• News

  • Sisi Lain

Ngeri! Ada Hantu Wanita Rambut Panjang di Gedung Ini, Presiden Jokowi pun Mengakui

Joko Widodo di rumah dinas Wali kota Solo, Loji Gandrung
foto: solopos.com
Joko Widodo di rumah dinas Wali kota Solo, Loji Gandrung

SOLO, NETRALNEWS.COM – Siapa sangka, rumah dinas seorang kepala pemerintahan di kota Solo menjadi pergunjingan sebagian orang karena terkenal keangkerannya. Itulah rumah dinas wali kota Solo yang biasa disebut dengan nama Loji Gandrung.

Lokasi rumah tersebut berada di Jl. Slamet Riyadi, Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Keangkeran di rumah ini sering disebut-sebut karena hubungannya dengan sejarah masa lalu baik di era Belanda, era Soekarno, hingga era kemerdekaan.

Berdasar penelusuran Netralnews, tak disangka munculnya berbagai mitos dan penampakan menyeramkan juga disebabkan karena gedung ini pernah digunakan sebagai lokasi penyiksaan tokoh-tokoh penting yang dianggap beraliran komunis dan terlibat G-30-S tahun 1965.

“Sering terdengar jeritan dan tangisan perempuan. Saya menduga itu ada hubungannya dengan jejak masa lalu. Ada energi gaib dari sosok perempuan yang dulu dituduh PKI dan disiksa,” tutur lelaki yang mengaku bernama Suparno (54), hari Minggu (14/7/2019).

Suparno adalah seorang warga kelahiran Kota Solo dan pernah bekerja sebagai petugas kebersihan di rumah tersebut. Sedikit banyak, ia mengenal sisi-sisi misteri terkait Loji Gandrung karena kebetulan ia juga menggemari hal-hal berbau supranatural.

“Tak hanya saya. Beberapa orang lain juga pernah melihat penampakan sosok perempuan berambut panjang. Ia menampakkan diri dalam kondisi seperti sedang menangis. Terserah mau disebut apa sosok itu. Saya pribadi sih tidak setuju kalau dinamakan kuntilanak,” sambungnya.

Uniknya, cerita keangkeran Loji Gandrung juga pernah disampaikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika ia masih menjabat sebagai wali kota Solo. Pengakuan itu sempat diabadikan wartawan Kompas hari Minggu (26/6/2011).

"Bagaimanapun, rumah Loji Gandrung ini memang dikenal sebagai tempat yang angker," ujar Jokowi. Kala itu, ia sedang menyampaikan sambutan dalam acara makan malam bersama Kepala Pusat Investasi Pemerintah (PIP) Soritaon Siregar.

Tentu saja, pernyataannya membuat para tamu terkaget-kaget. Mungkin karena melihat respon pengunjung yang tampak takut, Jokowi kemudian membelokkan ceritannya menjadi berbau lelucon. Ia pasti tidak mau para tamu malah meninggalkan acara karena ditakut-takuti.

Jokowi kemudian menambahkan bahwa seminggu setelah terpilih sebagai wali kota dan menetap di Loji Gandrung, ia sempat mendapatkan cerita mengejutkan tentang adanya sosok hantu perempuan berambut panjang di Loji Gandrung.

Suatu malam, sekitar pukul 00.30 WIB, dia masuk melalui pintu depan. Dibukanya tirai di ruang tengah sehingga pandangannya ke bagian lobi belakang terbuka.

"Serta-merta saya lihat ada perempuan berambut panjang tengah duduk di kursi panjang di lobi belakang itu. Saya terkejut dan teriak sejadi-jadinya. Perempuan itu pun ikut terkejut. Baru tahu bahwa ternyata itu istri saya sendiri, yang memang tidak bisa tidur," ujarnya.

Sontak, suasana yang sebelumnya tegang, berubah menjadi penuh gelak tawa karena banyolan Jokowi. Masih belum puas, ia menambahkan kisah misteri tentang keberadaan sosok siluman ular yang kadang juga menampakkan diri di Loji Gandrung menurut cerita masyarakat.

Konon pernah ada ular sepanjang empat meter seukuran paha orang dewasa. Ular besar itu ditemukan di atas meja dapur kompleks Loji Gandrung. Setelah itu dipanggillah pawang ular.

Setelah didekati ular tersebut lari ke arah lemari. Lalu, lemari tersebut diangkut ke bagian depan Loji Gandrung bersama ularnya di dalam.

"Banyak yang bilang, ular itu adalah pesugihan wali kota, agar mendapat rezeki. Rupanya rezekinya enggak datang juga. Yang jelas dapat rezeki ya pawang ular itu. Karena kalau dijual, bisa dapat jutaan rupiah," tuturnya. Sekali lagi para tamu undangan tertawa terbahak-bahak.

Seperti diketahui  khalayak banyak, Loji Gandrung dibangun sejak era Kolonial Belanda. Tetapi yang belum banyak diketahui, gedung ini juga pernah dijadikan sebagai tempat penyekapan aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI) karena dituduh terlibat G-30-S tahun 1965.

Dalam catatan administrasi kota, Rumah Dinas Loji Gandrung memiliki luas 3.500 meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 6.295 meter persegi. Gedung ini didirikan tahun 1872. Namun, ada juga sumber lain yang mengatakan didirikan tahun 1830.

