• News

  • Sisi Lain

Ngeri, Misteri Ketukan Pintu dan Perempuan Rambut Panjang di Rumah Rosa, Sukaraja

Rumah yang dahulu dihuni Rosa di Sukaraja
Netralnews/Dok.Istimewa
Rumah yang dahulu dihuni Rosa di Sukaraja

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Makanan yang dikunyah Rosa sudah ditelan. Kali ini bukan karena makanan, gigi-gigi di mulutnya diadu menahan marah. Sudah berulang kali ia dihantui aneka rupa penampakan di rumah yang ia tinggali bersama ayah dan ibunya.

Rumah itu sebenarnya milik kakak ayahnya (Pak De atau Bapak Gede) yang berlokasi di pinggir Jalan Desa Cimandala, Kecamatan Sukaraja, Bogor, Jawa Barat. Ia tak tahu menahu bagaimana rumah itu menjadi angker dan mengerikan.

Gangguan gaib malam ini terjadi saat keluarga Rosa tengah menikmati santap malam. Suara ketukan pintu berulang kali terdengar. Dengan enggan Rosa membuka pintu.

Benar saja. Saat pintu menganga, hanya angin yang menerobos masuk ke rumahnya. Tak ada siapapun di depan rumah.

Rosa kehilangan selera makannya. Ia ngloyor masuk ke kamar di tengah tatapan ayahnya yang tetap diam tanpa kata-kata. Ibunya heran mengapa Rosa menyudahi makan sementara nasi di piringnya belum dihabiskan. Ibunya juga diam seolah tahu isi kepala Rosa.

Ibu dan ayah Rosa paham apa yang ada di benak Rosa. Ayah Rosa konon juga mampu melihat roh-roh gaib yang sering mengantui keluarga Rosa. Sementara itu, Rosa sudah berulang kali meminta pindah rumah, tapi ayahnya selalu bilang, “Sabar, pada saatnya nanti kita pindah.”

Di kamarnya, Rosa melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Dari telinganya kemudian terdengar suara gemuruh dan hujan deras mengguyur bumi Parahyangan. Sialnya, lampu listrik tiba-tiba padam. Rosa memilih diam di kasurnya sementara ibunya datang menaruh lilin di meja kamarnya.

Kali ini Rosa kembali dikejutkan dengan suara ketukan dari jendela kamarnya secara beruntun. Rosa tidak beranjak. Badannya merinding dan makin mengeriut. Ia benamkan kepalanya dalam bantal berusaha tak mendengar apapun.

Ia yakin itu bukan dilakukan oleh manusia. Hal ini juga seringkali ditegaskan ayahnya. Ada roh halus yang sering menggoda menjadi penghuni di rumah ini.

Bunyi ketukan misterius berhenti sejenak. Namun, kemudian muncul suara lain yang membuat Rosa semakin kesal. Ada saja keusilan yang diperbuat roh-roh halus.

Mainan-mainan di dalam kamarnya bergerak sendiri tanpa sebab. Ini sudah sering terjadi. Kali ini ponsel mainanannya bisa berbunyi sendiri padahal di dalamnya tidak ada baterai.

Rosa berdoa memohon segera bisa terlelap. Gangguan-gangguan seperti itu hanya bisa dibungkam dengan tidur nyenyak. Setelah lama bertahan, biasanya ia tertidur karena lelah berlama-lama menahan takut.

Tetapi untuk kali ini, dengan listrik padam dan gangguan beruntun, Rosa tidak mampu menahan takut. Ia berlari meninggalkan kamarnya menuju kamar ayah dan ibunya.

Wilayah Sukaraja di era Kolonial menjadi daerah perkebunan karet

Di kamar orang tuanya, Rosa diberi tahu ayahnya bahwa ia baru saja diganggu oleh sosok roh halus berwujud perempuan berambut panjang. Hantu ini terkadang menampakkan diri dengan paras cantik namun bisa berubah menjadi buruk rupa dan mengerikan pada orang yang baru dikenalnya.

Kata ayah Rosa yang mampu melihat sosok-sosok gaib, di rumahnya ada beberapa jenis roh halus. Selain sosok perempuan berambut panjang juga ada sosok yang berwujud seorang lelaki tua bersorban.

Bila hari sudah mulai petang, roh itu selalu nongkrong di depan rumah. Apalagi bila hari sedang hujan. Roh itu sering iseng minta dibukakan pintu rumah hanya sekadar membuat resah.

Rentetan teror sosok gaib tak hanya membuat Rosa tak betah. Ibunya juga mengalami sakit-sakitan. Kata ayah Rosa kala itu, roh penghuni rumah tidak suka jika rumah itu dibersihkan (disapu, dipel, perabotan dilap). Itu dianggap tindakan mengusir mereka.

Ayah Rosa berusaha meneguhkan istrinya untuk banyak berdoa dan bersabar. Ia sedang kumpulkan jerih payahnya untuk segera pindah. Ayah Rosa juga tidak menghendaki keluarganya senantiasa digerayangi hantu-hantu tak bertanggung jawab.

