• News

  • Sisi Lain

Di Lokasi Sarang Kuntilanak, Akhirnya Dibangun Panggung untuk Rayakan 17 Agustus

Lokasi angker kini telah dibangun panggung untuk warga RT 04, Bojonggede, Bogor
Netralnews/Taat Ujianto
Lokasi angker kini telah dibangun panggung untuk warga RT 04, Bojonggede, Bogor

BOGOR, NETRALNEWS.COM – Banyaknya rumor bahwa di bawah jaringan listrik tegangan tinggi (sutet) angker akan berakhir. Pasalnya, lokasi yang menjadi pergunjingan warga karena sering ada penampakan kuntilanak telah dibangun panggung untuk acara warga setempat.

Rencana terdekat adalah untuk acara pentas seni dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, tanggal 17 Agustus 2019 mendatang.

Hal ini sesuai keputusan warga di daerah yang menjadi lokasi angker tersebut, yang tepatnya berada di salah satu perumahan di Desa Waringin Jaya, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor.

“Iya, sesuai rapat warga lokasi itu dibangun panggung untuk perayaan 17  Agustus bulan depan. Selain sudah terlalu lama tak terawat, juga sering disebut-sebut angker. Kata warga sering ada penampakan di pohon pisang di lokasi itu,” tutur Jaja (49), ketua RT 04 setempat, Minggu (21/7/2019).

Jaja juga menegaskan bahwa panggung juga bisa digunakan di masa mendatang untuk keperluan hajatan warga, misalnya ada anak yang mau khitan atau acara pesta pernikahan. Dengan demikian, lahan yang sebelumnya tak terurus bisa menjadi multi guna.

“Daripada hanya menjadi sarangnya hantu, sarangnya ular, sarangnya kuntilanak, lebih baik jadi fasilitas umum yang berguna bagi warga,”  terang Jaja.

Sesuai penuturannya, sebelumnya di lokasi itu diyakini sangat angker. Hal ini disebabkan oleh asal-usul perumahan yang dahulu memang terkenal dihuni oleh makhluk halus penunggu Kali Pesanggrahan.

Perumahan itu memang berada tak jauh dari Kali Pesanggarahan. Konon, sebelum diuruk berupa rawa-rawa. Oleh warga kampung, rawa-rawa itu diyakini dihuni oleh siluman buaya buntung dan berbagai jenis makhluk halus.

Warga perkampungan yang tahu asal-usul perumahan tersebut akan segera mengisahkan bahwa dahulu sebelum tahun 1970-an, lokasi itu adalah tempat yang angker berupa rawa yang berlumpur sangat dalam. Namanya daerah balong.

Konon di rawa itu dahulu sering dijadikan sebagai tempat membuang mayat korban pembunuhan. Di rawa itu, konon juga dihuni siluman buaya.

Ada pula yang menyebutnya dihuni oleh hantu perempuan tua yang sering mengganggu petani saat mengolah lahan sawah di sekitar rawa. Dan masih banyak cerita mistis lainnya.

“Dahulu masih diliputi rawa dan kanan kirinya hutan karet. Memasuki tahun 1990, wilayah sekitar sini mulai ramai.  Banyak pendatang dan banyak pembangunan perumahan, tetapi tetap saja angker,” tambah Jaja menirukan keterangan warga setempat.

Mengenai penampakan hantu setelah daerah itu menjadi perumahan, menurut keterangan Jaja, ada beberapa warganya pernah melihat penampakan sosok perempuan misterius di sekitar lokasi tersebut.

“Belum lama ini, saat dini hari sekitar pukul 02.00, ada warga saya melihat penampakan perempuan berbau putih dan berambut panjang sedang duduk di dalam mobil yang diparkir tak jauh dari lokasi. Saat didekati menghilang sementara mobil dalam kondisi terkunci,” sambungnya.

Selain penampakan tersebut, juga ada kesaksian beberapa anak yang pernah melihat langsung penampakan sosok hantu  yang mereka sebut sebagai kuntilanak.

Sesuai penuturan Jaja, malam itu ada tujuh anak melihat penampakan sosok perempuan berbaju putih, melayang, dan tertawa cekikikan melintasi pohon pisang di lokasi yang saat ini telah dibangun panggung. Kala itu masih banyak tanaman liar.

Terhadap kejadian itu, pada hari Kamis malam  (11/7/2019), Netralnews berhasil mengorek keterangan beberapa anak dari 7 anak yang dahulu menyaksikan penampakan tersebut. Anak itu kini sudah duduk di kelas 1 SMA. Namanya Nia (17).

“Ya kala itu jelas sekali. Kami bertujuh melihatnya penampakan sosok perempuan berbaju putih, berambut panjang, melayang di atas pohon pisang di bawah sutet sambil tertawa cekikikan. Melayang, ya seperti terbang kemudian menghilang,” tutur Nia.

Seingat Nia, peristiwa terjadi sekitar pukul 23.30, saat anak-anak tengah ngobrol di lapangan voli  yang berada tak jauh dari lokasi penampakan. Anak-anak itu baru saja selesai bermain bentengan (permainan tradisional).

“Saat anak-anak berlarian, sosok itu masih melayang. Tapi begitu bapak-bapak berdatangan karena kami berteriak-teriak, sosok itu kemudian menghilang,” tambah Nia.

Masih di lokasi yang sama. Narasumber lain, bernama Sasa (15) juga mengaku pernah melihat penampakan empat anak perempuan berbaju putih sedang bergerombol, seolah sedang bermain dakon (permainan tradisional).

“Saya melihatnya dari jarak sekitar 20 meter. Wajahnya kelihatan pucat tapi saya merasa nggak kenal mereka. Mereka bukan berasal dari warga RT 04  (wilayah tempat tinggal Sasa, red),” kenang Sasa terhadap penampakan di satu malam sekitar awal tahun 2018.

“Begitu saya dekati, mereka semua berubah menjadi seperti kabut dan lenyap. Karena takut, ya saya langsung lari meninggalkan lokasi itu,” kata Sasa.

Dengan dibangunnya panggung bagi warga di lokasi angker tersebut, Sasa mengaku ikut senang. Selain karena ia sering ikut pentas nari setiap kali diadakan perayaan HUT RI, lokasi itu kini menjadi lebih terang dan tidak menakutkan.

“Senanglah, sekarang jadi panggung. Dulu, selain angker juga sering menjadi lokasi sarangnya ular,” pungkas Sasa.

Editor : Taat Ujianto