Sejak awal, rumah ini memang digunakan sebagai kediaman pejabat penting. Pernah digunakan Jenderal Gatot Subroto saat ia menyusun strategi militer menghadapi agresi militer yang dilakukan Belanda dan Sekutu.

Rumah ini juga pernah dihuni mendiang Presiden Soekarno. Beliau sering menginap di salah satu kamar bagian depan bangunan, saat ia berkunjung ke Solo. Sementara  beberapa wali kota juga pernah mendiami, salah satunya adalah Jokowi.

Dalam banyak kesaksian warga, sering dikisahkan bahwa kamar tempat Presiden Soekarno menginap. Di kamar tersebut seringkali terjadi kejadian di luar nalar. Salah satunya adalah tercium aroma harum melati yang misterius, padahal di ruangan itu tak ada pengharum apapun.

Cerita yang tak kalah menyeramkan adalah tentang penampakan sosok hantu yang dikaitkan dengan peristiwa penangkapan dan penyiksaan mereka yang dituduh anggota PKI. Hal ini mencuat setelah penangkapan Walikota Oetomo Ramelan, tahun 1965.

Bagian pendopo (serambi) Loji Gandrung digunakan sebagai tempat interogasi. Mengapa bisa demikian? Sebab, berdasar penelusuran dokumen Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI), tempat ini memang sejak awal menjadi tempat sangat penting dalam percaturan politik di Solo.

Sebelum meletus G-30-S, gedung sempat digunakan sebagai tempat pertemuan militer dan sejumlah organisasi massa seperti Masyumi, HMI, GPTP (Gerakan Pelaksana Tjita-Tjita Proklamasi; organ yang dibentuk eks-anggota Tentara Pelajar; diantaranya Sigit) dan Mahasura (Mahasiswa Surakarta).

Setelah meletus G-30-S, terjadilah masa kelam. Banyak tokoh penting di Solo yang dituduh anggota PKI dikumpulkan di rumah ini. Mereka dienterogasi dan tak jarang diiringi dengan penyiksaan.

Dua orang interogator yang terkenal saat itu bernama Pramoedya dan Sigit. Pramoedya adalah seorang pengusaha batik asal Kelurahan Laweyan. Sedangkan Sigit adalah anggota GPTP.

Karena Militer Angkatan Darat di tempat itu memberikan kelonggaran untuk melakukan interogasi, Pramoedya  pun menjadi-jadi. Penyiksaan mengerikan sering digunakan untuk memaksa tahanan mengakui terlibat G-30-S.

Sebagian dari mereka konon juga “dibon” (dibawa keluar saat malam hari kemudian dinyatakan hilang untuk selamannya, diduga mereka dibunuh di lokasi lain).

Peristiwa kelam ini terungkap setelah beberapa mantan tahan politik tahun 1965 selamat dari masa gelap itu. Salah satunya adalah  Sumidi, seorang pengusaha batik yang menjadi simpatisan PKI.

Pasca pecahnya Peristiwa 1965, ia membentuk sebuah organisasi bawah tanah untuk menyelamatkan aktivis-aktivis yang diburu penguasa militer dan para tapol. Namun, kegiatannya tercium oleh penguasa militer.

Pada 14 Agustus 1967, lewat tengah malam, sepasukan CPM dari Pomdam Semarang menangkap dan membawanya ke Loji Gandrung untuk diinterogasi.

“Saya , di bawah todongan pistol, dan mereka lalu melakukan penggeledahan di setiap sudut rumah, sampai sekitar jam 4 pagi. Setelah penggeledahan selesai saya dibawa ke Loji Gandrung. Di sini saya baru melihat, beberapa dari personil CPM itu berasal dari POMDAM Semarang. Sepanjang hari pada hari itu, mulai dari sekitar jam 6 pagi sampai 4 sore saya diinterogasi,” tutur Sumidi.

Dari penuturannya, penyiksaan selama interogasi sangatlah mengerikan.

”Penyiksaan tentu saja terus-menerus saya alami. Dari pemukulan dengan tangan telanjang atau dengan alat, tendangan, dan lain-lain, tindisan kaki kursi atau meja di ibu jari kaki. Juga dengan pensil ditaruh di antara jari-jemari tangan, kemudian jari-jemari itu ditekan dan ditekan. Siksaan yang tidak mematikan tetapi menimbulkan rasa sakit yang amat sangat,” tutur Sumidi.

Singkat cerita, di gedung ini menjadi angker oleh karenanya. Dalam pengakuan Suparno, Loji Gandrung ibarat gedung yang “merekam” persitiwa lampau. “Rekaman” itu melahirkan efek berupa energi yang kadang berbunyi laksana kejadian penyiksaan di tahun 1965.

“Jeritan-jeritan dan penampakan wanita perempuan berambut panjang, bisa jadi merupakan jejak peristiwa lampau. Alam merekam peristiwa tahun 1965. Energinya dari rekaman itu ingin menyuarakan kasus penyiksaan terhadap mereka yang dituduh anggota Gerwani dan PKI,” kata Suparno.

Editor : Taat Ujianto