• News

  • Sisi Lain

Niat Hati Mau Singkap Hantu di Lawang Sewu, Narasumber: WNA Carinya di Planet Mars

Gedung Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah
foto: heritage.kai.id
Gedung Lawang Sewu di Semarang, Jawa Tengah

SEMARANG, NETRALNEWS.COM - Ada-ada saja respons publik terhadap pemberitaan media massa. Sebagian sangat menyukai kisah-kisah berbau mistis, hantu, cerita horor, dan sebagainya. Namun, ada juga khalayak yang tidak suka, bahkan membenci.

Wartawan yang terbiasa menginvestigasi kisah mistis memiliki banyak pengalaman unik. Saat bertemu narasumber yang memang memiliki keyakinan akan adanya makhluk halus di sekitar kita, akan cenderung mudah memberikan keterangan.

Tetapi coba bayangkan bila berjumpa dengan orang yang antipati terhadap kisah misteri. Boro-boro mendapat informasi, bisa-bisa malah mendapat cemoohan, bahkan bisa diusir karena memang mereka tidak percaya.

Alhasil, mencari narasumber kisah misteri harus tepat. Biasannya, kisah akan mudah diperoleh bila narasumbernya adalah juru kunci tempat-tempat yang dianggap keramat atau hantu. Selain lebih akurat, kebanyakan juru kunci memang memiliki olah spiritual yang kental dengan hal-hal gaib.

Salah satu pengalaman unik karena ditolak narasumber pernah dialami wartawan Netralnews.com pada bulan Juni 2019 lalu. Kala itu, ia akan menggali informasi tentang kisah-kisah penampakan hantu di Lawang Sewu yang berlokasi di Kota Semarang, tepatnya di Jl. Pemuda, Sekayu, Kec. Semarang Tengah.

Salah satu warga yang dijumpai adalah seorang lelaki muda yang tinggal tidak jauh dari tempat itu. Saat ditanya-tanya, jawaban calon narasumber itu cukup menyentil dan mengejutan, tetapi juga ada benarnya.

Kata pemuda itu, "Yaaah Mas, hari gini masih berburu hantu. Orang luar negeri (WNA, red) sudah berburu planet untuk bisa ditinggali manusia. Kalaupun berburu hantu, mereka berburunya di planet Mars."

Ia masih menambahkan, "Sejumlah ilmuwan luar negeri, mikirnya adalah alien bukan hantu. Kalau di Indonesia, masih saja sibuk dengan penampakan kuntilanak, tuyul, genderuwo. Tapi ya, maaf Mas, itu pendapat saya saja. Silakan cari narasumber lain."

Wartawan Netralnews kemudian pergi meninggalkan pemuda itu. Tak baik menanggapinya karena bagi yang tak percaya dan tidak menyukai kisah horor, ya tidak akan tertarik membahas kisah penampakan roh halus.

Singkat cerita, si wartawan akhirnya memilih menelusuri lokasi yang dimaksud dengan menggali berbagai informasi dan narasumber lain.

Lawang Sewu dalam bahasa Jawa berarti "pintu seribu". Sebutan itu sesuai karena bangunan itu memang memiliki banyak pintu, meskipun kenyataannya, jumlahya tidak mencapai seribu. Bangunan juga dilengkapi banyak jendela yang lebar laksana pintu.

Dahulu, gedung ini merupakan kantor pusat perusahaan kereta api Hindia Belanda atau Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang terletak di bundaran Tugu Muda yang dahulu disebut Wilhelminaplein. Gedung dibangun mulai tahun 1904 dan selesai pada 1907.

Di awal kemerdekaan, gedung ini disebut-sebut karena menjadi salah satu lokasi terjadinya pertempuran lima hari di Semarang (14-19 Oktober 1945). Kala itu, pemuda Angkatan Muda Kereta Api bertempur melawan Kempetai dan Kidobutai, Jepang.

Tak heran bila gedung itu kemudian menjadi salah satu bangunan kuno yang patut dilindungi seperti tertuang dalam Surat Keputusan Wali Kota Nomor 650/50/1992 tentang Lawang Sewu sebagai cagar bidaya.

Singkat cerita, gedung itu kini menjadi salah satu objek wisata sangat populer bagi para wisatawan. Selain karena ingin menyaksikan keindahan gedung kuno, banyak wisatawan juga tertarik karena ingin mengetahui cerita mistis di balik penampakan gedung itu.

