• News

  • Sisi Lain

Selain Manusia, Jin, dan Malaikat, Mengapa Ada Kuntilanak dan Hantu Anak di Bogor?

Sasa dan Nia (nomor 1 dan 2 dari kiri) saat mengenang pengalaman mistis bersama teman-temannya
Netralnews/Taat Ujianto
Sasa dan Nia (nomor 1 dan 2 dari kiri) saat mengenang pengalaman mistis bersama teman-temannya

BOGOR, NETRALNEWS.COM - Sudah semestinya, manusia harus bertumpu pada Firman Tuhan, sesuai ajaran agamanya masing-masing. Dengan pedoman itu, manusia dapat hidup sesuai jalan yang dikehendaki oleh Sang Maha Penguasa alam semesta.

Hanya saja, manusia seringkali terjebak pada otak dan jalan pikirannya sendiri. Firman Tuhan dalam Kitab Suci sering ditafsirkan oleh hanya otaknya sendiri. Kebenaran milik Sang Maha sering diklaim hanya dengan kepala manusia.

Padahal, Sang Maha ibarat air dalam samudera raya yang tak terbatas. Sementara manusia ibarat setetes air di samudera raya. Tiada mungkin setetes air bisa menyamai air di lautan lepas.

“Manusia sering angkuh,” mungkin itulah kata yang paling tepat. Dengan otaknya yang hanya sekadar setetes air di samudera raya, seringkali mengklaim kebenaran Sang Maha.

Dalam hal makhluk hidup ciptaan Tuhan, sering disebut dalam Kitab Suci hanya terdiri dari manusia, malaikat, dan jin. Sebagian orang meyakini, tak ada yang namanya hantu seperti banaspati, kuntilanak, genderuwo, dan sebagainya.

Jin bolehlah digambarkan seperti dalam film Aladin. Ia makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki kekuatan gaib. Ia bia berubah wujud menjadi apa yang dikehendaki tuannya.

Pertanyaannya, apakah jin bisa menjelma menjadi makhluk-makhluk halus lainnya? Jangan-jangan kuntilanak, genderuwo, tetekan, banaspati, dan sebagainya adalah penjelmaan jin?

Pertanyaan lainnya, juga bisa ditujukan kepada makhluk yang disebut manusia dan malaikat. Bahkan bisa pula diterapkan kepada kambing, kerbau, dan pohon rambutan. Setelah mati, jangan-jangan roh, energi, hakikat ataupun entah sebutan lainnya dari makhluk hidup itu tetap ada.

Manusia boleh menyelaminya. Boleh menggunakan pendekatan iman maupun dengan pendekatan ilmiah. Dan ujungnya pasti tetap akan melahirkan perdebatan, prokontra, dan pernyataan-pernyataan kontroversi. Sebagai contoh, ambilah salah satu kejadian nyata berikut ini.

Suatu malam di tahun 2011, serombongan anak berlarian dan berteriak mengejutkan para orang tua di satu perumahan yang berada di Desa Waringin Jaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Konon, anak-anak itu melihat penampakan sosok perempuan berbaju putih, malayang dan tertawa cekikikan di bawah jaringan tegangan tinggi yang melintasi perumahan tersebut (sutet). Anak-anak menyebutnya kuntilanak.

Terhadap kejadian itu, hari Kamis malam  (11/7/2019), Netralnews berusaha mengorek keterangan beberapa anak dari 7 anak yang dahulu menyaksikan penampakan tersebut. Anak itu kini sudah duduk di kelas 1 SMA. Namanya Sasa (17).

“Ya kala itu jelas sekali. Kami bertujuh melihatnya penampakan sosok perempuan berbaju putih, berambut panjang, melayang di bawah tiang sutet sambil tertawa cekikikan. Melayang, ya seperti terbang kemudian menghilang,” tutur Nia.

Seingat Nia, peristiwa terjadi sekitar pukul 23.30, saat anak-anak tengah ngobrol di lapangan voli yang berada di bawah sutet. Anak-anak itu baru saja selesai bermain bentengan (permainan tradisional).

“Saat anak-anak berlarian, sosok itu masih melayang. Tapi begitu bapak-bapak berdatangan karena kami berteriak-teriak, sosok itu kemudian menghilang,” tambah Nia.

