• News

  • Sisi Lain

Heboh Kuburan Janin Tionghoa di Purworejo, Arwahnya Dikabarkan Menangis di Pohon Ara

Pohon ara  dalam bahasa lokal di Purworejo, Jawa Tengah, biasa disebut pohon elo
Netralnews/Istimewa
Pohon ara dalam bahasa lokal di Purworejo, Jawa Tengah, biasa disebut pohon elo

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – “Nama tempatnya, Kali Elo. Dikenal angker. Mulanya, menurut cerita warga, dahulu di makam umum warga, ada janin keluarga etnis Tionghoa dikuburkan di situ. Sejak itu, sering terdengar suara tangisan bayi di malam tertentu,” tutur Sunarjo (54).

Lelaki yang sehari-hari menggarap lahan sawah tak jauh dari lokasi Kali Elo, di kawasan Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menuturkan kisah pengalamannya kepada Netralnews, hari Selasa (16/7/2019).

Menurut Sunarjo, ada mitos kuno bahwa jika janin meninggal dalam kandungan dan dikuburkan dengan tidak benar, bisa membawa sial. Entah benar atau tidak, yang pasti, banyak warga meyakini bahwa penampakan bayi menangis di pohon Elo di Kali Elo, erat kaitannya dengan mitos itu.

“Dinamakan Kali Elo karena di kali itu banyak tumbuh pohon elo. Ada yang menyebutnya pohon ara. Dan kali itu melintasi pemakaman umum, tempat bayi itu dikuburkan. Bayi itu mati dalam kandungan dari ibu beretnis Tionghoa,” sambungnya.

Dalam kepercayaan warga setempat, penampakan bayi menangis itu merupakan tangisan arwah janin keluarga Tionghoa itu yang mendiami pohon elo atau pohon ara besar yang tumbuh di bawah makam. Anehnya, hanya hari tertentu saja, bayi itu menangis.

“Tidak setiap malam terdengar suara tangisan bayi. Hanya di malam tertentu, terutama di malam Selasa dan Jumlat Kliwon. Sudah banyak orang yang menjumpai fenomena itu,” tambah Sunarjo.

Ia kemudian mengisahkan pengalamannya sendiri saat pertama kali menjumpai fenomena tangisan bayi di pohon ara yang dimaksud.

“Saya dan anak saya, suatu malam berburu lindung atau belut. Waktu itu tidak ingat kalau malam itu adalah malam Jumat Kliwon. Kami berangkit biasa saja. Sekitar pukul 23.00, kejadiannya,” kata Sunarjo.

Saat melintasi area Kali Elo, Sunarjo merasakan suasana malam berubah menjadi pekat. Anaknya juga mengaku merasakan badannya merinding oleh hawa dingin yang aneh. Ia juga mengaku mencium aroma seperti singkong bakar.

“Aneh. Gelap sekali rasannya di luar lampu petromak yang saya bawa. Bau singkong bakar menyengat. Anak saya ketakutan dan malah minta segera pulang. Malam itu seolah belut tidak keluar. Mungkin karena disebabkan oleh hawa yang sangat dingin,” kenang Sunarjo.

Mendadak ia dikejutkan oleh lengkingan suara bayi menangis. Ia nyaris melompat karena saking terkejutnya.

“Seperti bayi nangis kejer mengejutkan kami. ‘Oeek, oeeek, oeeek’ gitu terus. Yakin saya. Itu bukan suara kucing. Saya dan anak saya berhenti dan memastikan arah sumber suara. Jelas, jaraknya sekitar 100 meter dari pohon elo besar di Kali Elo,” papar Sunarjo.

Sunarjo berusaha mengumpulkan keberanian untuk mendekati pohon itu. Namun ia urungkan niatnya karena merasa kakinya justru semakin gemetaran. Lagi pula, anaknya yang baru kelas 4 SD, merengek ketakutan.

“Sayangnya, saya tidak berani mendekat untuk memastikan suara tangisan bayi itu. Sebenarnya penasaran makhluk apa sesungguhnya yang menangis begitu mengibakan. Kaki saya terlanjur gemetar sementara anak saya mulai menangis ketakutan. Ya sudah, kami balik badan,” tuturnya.

Sunarjo dan anaknya segera menjauh dari tempat itu. Suara itu masih terus terdengar. Semakin lama semakin terdengar lirih karena jarak pohon elo dengan posisi Sunarjo semakin jauh. Semenjak kejadian itu, Sunarjo masih terngiang-ngiang.

Hari lain ternyata kembali berulang. Kali ini ia bukan sedang berburu lindung. Ia hanya sedang melintasi jalanan di dekat Kali Elo. Ia sedang pulang dari kondangan di saudaranya yang tinggal di desa tetangga.

