• News

  • Sisi Lain

Ngeri, Sosok Tanpa Kepala Telah Menampakkan Diri di Jawa hingga Sumatera

Gua peninggalan Belanda di Tahura, Ir H Djuanda, Bandung
foto: destinasibandung.co
Gua peninggalan Belanda di Tahura, Ir H Djuanda, Bandung

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - Pengalaman nyata berbau misteri ini dialami oleh seorang peneliti sejarah di satu lembaga di Jakarta Timur yang enggan disebutkan namanya (dalam tulisan ini di sebut NN, usia 49 tahun). Ia telah malang melintang menyusuri situs-situs sejarah di era perang kemerdekaan sekitar tahun 1945.

“Komunitas sejarawan selalu mendasarkan diri kepada fakta-fakta ilmiah. Namun harus saya akui, tak jarang menjumpai cerita-cerita misteri. Sejarawan tak akan mau ungkap hal itu karena memang bukan ranahnya. Ini saya cerita dalam konteks pengalaman pribadi,” terang NN.

Kepada Netralnews.com, Selasa (11/6/2019), NN kemudian mengisahkan temuan cerita misteri dari sejumlah narasumber tentang tiga situs sejarah yang memiliki pola misteri yang sama. Makhluk halus yang diceritakan oleh para narasumber relatif sama wujudnya.

“Saya sempat menelusuri banyak lokasi bersejarah era perang Dunia II di berbagai pulau di Nusantara. Banyak yang unik. Salah satunya adalah bungker-bungker peninggalan tentara Jepang. Dari sekian jenis pertahanan perang, ada tiga yang memiliki pola yang sama,” paparnya.

Bungker pertahanan militer kadang disebut masyarakat dengan julukan gua karena bentuknya memang menyerupai gua. Gua itu ada yang memang sengaja dibuat tentara Jepang, ada pula yang dibuat pada era Kolonial Belanda, bahkan ada yang memang terbentuk secara alami.

“Bungker pertama yang sering disebut-sebut berhantu oleh sejumlah narasumber saya adalah Gua Jepang di daerah Bandung, Jawa Barat. Lokasinya berada di Taman Hutan Ir Juanda, Bukit Dago Pakar,” kata NN mengisahkan misteri yang pertama.

Menurut NN, situs ini sebenarnya menempati lokasi situs yang lebih tua. Artinya, peninggalan zaman Jepang ini terdapat situs purbakala tepatnya di kawasan Tahura. Dari temuan arkeolog, di tempat ini pernah ditemukan artefak zaman manusia prasejarah sekitar enam ribu tahun silam.

Sedangkan gua atau bungker di tempat itu, sebenarnya telah dibuat oleh orang Belanda sekitar tahun 1812 dan pernah diperluas pada 1918. Ketika Belanda kalah, kemudian diambil alih oleh tentara Jepang yang sekali lagi memugar dan menambah ruang menjadi 15 lorong gua.

Hanya saja, di era Belanda, mulanya gua itu bukan dipergunakan untuk pertahanan perang tetapi dibangun sebagai terowongan air untuk menggerakkan turbin (Sekarang menjadi PLTA Bengkok). Buktinya, di atas gua terdapat kolam penampungan air.

Dalam perjalanannya, gua pernah dialihfungsikan menjadi pusat telekomunikasi, pernah juga menjadi gudang senjata ketika jatuh ke pihak Jepang. Oleh pasukan Jepang, gua ini dilengkapi ruangan penjara, ruang pusat komunikasi, seperti layaknya pertahanan perang.

“Uniknya, di lokasi ini ada narasumber yang mengaku melihat penampakan hantu berupa sosok-sosok manusia tanpa kepala sedang berbaris di sekitar gua. Hantu sering dikait-kaitkan dengan para korban kerja paksa atau romusha di masa penjajahan Jepang,” tutur NN.

Lokasi kedua yang pernah diteliti NN adalah gua peninggalan tentara Jepang di Biak, Papua. Gua tersebut bukanlah gua buatan tetapi gua alami yang difungsikan untuk pertahanan perang.

