• News

  • Sisi Lain

Tiga Abad Kejar Pria Idaman di Jakarta, Roh Perempuan Berambut Pirang Gentayangan

Bangunan peninggalan Belanda di salah satu sisi Pulau Onrust
foto: genpi.co
Bangunan peninggalan Belanda di salah satu sisi Pulau Onrust

JAKARTA, NETRALNEWS.COM - “Banyak yang mengaku pernah melihat penampakannya. Saya sendiri juga pernah. Sosok perempuan bule (berambut pirang, red) menampakkan diri beberapa kali. Pertama, terjadi saat saya menangkap ikan menjelang petang, sekitar setahun lalu,” tutur Daus (54) kepada Netralnews.com, Minggu (23/6/2019).

Daus adalah seorang nelayan di Teluk Jakarta yang sesekali singgah di Pulau Onrust yang menurut cerita warga Kepulauan Seribu terkenal keangkerannya. Ia sendiri pernah mengalaminya.

“Sosok perempuan berbadan tinggi besar, berambut pirang, denganpakaian khas busana Belanda zaman dulu, duduk termangu di bangunan tua peninggalan Belanda di pulau itu. Ketika perahu semakin mendekat, sosok itu kemudian menghilang,” tambah Daus.

Sekitar seminggu kemudian, ia kembali melintasi pulau itu karena sedang musim ikan kakap. Kali ini, ia mengalami fenomena lain.

“Sekitar seminggu kemudian, di lokasi yang sama, saya mendengar suara jeritan perempuan dan menyebut kata-kata yang tidak saya pahami. Mungkin bahasa Belanda ya, saya kan tidak tahu bahasa Belanda, tapi suara itu melengking memilukan,” kata Daus.

Daus berusaha mencari sumber suara itu. Hatinya khawatir kalau itu berupa seruan perempuan minta pertolongan. Ia pun sempatkan turun ke perahu mendekati bangunan peninggalan Belanda, yang di sore itu terlihat sepi tak ada pengunjung.

“Tak seorang pun saya temui. Sepi. Suara itu menghilang. Selanjutnya hanya terdengar suara deburan ombak saja. Namun, anehnya saya mencium bau seperti aroma parfum menyengat. Aromanya aneh, belum pernah saya mencium aroma seperti itu,”  sambung Daus.

Daus merasakan sesuatu yang aneh. Ia sudah memastikan tidak ada seorang pun di tempat itu, tetapi firasatnya mengatakan bahwa ia sedang berhadapan dengan makhluk halus.

“Saya itu berniat mau cari nafkah dengan melaut. Jadi, tidak mau cari perkara atau mengganggu keberadaan pihak (roh halus, red) lain. Juga, suara aneh itu bukan berasal dari manusia yang perlu pertolongan. Maka saya ya kembali ke perahu,” kata Daus yang mengaku tubuhnya merinding.

Buru-buru ia lanjutkan pencarian ikan dan menjauh dari lokasi itu. Dua kali melihat fenomena misterius sudah cukup baginya untuk tidak main-main atau sok jagoan dengan melayani penampakan mistis itu dengan mencari gara-gara.

“Saya itu manusia biasa. Jujur, saya nggak punya ilmu gaib. Saya muslim biasa. Ngak mau saya terus merasa lebih hebat kemudian menaklukkan makhluk halus. Tak ada niat seperti itu. Saya cari nafkah. Saya berani melaut tapi saya tidak mau cari gara-gara dengan roh-roh di lautan,” papar Daus.

Mengenai sosok penampakan perempuan berambut pirang yang dilihatnya, ternyata sudah banyak dikenal oleh warga Kepulauan Seribu. Kisah penampakan sosok itu sudah bukan lagi menjadi rahasia warga sekitar.

Warga meyakini itu adalah wujud arwah seorang noni Belanda yang dahulu dikuburkan di Pulau Onrust. Nama perempuan itu adalah Maria Van de Velde. Kisahnya memang tragis dan memilukan. Karena itu, konon arwahnya masih penasaran.

Nama Maria Van de Velde masih tertera di salah satu batu nisan di Pulau itu hingga kini. Satu puisi berbahasa Belanda menghiasi pusaranya. Puisi itu menyatakan bahwa walaupun Maria telah dikubur, tetapi seharusnya dapat hidup bertahun-tahun lagi.

Di balik guratan batu tersebut, tersimpan kisah tiga abad lalu. Ia dilahirkan di Amsterdam tahun 1693 dan meninggal di Pulau Onrust pada 19 November 1721.

Ketragisannya terletak pada akhir hidupnya. Ia nekat melakukan bunuh diri setelah putus asa menunggu kekasih atau pria idamannya tak kunjung kembali. Maria Van de Velde marah ketika tahu, orangtuanya tidak setuju ia menikah dengan pria idamannya.

Melalui rekayasa dan tipu musilhat, pria Belanda kekasihnya itu dikirim ke medan perang. Tujuannya sangat jelas yakni agar pria itu tewas terbunuh sehingga Van de Velde tidak jadi menikah dengan pria itu.

Orang tuanya berpikir bahwa kematian kekasihnya bisa digantikan dengan pria lain yang dianggap orang tuanya lebih pantas. Rencana orang tuanya meleset. Van de Velde  justru marah besar dan memutuskan untuk menyusul kekasihnya menuju alam kematian.

Dalam cerita warga Kepulauan Seribu, akibat bunuh diri itulah, arwahnya selalu gentayangan dan sering menampakkan diri. Konon, Van de Velde tetap setia menunggu kekasihnya datang. Kesabarannya sudah memakan waktu selama 298 tahun.

Sementara itu, di Pulau Onrust sebenarnya tidak hanya terdapat makam Van de Velde. Ada banyak batu nisan di pulau itu sebagai penanda komplek pemakaman Belanda.

Setidaknya ada sekitar 40 orang Belanda yang ada umumnya mati pada usia muda dahulu dikubur di pulau itu. Orang Belanda yang masih muda itu mati karena tak kuasa melawan serangan penyakit di daerah tropis terutama malaria dan kolera.

Ada satu makam tertulis nama Anna Andriana Duran yang lahir di Pulau Onrust pada 19 Desember 1763 dan meninggal pada 19 September 1772. Artinya, ia hanya sempat hidup di dunia hanya sekejab, yakni kurang dari sembilan tahun.

Selain makam Belanda, banyak kuburan orang-orang pribumi yang dahulu meninggal saat menjalani karantina sebelum berangkat naik haji ke Mekah. Juga ada satu lokasoi makam penting yang dahulu menjadi tempat penguburan Kartosuwiryo, pemimpin DI/TII Jawa Barat.

“Dari cerita leluhur saya, di pulau itu sejak dulu banyak dihuni oarang Belanda dan tentara bayaran. Mereka bertugas mempertahankan benteng, menjaga galangan kapal, dan mengawasi kaum pribumi yang mau naik haji,” tutur Daus.

Editor : Taat Ujianto

Apa Reaksi Anda?