• News

  • Sisi Lain

Kepergok Kuntilanak, Haniel Kapok Jadi Pencuri Kancut Mahasiswi Indekos di Semarang

Ilustrasi rumah indekos mahasiswi di Kampung Gergaji, Semarang, Jawa Tengah
Netralnews/Dok.Istimewa
Ilustrasi rumah indekos mahasiswi di Kampung Gergaji, Semarang, Jawa Tengah

SEMARANG, NETRALNEWS.COM - Perilaku manusia yang memiliki pemahaman aneh (kelainan) memang ada-ada saja jenisnya. Pendidikan tinggi pun belum menjamin seseorang tidak terjerembab pada perilaku yang tidak wajar.

Bagaimana tidak? Kehidupan kampus di mana mahasiswa dituntut belajar tentang ilmu pengetahuan lebih mendalam, namun ada yang memiliki kebiasaan nyeleneh karena terobsesi oleh sesuatu yang tentunya juga nyeleneh.

Catatan ini ditulis berdasar pengakuan seorang alumni salah satu kampus yang memiliki kelainan seperti yang dimaksud, yakni memiliki hobi mencuri kancut (celana dalam) mahasiswa perempuan (mahasiswi) terutama teman-temannya  sendiri.

“Mohon jangan sebutkan nama asli saya. Malu, saya kalau diketahui oleh saudara atau orang yang mengenal saya,” pinta Haniel (nama samaran sesuai permintaannya) kepada Netralnews.com, Rabu (26/6/2019).

Usai syaratnya dipenuhi, Haniel kemudian berkenan menceritakan pengalamannnya selama ia kuliah di salah satu universitas di Semarang, Jawa Tengah. Masa-masa itu merupakan petualangannya menjadi pemuda yang lain dari pada umumnya.

“Terus terang, saya punya hobi mengoleksi pakaian dalam mahasiswi di rumah-rumah kos kosan (indekos, red). Ya, gimana ya. Kala itu, setidaknya ada dua penyebab yang membuat saya begitu,” tutur Haniel memulai kisahnya.

Menurut Haniel, mulanya ia sering bergaul dengan teman-teman yang menyukai segala hal yang berbau misteri, mistis, gaib, hingga yang bersifat supranatural. Salah satu yang membuatnya terpengaruh adalah mitos tentang obat mujarab umur panjang.

“Katanya, salah satu resep sehat dan umur panjang adalah dengan menggunakan celana dalam perawan untuk membersihkan tubuh saat mandi. Dengan cara itu, konon juga bisa membuat lelaki semakin tampan. Istilahnya membuka aura kejantanan,” sambung Haniel.

Karena sering mendengan cerita itu, lama-kelamaan Haniel terpengaruh dan ingin mencobanya. Sekali, dua kali masih takut dan ragu. Ketiga dan seterusnya, ia ternyata menikmatinya.

“Pertama kali mencuri, ya ada rasa takut. Gemetar badan saya karena khawatir kepergok orang lain. Namun, lama-kelamaan, saya boleh dibilang lihai mencuri kancut teman-teman mahasiswi,” kata Haniel dengan sedikit tersipu.

Kesempatan mencuri kancut mahasiswi memang terbuka lebar. Kala itu, Haniel tinggal di rumah indekos di daerah Kampung Gergaji, Jl Soepomo, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah.

Di sekitar rumah indekosnya, juga banyak rumah indekos mahasiswi. Banyak sekali jemuran di rumah-rumah indekos yang relatif terbuka (mudah dicuri) sehingga gampang dilewati Haniel. Saat melintas itulah, ia sering melakukan aksinya sambil lalu.

“Anehnya, kala itu, saya menikmati kebiasaan nyleneh itu. Terus terang juga, itu ikut mempengaruhi orientasi seksual saya. Ya jujur, begitulah kebinalan masa muda saya. Tapi, jujur pula, saya tidak pernah melecehkan secara langsung kepada para pemilik kancut itu,” kata Haniel berusaha berusaha meyakinkan.

Kebiasaan seperti itu dilakukan Haniel hampir selama tiga tahun. Ia mengaku bertobat dan kapok karena suatu malam, saat ia iseng mau mencuri kancut di salah satu jemuran di rumah ondekos, muncul penampakan menakutkan.

“Ada satu indekos yang menurut cerita teman-teman sangat angker di daerah itu. Dahulu pernah ada mahasiswi bunuh diri di situ. Saat pulang usai main bersama teman-teman kampus, saya melintasinya. Kejadian sekitar pukul 23.30. Saya melihat beberapa kancut di jemuran. Mau saya ambil, tapi ada yang aneh,” kenang Haniel.