Bentuk gua sebenarnya sangat indah sama seperti gua-gua alami di daerah lain yang memiliki berbagai keunikan. Ada stalaktit dan stalakmit. Mengapa dipilih tentara Jepang sebagai pertahanan perang? Karena lokasi gua sangat strategis.

Gua cukup panjang dan tembus hingga ke pesisir pantai. Hal ini menguntungkan tentara sebagai jalur yang memudahkan pergerakan perang baik saat menyerang maupun saat harus mundur bila terdesak.

Hanya saja, perlu diketahui, gua ini juga sekaligus digunakan sebagai kuburan massal. Pasalnya, saat perang berkecamuk, pasukan Sekutu pernah menjatuhkan bom di depan mulut gua yang menyebabkan banyak korban berjatuhan di pihak Jepang.

Di kemudian hari, tulang-tulang pasukan Jepang yang menjadi korban dikumpulkan dan diletakkan dalam salah satu ruang gua. Kini, di ruangan-ruangan gua juga dilengkapi dengan penyimpanan beberapa peninggalan alat perang tentara Jepang dan Sekutu.

“Keunikan gua ini ternyata juga sama. Ada narasumber yang mengaku pernah melihat parade hantu sosok manusia tanpa kepala. Itu kemudian dikaitkan dengan arwah pasukan Jepang yang menjadi korban perang,” sambung NN.

Temuan berbau mistis yang ketiga terjadi di Bukittinggi, Sumatera Barat. Orang setempat sering menyebutnya “Lobang Jepang”. Terowongan sedalam sekitar 60 meter berada di bawah Kota Bukittinggi.

Kini, tempat ini sudah menjadi objek wisata unggulan. Panjang terowongan tidak tanggung-tanggung karena mencapai sekitar 1,5 kilometer. Aslinya lebih panjang, tetapi demi keamanan, yang dibuka umum hanya terowongan sepanjang itu.

Terowongan ini dibangun pada 1944. Pembangunan sangat dirahasiakan sehingga pembangunan selalu dilakukan pada malam hari. Siapa yang membangun? Tentu saja para pekerja paksa yang kebanyakan didatangkan pasukan Jepang dari luar Bukittinggi. Konon banyak dari Jawa.

Karena saking rahasianya, masyarakat Bukittinggi pada masa itu tidak tahu bahwa di bawah kota itu terdapat lubang-lubang menganga. Ada cerita dari sejumlah narasumber NN yang mengatakan jika semua lorong dibuka, sebenarnya ada satu jalur yang tembus di dekat menara Jam Gadang di pusat kota.

Pengunjung yang ingin menikmati peninggalan bersejarah ini harus berjalan menuju Taman Panorama. Di situ ada pintu masuk berada. Cara lain adalah melalui pintu masuk yang berada di samping jalan raya yang mengarah ke Ngarai Sianok.

Perlu diketahui, lubang gua yang saat ini menjadi objek wisata, sebenarnya sudah tidak sama seperti aslinya. Dahulu, dindingnya tidak disemen. Pemda Sumatera Barat sengaja mengubahnya untuk menjaga kekuatan sehingga aman dari longsor.

Selain disemen, bagian lantai juga sudah dipasang balok konblok lengkap dengan penerangan yang mencukupi. Walaupun sudah ada lampu, kesan menyeramkan masih sangat terasa.

Dahulu, setidaknya ada 21 lorong yang pernah digunakan sebagai barak tentara, kamar komando, ruang sidang, serta dilengkapi jalur penyergapan, hingga jalur pelarian.

"Di lokasi ini juga ada narasumber yang mengaku melihat penampakan yang sama dengan dua gua sebelumnya yakni penampakan roh halus berwujud sosok-sosok manusia tanpa kepala sedang berbaris. Sosok itu dipercaya merupakan arwah-arwah korban keganasan tentara Jepang di Bukittinggi," pungkas NN.

Editor : Taat Ujianto