• News

  • Sisi Lain

Heboh di Batam, Sosok Perempuan Jelita Sedang Mandi Terbukti Bukan Manusia

Telaga Bidadari di kawasan hutan lindung Muka Kuning, Batam
foto: portalsatu.com
Telaga Bidadari di kawasan hutan lindung Muka Kuning, Batam

BATAM, NETRALNEWS.COM - Kisah tentang Jaka Tarub yang melihat sosok-sosok perempuan cantik sedang mandi di telaga yang ternyata adalah para bidadari yang turun dari kahyangan ternyata bukan hanya sekadar mitos di Jawa. Ada orang yang mengaku melihat penampakan bidadari yang nyata turun ke bumi. 

Bila kisah Jaka Tarub adalah kisah dongeng tentang Dewi Nawangwulan yang kental dengan latar belakang sejarah Mataram Islam abad ke-17, cerita yang satu ini nyata terjadi. Setidaknya, ada tiga orang pernah melihat penampakan sosok bidadari sedang mandi.

“Kejadiannya cukup mengejutkan dan tidak terduga. Saya mulanya hanya ingin rekreasi saja. Datang ke tempat itu bersama istri dan satu anak saya.  Tak sengaja melihat keanehan,” tutur Guntur (43) kepada Netralnews.com, Senin (17/6/2019).

Sesuai penuturan Guntur, siang itu langit tampak terbelah menjadi dua, sebagian gelap berawan tebal dan sebagian terang berawan. Dari balik rerimbunan pohon di lokasi objek wisata, terlihat guratan pelangi indah sekali.

“Pelangi itu indah sekali. Anak saya yang baru berusia 4 tahun melompat-lompat girang. Sambil berjalan terus mengamati pelangi itu, kami jalan perlahan menuju lokasi utama di objek wisata tersebut,” sambung Guntur.

Lokasi yang dituju semakin mendekat. Dari kejauhan, Guntur melihat ada sesosok perempuan sedang mandi di genangan air terjun. Lokasi tempat perempuan itu mandi adalah tempat yang akan dituju Guntur sekeluarga.

“Perempuan itu terlihat bersinar dan cantik. Ia berenang-renang seolah tak memedulikan sekitar. Badannya berbalut pakaian berwarna oranye. Istri saya juga melihatnya bahkan sempat menggoda saya. Tangannya ditutupkan ke muka saya agar tidak memelototi perempuan yang sedang mandi itu,” papar Guntur.

Tak disangka, ketika Guntur, istri, dan anaknya semakin mendekati lokasi perempuan cantik yang sedang mandi tiba-tiba sesuatu terjadi.

“Kala itu, tempat itu tidak ramai dan sedang tidak ada pengunjung. Hanya kami yang terlihat. Rupanya, perempuan itu kemudian seperti terkejut dan menatap kearah kami. Sejurus kemudian ia menghamburkan diri ke arah jatuhnya air terjun. Muncul sinar warna-warni kemudian perempuan itu menghilang,” sambung Guntur.

Istri dan anak Guntur saling berpandangan dan menjadi heboh karenanya. Sementara di langit sebelah Barat, guratan pelangi juga menghilang dan kemudian turunlah hujan gerimis. Guntur berusaha menyusuri sekitar air terjun untuk mencari sosok perempuan misterius itu. Hasilnya nihil.

“Tidak ada perasaan takut kala itu, hanya merasa aneh yang membuat kami heboh penasaran. Istri dan anak saya pun tidak berpikir sosok itu hantu karena memang tidak menakutkan. Kesannya indah saja. Ya, sudah, kami sempat menikmati objek wisata itu beberapa saat hingga puas, baru kami pulang,” kata Guntur.

Itulah sepenggal cerita misteri yang dialami Guntur dua tahun lalu, tepatnya saat menikmati liburan bulan Desember 2017, ketika ia rekreasi ke objek wisata Telaga Bidadari, yang terletak di kawasan Simpang Dam, Muka Kuning, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Bagi Guntur, penampakan misterius itu semakin menguatkan mitos tentang pelangi sebagai pertanda bidadari turun ke bumi. Setidaknya, ia merasakan kesan indah yang tak terlukiskan.

Di sisi lain, ia pun mengaku heran mengapa keindahan yang begitu agung itu kemudian disimbolkan dengan penampakan sosok perempuan jelita sedang mandi.

Mengenai Telaga Bidadari di Kota Batam yang dikunjungi Guntur, keberadaanya memang sering disebut sebagai objek wisata yang “tersembunyi”.  Keindahan tempat itu memang cukup menawan.

Seperti halnya lokasi lain yang menggunakan nama “bidadari”, di situ terdapat air terjun atau pancuran. Tebing tidak terlalu tinggi tetapi suasananya sangat memukau.

Sedangkan tentang nama “bidadari”, yang dihubungkan dengan tempat bidadari turun ke bumi untuk mandi, sebenarnya memang merupakan fenomena yang terjadi di hampir semua daerah di Nusantara.

Tidak hanya ada di Batam, Sumatera, Jawa, bahkan di Sulawesi dan Kalimantan pun ada. Di Sentul, Bogor, Jawa Barat, ada air terjun Bidadari. Lokasi ini juga terkenal sangat indah. Ada juga cerita warga yang mengaku memiliki pengalaman serupa dengan yang dialami Guntur.

Di Kandangan, Hamalau, Kalimantan Selatan, juga ada desa yang bernama Telaga Bidadari. Selanjutnya di Sulawesi, ada wilayah perairan yang dinamakan Telaga Bidadari Rammang-Rammang Maros dan Telaga Bidadari di di Gunung Bawakaraeng.

Jadi, kisah keberadaan bidadari seperti tercermin dalam dongeng Jaka Tarub, dipastikan ada di berbagai daerah di Nusantara. Sama halnya fenomena bidadari mandi yang kepergok manusia.

Mengenai siapa sesungguhnya sosok bidadari  adalah hal lain yang memang menunjukkan betapa banyak misteri dalam kehidupan di alam semesta. Ini juga bagian dari misteri betapa agungnya Sang Maha Pencipta alam semesta.

Terakhir, mengenai Pancuran Telaga Bidadari di Kota Batam, seperti disebutkan di awal, lokasi ini memang relatif masih “perawan” dan belum dilengkapi berbagai fasilitas penunjang. Namun justru itu yang menjadi kelebihan dari objek wisata ini.

Pancuran Telaga Bidadari ini berada di kawasan hutan lindung Mukakuning, Simpang Dam. Namun ada warga yang menyebutnya masuk wilayah Desa Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam.

Dengan demikian, selain menikmati air terjun, pengunjung juga bisa merasakan nuansa alami di hutan lindung Muka Kuning yang sepi dan jauh dari permukiman maupun keramaian.

Wilayah permukiman terdekat hanya ada dua yakni perkampungan Muka Kuning dan permukiman di Kampung Aceh. Namun, jarak antara perkampungan dengan air terjun Bidadari cukup jauh.

Sebagai gambaran terakhir, ketinggian air terjun Bidadari di Batam adalah sekitar 3 meter. Para pengunjung yang  mandi di air terjun bisa mendakinya sambil mandi di genangan air yang sangat jernih dan sejuk.

Di sekitar air terjun, pemandangannya sangat hijau dan alami. Lokasi ini sangat tepat sebenarnya untuk acara kemping atau kemah keluarga. Tentu, objek wisata ini akan tetap lestari jika semua pengunjung juga sadar menjaga kebersihan dan tidak jahil merusaknya.

Editor : Taat Ujianto