• News

  • Sisi Lain

Misteri Mangkuk Merah Berdarah di Pangkuan Rosita, Tasikmalaya

Pemandangan Kampung Babakan Pasir Angin, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
foto: antarafoto
Pemandangan Kampung Babakan Pasir Angin, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat

TASIKMALAYA, NETRALNEWS.COM - Rosita duduk termenung di antara deretan kursi di ruang makan. Di samping kanan dan kirinya, tujuh orang saudara-saudari kandungnya. Mereka adalah keluarga besar keturunan seorang hartawan terkenal di di Tasikmalaya, Jawa Barat, yakni Almarhum Rosan Putra.

Malam itu mereka berkumpul membahas persoalan warisan harta peninggalan orang tua mereka. Hari bersejarah dan menentukan arah tali persaudaraan untuk masa-masa mendatang sedang dimusyawarahkan. Sebelum musyawarah dimulai, digelarlah makan bersama.

Mendadak mata Rosita berserobok dengan mangkuk merah berisi nasi di depannya. Ada yang aneh. Dari tengah-tengah nasi keluar cairan berwarna merah darah. Terdorong oleh penasaran, mangkuk diangkat dan ditaruh ke pangkuannya.

Rosita terlonjak, dari tengah nasi keluar cairan darah segar meluber dan mengucur keluar dari mangkuk itu. Cairan darah membasahi pangkuan Rosita. Ia panik, dikibasnya mangkuk merah berdarah itu.

Mangkuk terlempar dan jatuh ke lantai menjadi berkeping-keping. Nasi bercampur cairan merah darah berhamburan.  Kehebohan terjadi di ruang makan. Rosita ketakutan. Ia berteriak sementara saudara-saudarinya mendatangi dan memegangi pundaknya. Mendadak semua menjadi gelap.

Guncangan keras di pundak Rosita membuat matanya terbuka kembali. Ia terengah-engah. Suaminya ada di sampingnya. Ia baru saja mengalami mimpi buruk yang seumur-umur hidupnya selalu terbayang, sebab peristiwa itu berbuntut percekcokan dengan saudara-saudari sekandung.       

“Itu saya anggap sebagai firasat buruk. Mimpi dini hari tiga tahun silam menjadi penanda masa-masa selanjutnya. Saat musyawarah pembagian harta warisan orangtua kami, adik saya yang bontot tidak terima dengan pembagian. Terjadilah percekcokan,” kenang Rosita (42) kepada Netralnews.com, Kamis (27/6/2019).

Orang tua Rosita memang memiliki harta yang tak sedikit berupa lahan pertanian, beberapa rumah, mobil, dan rekening di sejumlah bank. Ayah Rosita sebenarnya sudah membuat surat warisan di notaris, namun justru karena surat warisan itu, adik bungsu Rosita mengamuk.

Pasalnya, adik bungsu tersebut tidak disebut dalam surat warisan. Entah sadar atau terlupakan, Ayahnya Rosita seolah membedakan adik bungsunya dengan kakak-kakaknya. Tentu saja, adik bungsunya tersinggung dan mendendam dengan ayahnya sendiri.

“Adik bungsu saya memang lahir dari ibu yang berbeda. Ayah saya memiliki tiga istri. Tapi anak-anak lainnya mendapat jatah yang cukup merata. Hanya adik bungsu saya saja yang tidak disebut dan tidak mendapat jatah,” sambung Rosita.

Percekcokan tak terbendung. Adik bungsu Rosita mengancam akan membunuh kakak-kakaknya jika tetap tidak memberikan jatah warisan kepadanya. Ia keluar dari ruangan musyawarah keluarga besar setelah membanting piring di hadapannya.

Rosita tampil sebagai penyelamat. Ia ingat akan mimpi buruk yang dialaminya. Mangkuk merah berdarah, baginya adalah simbol akan terjadi pertumpahan darah jika tidak melakukan upaya serius untuk mencegah malapetaka.