“Pengalaman kedua, saya alami saat pulang dari kondangan bersama istri saya. Kami bersepeda. Istri membonceng di belakang. Sekitar pukul 21.00 kira-kira. Tapi bukan malam Jumat Kliwon. Itu malam Selasa Kliwon,” kenang Sunarjo.

Persis saat melintasi area persawahan dekat Kali Elo, ia mengaku mendengar suara yang persis sama dengan sebelumnya. Istrinya pun mendengar dan menjadi takut karenanya.

“Tangisan bayi bersumber dari arah yang sama dengan yang sebelumnya yakni di pohon ara pinggir Kali Elo. Tangisan bayi mengiba seperti minta ASI ibunya. Istri saya pun mendengar. Suaranya kan memang jelas. Ya sudah, dalam hati kami hanya berdoa,” kata Sunarjo.

Ia sendiri tidak bisa memahami secara lebih jauh tentang fenomena ganjil yang ia jumpai. Yang bisa ia lakukan, kalaupun itu benar merupakan arwah bayi keluarga Tionghoa yang sudah meninggal puluhan tahun lalu, adalah mengirimkan doa agar arwahnya segera sempurna.

“Kalau memang arwah penasaran, semoga segera sempurna. Namun saya sendiri masih penasaran juga. Andaikan saat saya mendengar, ada yang menemani, saya ingin buktikan suara itu. Memang arwah bayi atau jangan-jangan suara binatang, misalnya bayi musang,” keluh Sunarjo.

Ia sebenarnya tidak ingin fenomena itu manjadi mitos yang terus dikisahkan turun-temurun dan membuat generasi muda takut. Solusinya menurutnya adalah membuktikan sumber suara itu.

“Sayangnya, sampai sekarang belum ada yang bisa membuktikan hal itu. Alhasil, cerita bahwa itu suara hantu bayi yang sedang menangis masih belum hilang. Sekitar 15 tahun lalu malah pernah menjadi cerita yang menghebohkan kampung saya,” kata Sunarjo.

Menurut penuturannya, pohon elo atau ara di Kali Elo, hingga kini masih kokoh berdiri. Pohonnya memang besar. Hanya saja, saat ini tidak lagi serimbun dahulu. Banyak pohon yang ditebang karena menghalangi sinar matahari memancar ke area persawaan di sekitar kali.

“Sekarang lokasinya lebih terang. Banyak pohon di sekitarnya yang ditebang tetapi area persawahan, kali, dan kuburannya masih ada dan warga masih tetap menganggap angker,” pungkas Sunarjo.

Dalam penelusuran Netralnews, pohon elo yang disebut-sebut Sunarjo ternyata memang bukanlah pohon asing di daerah itu. Hanya saja, sejak dahulu, buah pohon elo jarang dikonsumsi. Anehnya, kini, sering terdengar namanya disebut-sebut sebagai pohon ara yang mahal harganya.

Pohon elo atau ara bernama latin Ficus racemosa dari cluster fig tree. Tanaman ini masuk ke dalam suku Moraceae. Pohon ini diperkirakan berasal dari kepulauan di sekitar Asia Tenggara.

Selain itu, banyak pula ditemukan di daerah tropis, seperti Pakistan, India, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, Tiongkok Selatan dan Barat Daya (Yunnan), Burma, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia, hingga Australia Utara.

Nama lokal pohon elo berbeda-beda, misalnya elo (Jawa), loa (Sunda), cay sung (Vietnam), duea kliang dan ma duea (Thailand), ju guo rong dan ara (Tiongkok).

Uniknya dalam sejarah asal-usul agama, pohon ini banyak disebut-sebut sebagai tanaman suci. Dalam agama Budha, Sidharta mendapatkan pencerahan saat duduk sebuah pohon Bodhi atau bahasa lain dari Ara.

Dalam agama Hindu, tumbuhan ini disebut dengan pohon dunia yang akar-akarnya menjulang menjadi sumber dari Sungai Saraswati. Di agama Kristen, dan Yahudi, ara disebutkan sebagai salah satu pohon yang namanya diabadikan di Kitab Suci.

Sedangkan dalam agama Islam, nama pohon ini diabadikan dalam salah satu surat Al-Quran bernama At-Tin yang mempunyai arti pohon ara. Hampir semua agama mayoritas menyinggung nama ara. Ini menjadi bukti keunikan pohon itu.

Mengenai tangisan bayi yang misterius itu, ada baiknya untuk tidak buru-buru menyimpulkan sebagai roh halus atau arwah bayi. Memang mutlak dibutuhkan. Bisa jadi pula bahwa suara tangisan itu bersumber dari hewan yang sedang berebut menikmati buah ara.

Editor : Taat Ujianto