• News

  • Sisi Lain

Lebaran Kelabu, Riyana Jatuh ke Jurang karena Dikutuk Arwah Leluhur?

Makam Kyai Brengkel di Purworejo
Netralnews/ dok.youtube
Makam Kyai Brengkel di Purworejo

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Nasib tragis dialami Riyana (30) saat menikmati mudik Lebaran pada tahun 2014. Niat hati memenuhi permintaan orang tuanya, namun karena abai dan teledor, ia terperosok ke jurang di daerah Desa Somongari, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

“Sebelum berangkat saya sebenarnya sudah diwanti-wanti agar tidak meleng (tidak hati-hati, red). Saya diminta memenuhi permintaan ibu agar datang ke Purworejo dan kirim doa ke makam leluhur,” terangnya kepada Netralnews.com, Selasa (4/6/2019).

Riyana diminta mudik Lebaran mewakili ibunya yang kala itu mengaku bermimpi ditemui sosok-sosok mendiang ayah, kakek, dan leluhurnya yang meminta dikunjungi. Mimpi itu diterjemahkan oleh Ibunda Riyana agar ia mengirim doa ke makam leluhur mereka yang berada di Purworejo.

Ibunda Riyana yang tinggal di Bogor, Jawa Barat, sudah berumur dan sakit-sakitan. Oleh sebab itu, ia mengutus anak bungsunya agar segera berangkat ke Purworejo, sekaligus mudik Lebaran. Ibunya tidak bisa ikut.

“Saya juga diminta sekalian mengirim doa ke punden desa. Ibu saya sangat percaya bahwa arwah leluhur masih senantiasa mengawasi anak-anak cucunya walaupun merantau ke daerah lain,” tutur Riyana.

Dalam kepercayaan orang Jawa, punden diartikan sebagai makam para danyang desa. Danyang juga sering disebut baureksa, yakni roh pendiri, pembuka desa, atau leluhur yang telah meninggal.

Tradisi ziarah kubur saat Lebaran

Roh halus itu bisa menampakkan diri kepada manusia yang masih hidup dengan berbagai cara (salah satunya lewat mimpi) untuk menyampaikan suatu pesan tertentu. Keberadaannya tidak menyakiti dan tidak mengganggu (tidak merugikan) manusia yang masih hidup.

Danyang dipercaya tinggal di sekitar makamnya yang biasanya ditandai dengan pohon besar atau bangunan tertentu yang dianggap keramat oleh warga desa. Ia betah tinggal di tempat itu dan dipercaya ikut menjaga dan melindungi semua entitas yang ada di sekitarnya.

Danyang dipercaya bisa membantu orang-orang desa agar terhindar dari malapetaka. Tentu saja jika warga desa menghormati dan mau mendengar pesan-pesan yang disampaikannya.

Danyang bisa juga memberi firasat jika akan ada bencana atau bahaya seperti wabah penyakit, serangan hama, banjir, dan sebagainya.

Oleh sebab itu, danyang tidak boleh diperlakukan secara tidak sopan atau tidak hormat. Sebab, jika ia marah, maka akan pergi sehingga warga desa tidak lagi dilindungi lagi.

Orang Jawa akan memberikan penghormatan kepada Danyang melalui pemberian sesaji di tempat-tempat keramat yang dipercaya menjadi tempat yang dihuni para Danyang.

Kadang, ada juga upacara adat (ritual selamatan) yang khusus diselenggarakan warga desa untuk menghormati Danyang. Upacara itu juga ditujukan sebagai ungkapan terima kasih dan permohonan keselamatan.

Upacara adat selametan biasanya diadakan pada bulan Sura dan Ruwah menurut penanggalan Jawa.  Selain memohon berkah keselamatan, upacara ini juga menjadi media menghubungkan alam nyata dengan dunia roh leluhur, terutama roh danyang desa.

“Leluhur ibu memang pernah menjadi orang penting di Purworejo, dan terakhir kakek adalah seorang kepala desa. Itu sebabnya ia selalu menaruh hormat kepada leluhurnya. Saya sendiri merasakan akibatnya ketika tidak mendengarkan saran ibu saya,” lanjut Riyana.

Rupanya, saat mudik Lebaran itu, Riyana tidak langsung memenuhi permintaan ibunya. Begitu tiba di Purworejo, ia tidak langsung mengirim doa ke makam leluhur tetapi berbelok dulu ke rumah salah seorang temannya.

“Di pegunungan desa Somongari, ada salah satu teman dekat saya yang juga sedang mudik Lebaran. Kami janjian ketemu. Saya pun jalan-jalan bersamanya, namun sial saya terperosok ke jurang sedalam lima meter saat jalan-jalan bersamanya. Saya sangat menyesal,” kata Riyana dengan nada penuh penyesalan.

Akibat musibah itu, tulang paha kaki kanan Riyana patah. Berdasarkan hasil rontgen, tulang pahanya terlihat patah sehingga kakinya benar-benar tidak bisa digunakan untuk berjalan.

“Akibatnya, Lebaran yang seharusnya menjadi saat menyenangkan, saya harus menderita kesakitan. Mulanya saya dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) Purworejo, tapi ada saudara yang kemudian membawa saya ke pengobatan tradisional di Sangkal Putung, Solo,” terang Riyana.

Riyana menyetujui saran saudaranya dan tidak memilih menjalani operasi karena konon untuk patah tulang akan lebih cepat pulih dengan metode urut.

Selama sekitar tiga bulan dan tiga kali diurut di Sangkal Putung, ia ternyata berhasil sembuh. Tentu harus melewati masa-masa berat. Ke sana ke mari harus menggunakan tongkat kruk.  Semua itu bisa dilalui Riyana hingga kakinya benar-benar pulih seperti semula.

Hanya saja, saat kejadian jatuh dan sesudahnya, sempat membuat ibunya yang berada di Bogor sangat marah besar. Anak bungsunya ternyata tidak patuh kepadanya.

“Ibu saya marah besar ketika mendengar kabar jatuh dan patah kaki. Ia sudah menduga terlebih dahulu bahwa saya tidak menjalankan pesan yang sudah disampaikan sebelumnya. Saya meleng, dan inilah akibatnya. Katanya saya dikutuk arwah leluhur,” kata Riyana mengulang kata ibunya.

Ia masih melanjutkan, “Peristiwa ini sebenarnya menjadi pengalaman spiritual bagi saya. Saya sebenarnya diuji tentang kesetiaan dan kepatuhan kepada orang tua. Saat saya melalaikan, inilah akibatnya.”

Setahun yang lalu, ibunda Riyana meninggal dan dikuburkan juga di Purworejo. Ia dimakamkan di samping mendiang ayahnya di kampung itu.

“Lebaran tahun ini (2019, red), saya sempatkan secara khusus mengirim doa ke makam ibu, bapak dan semua leluhur di kampung. Saya bersama suami dan satu anak saya, akan mengingat betapa pentingnya mengenang dan kirim doa kepada leluhur saat Lebaran,” pungkas Riyana.

Kepada Netralnews.com, Riyana mengatakan bahwa setiap Lebaran, ia berjanji akan mudik dan tidak lupa kirim doa di makam orang tua dan leluhurnya. Itu bagian dari niatnya untuk menebus kesalahan akibat tidak mendengarkan pesan ibundanya.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?