“Karena mangkuk berdarah ada di pangkuan saya, maka saya berpikir, sayalah yang harus ‘memangku’ beban bahaya malapetaka. Artinya, saya merasa diingatkan serius mencegah adik bungsu saya melakukan aksi pembunuhan,” kata Rosita.

Rosita tidak mau ada pertumpahan darah. Ia tidak mau ada saudaranya terluka oleh karena pembagian warisan yang tidak adil. Rosita memutuskan untuk mengalah.

“Saya memutuskan menghibahkan setengah jatah saya kepada adik bungsu saya. Keputusan saya membuat saudara saya terkejut dan tak menyangka dengan keputusan saya. Hal itu juga membuat mereka tergerak mengikuti langkah saya,” masih kata Rosita.

Dalam musyawarah selanjutnya, yang masih tidak dihadiri adik bungsu Rosita, disepakati bahwa semua saudara Rosita menghibahkan sebagian jatah yang diperoleh berdasar surat warisan yang ditulis ayahnya, untuk diberikan kepada adik bungsu mereka.

Keputusan itu kemudian dicatat dalam akta notaris agar memiliki landasan hukum yang kuat dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

“Keputusan itu berhasil meredam amarah adik bungsu saya. Ia mau menerima hibah itu dan mengucapkan terima kasih kepada kakak-kakaknya. Namun, ia masih mendendam kepada almarhum ayah saya. Tapi saya tidak tahu, apakah hingga sekarang ia belum berdamai dengan almarhum,” pungkas Rosita.

Dalam keyakinan Rosita, keputusan yang diambil, diyakini telah berhasil mencegah terjadinya pertumpahan darah. Itu disebabkan karena ia merasa telah mendapat firasat sebelumnya. Mangkuk merah berdarah berhasil mencegah nasi berubah menjadi bubur.

Simbol mangkuk merah sebenarnya tidak hanya berlaku di Jawa. Mangkuk merah dalam kehidupan masyarakat Dayak juga memiliki simbol yang sangat khas.

Suku Dayak memiliki adat, tradisi, dan ritual khusus jika akan terjadi malapetaka yang bisa menyebabkan pertumpahan darah akibat konflik dan perang. Tradisi itu biasa disebut “mangkuk merah”.

Secara garis besar, mangkuk merah sebenarnya merupakan alat komunikasi antar sesama rumpun Dayak dan juga jadi media untuk berhubungan dengan roh nenek moyang. 

Mangkuk Merah juga dipercaya memiliki kekuatan untuk mengerahkan semua orang Dayak agar mau terlibat dalam peperangan. Benda itu akan dikeluarkan bila akan terjadi peristiwa besar yang berdampak sangat mengerikan.

Dahulu, adat ini disebut juga adat “mangkuk jaranang”. Istilah jaranang menunjuk getah tanaman berakar yang berwarna merah. Getah itu kemudian dioleskan pada mangkuk sehingga mangkuk menjadi berwarna merah.

Bila mangkuk merah dikeluarkan, akan ada konsekuensi yang ditimbulkan yakni korban jiwa akan berjatuhan. Oleh sebab itu, mangkuk merah hanya dikeluarkan ketika permasalahan yang dihadapi suku Dayak sudah tidak ada solusinya.

Jika musyawarah sudah buntu, tradisi Dayak siap mengorbankan nyawa demi menjaga kehormatan. Setiap suku Dayak yang menerima undangan adat mangkuk merah wajib terlibat, jika tidak akan dianggap pengecut.

Konon, pada tahun 2001, sebelum kerusuhan berbau rasial antara suku Dayak dan suku Madura meletus di Sampit, Kalimantan Tengah, ritual mangkuk merah digelar. Itulah mengapa kerusuhan di Sampit mengakibatkan korban jiwa begitu banyak dan sangat mengerikan.

Editor : Taat Ujianto