• News

  • Sisi Lain

Kisah Tragis Gadis SMA, Kerasukan Roh Muncikari Usai Digagahi Ayahnya Sendiri

Ilustrasi penutupan lokalisasi Dolly, Surabaya, Jawa Timur
Netralnews/Amar
Ilustrasi penutupan lokalisasi Dolly, Surabaya, Jawa Timur

KARAWANG, NETRALNEWS.COM - Kisah ini ditulis berdasarkan kejadian nyata yang dialami keluarga wanita lansia yang meminta ditulis dengan nama Rohana (60). Pada Selasa (2/7/2019), kepada Netralnews.com, ia berkenan menceritakan kisah rahasia keluarganya yang kelam di kediamannya, Karawang, Jawa Barat.

“Mohon jangan sebut nama asli untuk semua orang yang mau saya sebutkan. Anggap ini sebagai pesan saya sebelum masuk liang kubur. Saya sudah bau tanah. Moga pahit getir hidup saya, tidak dialami oleh siapapun,” keluh Rohana memulai kisahnya. Titik-titik air mata mengintip di sudut matanya.

Rohana menikah setelah lulus SMP di usia 16 tahun pada tahun 1975. Suaminya adalah seorang lelaki yang berumur 9 tahun lebih tua dan berasal dari Kota Malang, Jawa Timur. Usai menikah, Rohana ikut suaminya, tinggal di salah satu rumah kontrakkan di Malang.

Suami Rohana bekerja di toko konveksi dan sablon kaos yang mayoritas pelanggannya adalah mahasiswa namun penghasilannya serba pas-pasan. Agar kebutuhan tercukupi, Rohana mencari tambahan sebagai tukang cuci dan seterika di keluarga orang berada..

Dari pernikahannya, Rohana dikaruniai tiga anak. Yang tertua adalah perempuan yakni Lestari yang lahir di bulan Juni 1876. Sedangkan dua adik-adiknya semuanya laki-laki dengan selisih umur cukup jauh.

Prahara rumah tangga Rohana mulai berdatangan usai perkawinannya menginjak tahun ke-17. Setelah itu, bahtera rumah tangganya kandas tak terselamatkan lagi.

“Mulanya, suatu saat di tahun 1992, Lestari, anak pertama saya yang perempuan baru beberapa hari lulus SMA. Ia mengalami demam tinggi selama tiga hari berturut-turut. Ia menceracau tak karuan. Katanya mau mati saja, hidup nggak ada gunanya, hingga mengaku mau pergi ke Surabaya,” sambung Rohana.

Anehnya, menurut penuturan Rohana, Lestari selalu menyebut-nyebut kata “Dolly”. Kala itu, Rohana tidak paham apa yang dimaksudkan anaknya, walau Rohana tahu bahwa istilah “Dolly” adalah sebutan untuk area lokalisasi di Surabaya, Jawa Timur.

“Kala itu, saya tak berpikir aneh, tapi suami saya bilang ia kesurupan. Jadinya, dibawalah ke Pak Haji yang saya percaya memiliki kemampuan supranatural, tinggalnya dekat rumah kontrakan saya di Malang,” sambungnya.

Anak Rohana mendapat penanganan dan sempat membaik beberapa hari, tetapi kambuh lagi. Anaknya kembali kesurupan dan menceracau dalam bahasa aneh.

“Ceracaunya aneh, bahasanya tidak saya kenal. Selebihnya berteriak ‘saya muncikari Doly’ berulang-ulang, kemudian tak sadarkan diri. Maka saya kembali bawa ke Pak Haji. Kata Pak Haji, anak saya kerasukan arwah muncikari. Anak saya diobati lagi dan kembali sembuh,” tutur Rohana.

Karena kondisi membaik, anak Rohana yang telah lulus SMA ingin mencari kerja dan mengaku dapat panggilan kerja di Surabaya.

Namanya anak yang ingin bantu orangtua, Rohana segera memberikan izin. Berangkatlah ia ke Surabaya. Tiga hari berikutnya, Rohana mengaku seperti disambar geledek.

“Lestari berkirim surat. Di suratnya, ia minta jangan dicari dan menyatakan tidak akan pulang untuk selamanya. Lebih baik pergi karena akan membuat aib keluarga. Ia mengaku telah hamil dua bulan akibat perbuatan bejat ayahnya, alias suami saya sendiri,” kata Rohana bercucuran air mata.

Rohana murka. Ia melabrak suaminya. Lelaki kurus dan bertahi lalat di pipi kanan itu berusaha menyangkal, namun akhirnya mengaku telah menggagahi anak kandung sendiri karena khilaf.

Sontak Rohana mengamuk sejadi-jadinya. Semua benda di sampingnya melayang ke arah suaminya.

“Rasanya saya ingin bunuh lelaki bejat itu. Sempat saya cakar dan tonjok kepalanya, ia tidak membalas tetapi kemudian kabur. Hati saya sakit. Mau mati rasanya. Berhari-hari tak ada hasrat makan. Kalau tidak ingat Tuhan, mungkin saya sudah bunuh diri,” keluh Rohana.

Sejak Rohana marah meledak-ledak dan mengancam mau membunuh, suaminya tak pernah pulang. Ia seperti hilang ditelan bumi. Rohana juga tidak ada niat untuk mencarinya.

Sayangnya, Rohana tak berminat melaporkan apa yang tengah terjadi dalam keluarganya ke aparat kepolisian. Ia malah memutuskan kembali pulang ke kampung halamannya.