Cerita mistis tersebut, bagi mereka yang menggemari, menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Dalam hal ini, Lawang Sewu memang sangat layak digolongkan sebagai jenis  objek wisata misteri.

Lebih-lebih, latar Lawang Sewu sudah pernah diangkat ke layar lebar tahun 2007 dalam judul "Lawang Sewu, Dendam Kuntilanak" yang disutradarai oleh Arie Azis dan diproduksi oleh Dheeraj Kalwani. Bagi Anda yang pernah menyaksikan tentu tidak asing.

Film ini mengisahkan tujuh remaja SMA dari  Jakarta yang sedang berada di Semarang untuk merayakan kelulusan mereka. Mulanya mereka mampir ke Lawang Sewu karena ingin buang air kecil.

Mereka pergi tidak berbarengan. Salah satu gadis masuk ke dalam gedung dan anehnya tidak kembali lagi. Teman-temannya menyusul untuk mencarinya. Selama pencarian itu, menjadi malam paling mengerikan karena mereka diteror penampakan kuntilanak.

Tema tentang kuntilanak di Lawang Sewu hanyalah salah satunya saja. Masih ada lima tema lainnya yang tersimpan di balik kemegahan Lawang Sewu dan belum digarap menjadi kisah film yang utuh. Berikut kelima tema lain tersebut.

Pertama, misteri jeritan dan penampakan Noni Belanda. Tema ini berkaitan dengan seringnya penampakan perempuan Belanda yang menjerit-jerit. Konon, setelah suara jeritan, selalu disusul suara derap sepatu laras tentara Belanda atau Jepang.

Ada yang berpendapat itu adalah hantu Noni Belanda yang dahulu ketakutan saat melihat tentara Jepang membantai bangsa Belanda di Semarang. Menurut cerita warga, dahulu banyak tentara Belanda yang disembelih tentara Jepang di Semarang.

Kedua, misteri penampakan pocong di ruang utama gedung. Hantu pocong dipercaya adalah jenis hantu yang muncul sejak era peradaban Islam. Pasalnya, saat meninggal, umat muslim dikubur dengan kain kafan. Konon, arwah orang yang meninggal ada yang berubah menjadi pocong.

Nah, di ruang utama Lawang Sewu ada warga Semarang yang pernah mengaku melihat pocong menampakkan diri. Sosok itu hanya sekadar iseng tetapi sebenarnya tidak mengganggu orang yang masih hidup dan datang ke Lawang Sewu.

Ketiga, makhluk tak kasat mata di ruang penyiksaan. Konon, di salah satu ruangan Lawang Sewu pernah digunakan sebagai ruang penyiksaan oleh tentara Jepang. Di tempat itu pernah ada tentara Belanda yang dipasung dan dirantai.

Alat untuk memasung dan merantai para tahanan masih ada di sana dengan kondisi berkarat. Lebih seramnya lagi, jika memasuki ruangan ini maka suasana penyiksaan yang secara misterius akan terasa.

Ada yang mengaku tiba-tiba sekujur tubuh menjadi merinding dan seakan ada sosok yang terus memperhatikan dari kejauhan yang wujudnya tak kasat mata.

Keempat adalah keangkeran di lorong bawah tanah. Gedung ini memiliki ruang bawah tanah yang dahulu digunakan sebagai penjara serta bunker. Tak jauh dari itu, ada satu lorong yang dipercaya sangat angker karena dihuni banyak hantu.

Konon, jika seseorang berjongkok dan diam di lorong itu maka dia akan mendapatkan kejutan yang menarik, misalnya muncul sosok bayangan berbentuk seperti manusia yang tergantung di atas dengan mata hijau menyala.

Bayangan itu akan berjalan merangkak dari atas berusaha mendekati siapa saja yang berhasil melihat sosoknya, persis seperti bayi tetapi merangkak di atas langit.

Terakhir adalah pintu keramat yang dikunci dan tak boleh sembarang masuk. Di Lawang Sewu ada beberapa pintu khusus yang dikunci dan tidak boleh dibuka dengan paksa.

Konon, ruangan itu merupakan tempat penghuni utama yang berkuasa di Lawang Sewu. Ada yang mengatakan, hantu tentara Belanda yang berpangkat kolonel, ada pula yang mengatakan menir-menir Belanda yang bengis.

Editor : Taat Ujianto