikan poliklinik. 

Entah karena hantu suanggi yang mengalami kelelahan menyerang warga atau karena efek dari obat malaria dan desentri yang dibagikan, yang pasti, wabah kematian berangsur berkurang.

Bulan Juli 1960, mesin bolduser meraung-raung kembali. Satu per satu warga Warmare kembali membuka lahan perkebunan cokelat.

Cerita di atas adalah kisah nyata tentang sepenggal kejadian di tanah Papua pada masa pendudukan Belanda. Orang Belanda telah mencatat tentang keberadaan hantu suanggi yang ternyata diyakini oleh banyak warga Indonesia di wilayah Timur.

Kepercayaan tentang hantu suanggi ternyata tidak hanya ada di Papua, tetapi juga ada di Maluku, Halmahera, dan Nusa Tenggara.

Konon, hantu suanggi berasal dari roh nenek cantik. Awalnya ia iri dan dengki terhadap kepemilikan orang lain. Bukanya berusaha dengan cara baik-baik, ia justru melakukan ritual menyembah pohon selama 40 hari. 

Ia berharap permohonannya terkabul. Namun, ternyata bukan ilmu sihir yang didapatkan, tapi justru dimangsa penunggu pohon. Warga menemukan nenek itu telah mati dengan kondisi mengenaskan. Konon, roh nenek itu kemudian penasaran dan gentayangan mencari mangsa.

Hantu suanggi tidak hanya berwujud satu bentuk. Ia bisa mengubah dirinya menjadi bola api yang terbang di angkasa. Ia dapat hinggap dan membakar tubuh seseorang yang  diinginkan.

Hantu suanggi diyakini juga bisa menimbulkan wabah penyakit, makan daging manusia, dan bisa pula membunuh banyak orang secara bersamaan.

Hantu suanggi juga dipercayai di daerah Tobelo, Kepulauan Halmahera. Di wilayah ini, suanggi diyakini berwujud perempuan cantik yang gemar memangsa lelaki hidung belang. Bila lelaki hidung belang tidak juga bertobat, ia adalah salah satu target sasaran.

Hantu suanggi biasanya menyamar menjadi wanita cantik, lalu menggoda, merayu, dan selanjutnya mengajak lelaki itu berhubungan intim. Saat berhubungan intim, Hantu suanggi akan memakan kelamin laki-laki dan menghisap darahnya hingga tewas.

Ternyata tidak hanya memangsa lelaki hidung belang. Konon, di Maluku Utara pada 1999, terjadi kejadian serupa. Sosok wanita misterius muncul dan menghebohkan warga.

Kecantikannya mampu meluluhkan banyak pemuda dan kemudian menjadi mangsa suanggi. Mereka ditemukan tewas kehabisan darah dengan kondisi tanpa kelamin. 

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?