“Percuma, sama saja hasilnya. Keluarga saya tetap tak terselamatkan. Malah aibnya saja yang jadi tontonan dan pergunjingan orang. Saya memilih pulang kampung. Saya bawa kedua anak laki-laki saya yang kala itu masih SD dan TK,” tutur Rohana.

Di Karawang, Rohana tinggal di rumah orang tuanya dan memulai hidup baru. Ia pendam semua kepahitan hidup sedalam-dalamnya. Bahkan kedua orang tua dan saudara-saudaranya tidak diberitahu tentang apa yang sebenarnya terjadi.

“Saya mengaku cerai, ditinggal suami. Itu saja. Cerai dan ditinggal laki-laki, hal biasa di kampung saya. Sementara saya sudah tidak bernafsu untuk menikah lagi,” sambung Rohana.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Rohana kerja serabutan mulai jadi buruh di sawah, buruh harian di pabrik, hingga jualan sayuran. Dengan itu, Rohana bisa sekolahkan kedua adik Lestari hingga tamat SMK.

Sementara itu, Lestari, anak gadis Rohana yang mengaku telah dinodai ayahnya juga hilang kabarnya. Rohana tidak tahu di mana keberadaannya. Setiap malam tiba, Rohana hanya bisa kirim doa agar diberikan yang terbaik dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Di satu siang di tahun 2015, anak perempuan Rohana tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Badannya kurus, wajahnya pucat, dan langsung memeluk saya. Kami menangis sesenggukan berdua. Tak ada orang lain tahu apa yang kami rasakan. Setelah kering air mata kami, barulah ia saya ajak masuk ke rumah. Ia tetaplah anak perempuan yang sangat saya sayangi,” kata Rohana . Air matanya kembali mengucur tanpa permisi.

Di dalam rumah, Lestari mengutarakan perjalanan hidupnya, sejak pertistiwa 23 tahun silam.

Tiba di Surabaya, Lestari yang sudah tak gadis lagi dan telah hamil dua bulan, mengaku diarahkan oleh bisikan sosok perempuan misterius yang merasukinya agar datang ke salah satu wisma remang-remang di Gang Dolly, Pasar Kembang, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya.

Ia diterima seorang wanita paruh baya dengan baik. Setelah mengisahkan prahara hidupnya akibat diperkosa ayah kandungnya. Lestari disarankan menggugurkan kandungannya dan selanjutnya bisa bekerja di wisma yang ia kelola. Lestari menurutinya.

Lestari akhirnya berprofesi sebagai wanita penghibur dan sempat menjadi primadona wisma. Di masa jayanya, ia berulang kali diajak kencan dengan sejumlah kepala desa hingga pengusaha ternama.

Namun, Lestari tak bisa melawan untuk menjadi tua. Badannya tidak lagi seindah kala ia masih baru lulus SMA. Perlahan ia tak menjadi wanita idola para pelanggan wisma. Namun, ia tetap masih laku sehingga tetap mendapat penghasilan untuk memenuhi hidupnya.

Hari Rabu, 18 Juni 2014, praktik prostitusi di Gang Dolly secara resmi dinyatakan ditutup oleh Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini. Lestrai dan beberapa temannya sempat melawan keputusan itu namun aparatur Pemkot Surabaya sudah bulat dan satu kata, Dolly harus ditutup untuk selamanya.

Lestari diombang-ambingkan oleh dilema.  Ia mengharapkan mendapat bisikan roh perempuan misterius di awal petualangannya menjadi wanita penghibur. Namun, roh perempuan itu tak pernah datang, justru bayangan Rohana, ibunya, yang terus menghantuinya.

Lestari kembali tersedu-sedu. Ia sujud dan mencium kaki ibunya seraya mohon ampu. Lestari merasa tak layak menjadi anak Rohana kerena telah menjadi perempuan kotor. Sementara Rohana terus membelai rambut pendek di kepala Lestari.

Rohana menciumi kedua pipi anaknya. Ditopangnya tubuhnya, seraya berbisik, “Kamu anak perempuan ibu satu-satunya. Ibu maafkan. Jangan tinggalkan ibu lagi. Bersama kita selesaikan tugas hidup kita di dunia.”

Lestari sempat dua tahun tinggal bersama Rohana. Di bulan Maret 2018, Lestari dilamar oleh seorang lelaki duda dari Sukabumi. Lestari menerima pinangan tersebut. Usai menikah, ia tinggal bersama suaminya.

“Semoga pernikahannya langgeng hingga akhir hidupnya. Semoga suaminya benar-benar menerima anak saya apa adanya,” doa Rohana mengakhiri ceritanya.

Sementara tentang lokalisasi Dolly di Surabaya, terbukti berhasil ditutup untuk selamanya. Rohana mengaku bersyukur dengan keputusan Walikota Risma. Bila tak ada keputusan itu, mungkin Rohana tidak akan pernah berjumpa lagi dengan anaknya.

Lokalisasi Gang Dolly yang sudah ada sejak zaman Belanda kini tinggal cerita. Namun masih banyak orang membisikkan kisah asal mula lokalisasi yang unik sekaligus pernah terkenal di Asia Tenggara.

Salah satu kisah yang menjadi buah bibir adalah keberadaan sosok perempuan keturunan Belanda yang bernama Dolly van der Mart (kadang disebut Dolly Khavit).

Konon, ia adalah sosok perempuan pertama yang menggagas pendirian wisma tempat praktik prostitusi di area tersebut. Ia meninggal pada tahun 1992.

Editor : Taat Ujianto