• News

  • Sisi Lain

Siluman Penunggu Citanduy Sudah Ditaklukkan, Mengapa Aldi Tewas Tenggelam?

Petugas SAR gabungan mencari korban tenggelam di Sungai Citanduy, Minggu (16/06/2019)
Netralnews/Dok.Istimewa
Petugas SAR gabungan mencari korban tenggelam di Sungai Citanduy, Minggu (16/06/2019)

BANJAR, NERALNEWS.COM – Sungai Citanduy yang membelah Kabupaten Banjar, Jawa Barat, dahulu terkenal angker. Ada sejumlah siluman yang menghuni sungai itu.

Beredar cerita bahwa sosok Siluman itu sebenarnya telah berhasil ditaklukkan. Dengan demikian, sungai relatif aman dari gangguan siluman-siluman penunggu kali yang sering mengincar anak-anak.

Namun, bukan berarti sungai benar-benar terbebas dari marabahaya. Pasalnya, baru-baru ini tepatnya pada hari Sabtu (15/6/2019) warga dihebohkan dengan berita hilangnya seorang anak usai berenang di kali itu.

Tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan anak tersebut namun sudah dalam kondisi meninggal dunia pada hari berikutnya yakni Minggu (16/6/2019) siang.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) atau Kantor Pencarian dan Pertolongan Bandung, Deden Ridwansah melalui siaran pers mengatakan, korban bernama Aldi Algata (11) ditemukan sekitar 300 meter dari lokasi korban tenggelam.

"Korban ditemukan oleh Tim SAR gabungan pukul 12.58 WIB dalam keadaan meninggal dunia 300 meter dari lokasi kejadian," kata Deden seperti dilansir Antara.

Evakuasi jenazah Aldi Algata oleh tim SAR (foto: antara)

Ia menuturkan, korban bermula berenang bersama teman-temannya di Sungai Citanduy, Desa Randegan, Kecamatan Langkap Lancar, Kota Banjar.

Korban, menurut Deden, diduga tidak bisa berenang kemudian kelelahan hingga akhirnya tenggelam lalu terbawa arus dan menghilang.

Usai terima laporan musibah itu, kata Deden, jajarannya langsung ke lokasi untuk melakukan pencarian korban dengan menyusuri aliran sungai. Namun, pencarian hari pertama tim tidak menemukan korban.

Pencarian akhirnya dilanjutkan hari berikutnya dan korban berhasil ditemukan. Tim SAR gabungan itu melibatkan petugas Basarnas, jajaran dari BPBD, TNI, polisi dan sukarelawan lainnya dari PMI Banjar, Tagana Banjar dan RAPI Banjar.

Aldi tewas dipastikan karena tenggelam dan hanyut. Tidak tepat bila ada pihak mengait-ngaitkan dirinya merupakan korban yang dimangsa siluman penunggu kali. Besar kemungkinan, musibah itu murni sebagai kecelakaan akibat Aldi tak bisa berenang.

Mengenai kisah siluman penunggu Citanduy, dahulu memang beredar luas di kalangan masyarakat Banjar. Konon, siluman itu kadang menampakkan diri dalam wujud buaya putih dan buaya buntung.

Bahkan, pada 11 Oktober 2012 silam, berulangkali muncul seekor buaya berwarna kuning-putih-keabu-abuan di kali Citanduy dan  sempat membuat geger warga Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Buaya itu akhirnya ditangkap dan diamankan warga setempat.

Buaya itu pertama kali muncul tiga hari setelah Idulfitri 1433 H. Kala itu sudah memasuki musim kemarau dan sungai telah menyusut. Binatang itu dikawatirkan akan memangsa manusia atau binatang ternak.

Dalam kepercayaan warga sekitar Citanduy, bila ada buaya menampakkan diri, apalagi jumlahnya lebih dari satu dan bergerak melawan arus, itu pertanda musim kemarau segera tiba. Sekitar tahun 1960-an, bila barisan buaya menampakkan diri malah menjadi tontonan warga.

Bagi sebagian warga, barisan buaya-buaya itu diyakini merupakan siluman-siluman penunggu kali. Hanya saja, menurut sesepuh setempat, untuk buaya yang ditangkap di tahun 2012 adalah buaya biasa. Keberadaannya sebenarnya tidak akan menyerang manusia jika tidak diganggu.

Keyakinan akan siluman penunggu Citanduy, antara desa yang satu dengan desa yang lain ternyata memiliki perbedaan. Walau sama-sama percaya adanya siluman buaya, namun proses penaklukan siluman oleh sesepuh desa memiliki cerita yang berbeda-beda.

Misalnya dalam cerita warga yang tinggal di sekitar aliran sungai Citanduy mulai dari Dusun Rancabulus, Desa Rejasari sampai Dusun Purwodadi Desa Waringinsari. Sesepuh setempat meyakini siluman penunggu kali itu bernama Kiai Majabuntung.

Kondisi Citanduy saat air meluap

Kiai Majabuntung adalah pemimpin siluman buaya yang berekor buntung. Ia memiliki sejumlah pengikut. 

Sesepuh warga di sekitar aliran itu dipercaya mampu berkomunikasi dengan Kiai Majabuntung  sehingga para siluman itu tidak membahayakan manusia tetapi justru menjadi pelindung sungai.

Siluman-siluman itu akan mengganggu orang-orang yang memiliki perilaku serakah dan jahat seperti meracun sungai untuk mendapat ikan yang banyak.

Lain lagi dengan cerita yang beredar di di wilayah Desa Rejasari, Kecamatan Langensari. Di wilayah ini ada kisah tentang siluman buaya dari sosok warga setempat yang dahulu dipercaya  pernah menjadi pawang buaya. Namanya Mbah Bonar.

Usai meninggal, konon arwahnya menjelma menjadi buaya buntung yang senantiasa menjaga keberadaan sungai. Suatu malam, salah satu anaknya mengaku ditemui ayahnya dan memintanya agar tetap tinggal di sekitar aliran sungai dengan memanfaatkan kekayaan sungai.

Anaknya kemudian bermata pencaharian menjadi penangkap ikan di sungai Citanduy. Setiap pagi, ia menjala ikan, dan ikan yang didapatkan cukup melimpah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Suatu ketika, ia bertemu dengan buaya buntung. Mata buaya terus menatapnya. Anak Mbah Bonar merasakan ada yang aneh. Ia kemudian berkata bahwa jika ia benar-benar penjelmaan ayahnya, maka kalau didekati pasti akan diam saja dan tidak menyerang.

Anak Mbah Bonar juga mengatakan bahwa jika buaya itu mau diam dan diarahkan maka akan dibuatkan tempat khusus sebagai rumah tinggalnya.

Benar saja, buaya itu ternyata diam saja. Sejak itu, anak Mbah Bonar dipercaya bisa berkomunikasi dengan siluman buaya buntung penunggu Citanduy terutama di sekitar Desa Rejasari. Buaya itu diyakini adalah sosok penjelmaan Mbah Bonar.

Keberadaannya tidak mengganggu selama manusia juga tidak merusak sungai.

Di masa pemerintahan Orde Baru Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy dibangun dan diperkokoh. Cerita tentang keberadaan siluman buaya kemudian sempat tenggelam. Namun memasuki era reformasi, kisah buaya siluman kembali muncul.

Editor : Taat Ujianto