Haniel mengaku mencium bau aroma bunga melati sangat menyengat. Malam itu jalanan sudah sepi. Walau badanya mulai merinding, Haniel berusaha tetap mendekati jemuran di dekat indekos angker itu.

“Sekonyong-konyong muncul perempuan berdaster putih dengan muka menyeramkan, rambut panjang, mata merah, mukanya pucat dan lehernya berdarah. Ia berdiri persis di samping jemuran yang mau saya dekati. Jantung saya mendadak mau copot rasanya,” papar Haniel.

Karena penampakan itu, Haniel mundur beberapa langkah sambil memastikan makhluk apa yang sebenarnya sedang dihadapinya. Malangnya, sosok itu justru bergerak ikut mendekati Haniel.

“Saya yakin itulah sosok hantu kuntilanak. Mulutnya kemudian terbuka, berusaha mendekati saya, disusul kemudian keluar suara cekikikan menakutkan dari mulutnya. Sontak saya balik arah dan lari meninggalkan tempat itu,” sambungnya.

Sampai di indekosnya, Haniel segera mengunci pintu. Ia takut kuntilanak itu mengejar dan mengikutinya. Buru-buru ia tutup jendela, horden, dan segera mendekap kitabsuci yang selama ini hanya ia simpan.

Kasus tahun 2016, seorang mahasiswa S2 ditangkap karena mencuri ratusan pakaian dalam wanita

 Rupanya, sejak penampakan itu membuat Haniel sadar dan benar-benar jera. Ia tiba-tiba bisa membayangkan bagaimana kalau kesialan yang menimpanya bentuknya berbeda. Bagaimana kalau yang memergokinya saat mau mencuri kancut adalah benar-benar manusia dan bukan roh halus?

Ia membayangkan dirinya digunjingkan masyarakat dan teman-temannya. Bahkan bisa pula dijerat pidana pencurian. Hal sepele bisa menghancurkan masa depannya.

“Sejak penampakan kuntilanak itu, saya merasakan selaput ketidaksadaran dalam diri saya, tersingkap. Saya kapok. Saya tak mau kuliah saya berantakan hanya karena kebiasaan mencuri  kancut,” kata Haniel.

Kini Haniel sudah berusia 45 tahun dan bekerja di salah satu perusahaan swasta di Bogor. Pria berdarah Ambon-Sunda itu telah menikah dan dikaruniai tiga anak. Hidupnya berubah sejak kepergok kuntilanak saat kuliah di Semarang.

“Usai kejadian itu, saya konsentrasi terhadap tugas kuliah. Saya juga kembali aktif di gereja. Usai kuliah saya dapat kerja di Bogor, kemudian menikah dan punya anak tiga, hingga kini,” pungkas Haniel.

Ia mau jujur dan terbuka mengisahkan pengalaman nyleneh di masa mudanya agar pemuda lain yang pernah seperti Haniel mau merubah diri. Ia paham kenakalan para mahasiswa. Ia yakin, mahasiswa yang memiliki “kelainan” seperti di sebenarnya ada banyak.

Dan dari sekian banyak yang sembunyi-sembunyi suka mencuri underwear kaum perempuan (bra, celana dalam, kaos dalam, dan sebagainya), tak sedikit juga yang akhirnya aksinya diketahui orang lain.

Salah satu contohnya adalah kejadian yang menimpa seorang mahasiswa pascasarjana (S2) berinisial MP (29) yang ditangkap oleh kepolisian Sleman, Yogyakarya pada bulan September 2016.

MP ditangkap karena terbukti telah mencuri ratusan bra dan celana dalam dari jemuran milik tetangga. Mungkin karena apes, suatu hari aksinya kepergok sang pemilik rumah. Beruntung ia segera diamankan aparat, kalau tidak ia akan diamuk warga.

Pasalnya, warga sekitar rumahnya sebelumnya sudah mengaku resah. Banyak tetangganya mengaku sering kehilangan pakaian dalam wanita, terutama di rumah indekos mahasiswi.

Saat rumah kontrakan MP dibongkar, terbukti di kamarnya terdapat ratusan bra dan celana dalam wanita dan semuanya bekas dipakai.

Pakaian dalam yang dicuri bukan untuk dijual tetapi sengaja dikoleksi di kamarnya. Untuk apa sesnungguhnya? Bisa jadi tidak jauh berbeda dengan yang pernah dialami Haniel.

Editor : taat ujianto

Apa Reaksi Anda?