Masih di lokasi yang sama. Narasumber lain, bernama Sasa (15) juga mengaku pernah melihat penampakan empat anak perempuan berbaju putih sedang bergerombol, seolah sedang bermain dakon (permainan tradisional).

“Saya melihatnya dari jarak sekitar 20 meter. Wajahnya kelihatan pucat tapi saya merasa nggak kenal mereka. Mereka bukan berasal dari warga RT 04  (wilayah tempat tinggal Sasa, red),” kenang Sasa terhadap penampakan di satu malam sekitar awal tahun 2018.

“Begitu saya dekati, mereka semua berubah menjadi seperti kabut dan lenyap. Karena takut, ya saya langsung lari meninggalkan lokasi itu,” sambung Sasa.

Bila dikonfirmasikan dengan orang-orang tua yang mengetahui asal-usul daerah perumahan tempat tinggal Nia, Sasa dan kelima teman mereka, maka akan dijumpai kisah misteri yang menguatkan pengalaman mereka.

Warga perkampungan yang tahu asal-usul perumahan tersebut akan segera mengisahkan bahwa dahulu sebelum tahun 1970-an, lokasi itu adalah tempat yang angker berupa rawa yang berlumpur sangat dalam. Namanya daerah balong.

Konon di rawa itu dahulu sering dijadikan sebagai tempat membuang mayat korban pembunuhan. Di rawa itu, konon juga dihuni siluman buaya.

Ada pula yang menyebutnya dihuni oleh hantu perempuan tua yang sering mengganggu petani saat mengolah lahan sawah di sekitar rawa. Dan masih banyak cerita mistis lainnya.

Kisah-kisah mistis dan penampakan yang dialami dua anak di atas, pasti akan menimbulkan beragam pendapat. Mungkin ada yang percaya karena anak-anak biasanya justru memiliki penglihatan yang tajam, dibanding orang dewasa.

Anak masih relatif belum memiliki banyak dosa sehingga jiwanya lebih murni, bersih, dan mampu melihat hal-hal supranatural. Namun, bagi orang lain mungkin akan berpendapat lain.

Kedua pengakuan anak itu bisa saja disebut “sedang mengalami halusinasi.” Bisa pula, menyebut kedua anak itu menceritakan sesuatu yang takhayul, bahkan mungkin menuduh mereka bersaksi dusta atau hoaks.

Dalam hal ini, Netralnews tak berwenang mencegah dan menghalangi beragam pendapat tersebut. Bagi yang menyebut hoaks dan tak percaya terhadap kesaksian Nia dan Sasa, maka dengan segala hormat, tidak perlu memperdebatkan lagi.

Mengapa? Sebab, kepada mereka, perdebatan tidak akan ada ujungnya. Sasa dan Nia tak akan mampu membuktikan atas apa yang pernah dilihatnya.

Menuduh mereka mengalami halusinasi dan apapun namanya juga tidak akan membuat Nia dan Sasa mudah melupakan kenangan tersebut.

Dan bagi yang percaya terhadap apa yang dilihat Nia, pertanyaannya, apa atau siapa sesungguhnya sosok-sosok yang dilihat oleh Nia dan Sasa? Bukankah selain manusia hanya ada Malaikat dan Jin? Lalu makhluk apakah yang disebut Nia sebagai kuntilanak dan hantu anak-anak yang dilihat Sasa?

Apakah siluman buaya, roh nenek, hantu anak adalah perwujudan jin?

Di Indonesia persoalan ini selalu menjadi perhatian menarik. Persoalan ini sebenarnya bersifat relatif. Boleh percaya, boleh tidak. Bisa membuat seseorang merasa diuntungkan, bisa pula merasa dirugikan.

Bisa juga tak memiliki arti apapun bagi orang yang tak mau peduli dan tak mau menganggap persoalan ini (bukan hal penting untuk dibahas).

Bagi yang percaya, hidup manusia sebenarnya selalu diliputi berbagai misteri. Persoalan hantu hanyalah salah satunya saja. Belum berbicara tentang alam semesta yang tiada batasnya (planet dalam galaksi, dan galaksi ada jutaan, alien, dan sebagainya).

Dengan semuanya itu, masihkah manusia tetap angkuh dan tetap ingin memaksakan pemahaman atas kebenaran berdasarkan pada cara kerja otaknya saja? 

Editor : Taat Ujianto