Pernah suatu hari, karena saking jengkelnya, Rosa memilih pergi bermain dengan teman-temannya dan meninggalkan ibunya yang tengah sakit demam.

Hal itu lantaran ia takut seorang diri sementara ibunya hanya bisa berbaring di kamarnya. Rosa takut dengan gangguan ketukan misterius dan mainan yang bergerak sendiri yang masih terus terjadi.

Di waktu lain, muncul suara paling aneh berupa suara-suara gamelan dan nyanyian Jawa (sinden). Fenomena seperti ini biasanya terjadi bila Bogor diguyur hujan gerimis. Rosa tak tahu mengapa jika turun hujan, listrik di Bogor sering padam.

Disusul kemudian suara-suara misterius seperti itu yang tak tahu dari mana sumbernya. Sedangkan dari dalam rumah muncul juga suara-suara seperti air mengucur dari kran padahal bila listrik padam, air tak mengalir.

Bila kejadian seperti itu terjadi malam hari, Rosa dihibur ayahnya dengan mendongeng tentang kisah Timun Emas, Malin Kundang, Kancil dan Buaya dengan gaya yang kocak dan mengundang tawa. Dengan cara itu, perhatian terhadap suara-suara aneh bisa dialihkan.

Situs Tugu Lonceng Belanda di Cilebut, Sukaraja, Bogor

Yang paling menghebohkan, juga pernah terjadi. Suatu ketika, ada seorang tamu laki-laki menginap di rumah Rosa. Malam harinya, ia mengaku merasa dipijit oleh ayah Rosa. Ketika diberitahu sambil mengucapkan terima kasih, ayah Rosa hanya bisa geleng-geleng kepala.

Hari kedua, tamu itu baru paham bahwa memang ada yang aneh di rumah Rosa. Saat tengah malam, lelaki itu terkejut karena tiba-tiba kasurnya terbalik tanpa sebab. Baru ayah Rosa menjelaskan dan melakukan “edukasi” supranatural kepada tamunya yang terlihat syok.

Itulah rangkaian cerita misteri yang dialami Rosa yang kini telah berusia 24 tahun. Sedangkan rangkaian fenomena misterius itu berlangsung di tahun 2000-an saat Rosa berusia TK hingga kelas 4 SD.

“Keluarga saya tercatat paling lama kuat tinggal di rumah itu. Usai keluarga saya pindah, rumah itu kemudian sempat dibiarkan kosong,” terang Rosa kepada Netralnews.com, Kamis (6/6/2019).

Rumah kemudian dikontrakkan berulang kali. Ada pihak yang pernah menjadikan sebagai lokasi penjualan bubur, pecel lele, dan pupuk. Kini rumah itu dikontrak untuk usaha salon kecantikan dan senam kebugaran.

“Orang-orang yang pernah mengontrak rumah itu juga mengaku sering diganggu aneka rupa penampakan mulai dari sosok wanita berambut panjang hingga suara-suara glodakan (benda-benda berjatuhan, red),”  tutur Rosa.

Rosa bersyukur bisa pindah dari rumah itu. Ia lega karena sudah terbebas dari teror-teror hantu yang selalu menakutinya.

“Usai tinggal di rumah baru, ibu saya juga berangsur-angsur pulih dan tidak lagi sakit-sakitan,” pungkas Rosa.

Netralnews,com sempat menelusuri sejarah sekitar rumah tinggal Rosa. Menurut seorang sesepuh di sekitar daerah Sukaraja, fenomena mistis itu konon ada hubungannya dengan daerah Sukaraja yang pernah menjadi pusat pemerintahan dan cikal bakal kota Bogor, terutama di bagian Timur Laut.

Sebelum dicengkeram Kolonial Belanda, daerah ini merupakan tempat tinggal keturunan Pangeran Sogiri dan Pangeran Sake, keduanya putra Sultan Ageng Tirtayasa dari Kesultanan Banten. Mereka ini adalah para jawara yang memiliki ilmu kanuragan dan supranatural yang linuwih.

Sayangnya, wilayah ini kemudian jatuh menjadi Regensi (di bawah keresidenan) yang dikepalai oleh seorang tumenggung binaan tentara Belanda. Area Sukaraja kemudian dijadikan perkebunan karet.

Di era ini, banyak pekerja yang mati karena perlakuan keras dari serdadu Belanda yang dahulu bermarkas tidak jauh dari Setasiun Cilebut yakni di komplek cagar budaya Situs Tugu Lonceng Belanda.

“Sosok lelaki bersorban dan perempuan berambut panjang di rumah Rosa adalah sosok-sosok jejak korban keganasan tentara Belanda di era kerja paksa membangun perkebunan karet,” tutur kakek Jami, salah satu sesepuh di Sukaraja kepada Netralnews.com saat menanggapi cerita Rosa.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?