• News

  • Sisi Lain

Kisah Yingying, Keluarga Tak Kasat Mata tapi Kadang Menampakkan Diri di Toko Bangunannya

Bekas toko bangunan keluarga Yingying masih belum laku terjual
Netralnews/Taat Ujianto
Bekas toko bangunan keluarga Yingying masih belum laku terjual

BOGOR, NNC - Berita menyedihkan tentang kecelakaan tragis yang merenggut seluruh anggota keluarga yang terdiri dari bapak, ibu, dan semua anak-anaknya, sudah berulangkali terjadi.

Konon ada mitos kuno bahwa bila bepergian, sebaiknya jangan seluruh anggota keluarga ikut sebab bila terjadi sesuatu, maka bisa membuat seluruh keluarga tidak memiliki keturunan. Ada baiknya mitos itu, tetapi bagaimana bila acara memang ditujukan untuk rekreasi seluruh anggota keluarga?

Malang memang kadang tidak memilih-milih dan tak bisa diduga. Walaupun pesan mitos itu bertujuan baik, namun rekreasi yang melibatkan seluruh anggota keluarga juga baik tujuannya. Yang pasti, manusia hanya perlu waspada dan banyak berdoa. Selebihnya serahkan kepada kehendak Yang Kuasa.

Kisah mengenai kejadian tragis yang menelan korban seluruh keluarga, pernah dikisahkan oleh Netralnews.com setahun silam. Kisah ini berlatar belakang akibat kecelakaan maut satu pesawat terbang sehingga menyebabkan seluruh anggota keluarga Yingying meninggal dunia.

Keluarga Yingying dulu tinggal di Kawasan Pecinan, Jalan Suryakencana, Kota Bogor, Jawa Barat. Ia beserta suami dan ketiga anaknya dinyatakan hilang dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang pada 2007 silam (sesuai permintaan narasumber, nama pesawat tidak boleh disebutkan).

“Maaf, saya tidak mau menyebutkan. Anggaplah itu sebagai bentuk hormat saya kepada keluarga korban atas tragedi itu. Yang mau saya katakan bahwa keluarga Yingying adalah korban kecelakaan pesawat, itu saja,” tegas Tjan (48) pada Netralnews.com.

Seperti dituturkan Tjan, Yingying adalah seorang ibu beranak tiga. Seluruh anggota keluarganya menganut Konghucu dan dikenal sebagai keluarga yang taat dalam menjalankan tradisi Tionghoa. Setiap ada hari besar etnis Tionghoa, mereka rajin bersembahyang di kuil.

Sejak awal merantau di tanah Jawa, para leluhur mereka hidup sebagai pedagang. Generasi orang tua Yingying menggeluti usaha di bidang jual-beli material atau bahan bangunan di wilayah Jawa Barat.

Yingying yang merupakan cici atau kakak dari Tjan, sudah memiliki toko bangunan cukup maju di Karawang, Jawa Barat. Sebelum tragedi kecelakaan pesawat yang mengenaskan itu, Yingying baru membuka cabang baru di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Benar, Yingying membuka cabang baru. Sudah sempat berjalan beberapa bulan. Tokonya cukup ramai, karena di daerah itu banyak berdiri perumahan baru. Kebutuhan bahan bangunan sangat tinggi,” papar Tjan.

Setelah kecelakaan, toko itu akhirnya tutup. Karena tidak ada pesan atau surat wasiat apapun, saudara-saudara Yingying tidak berani mengambilalih toko itu. Akibatnya, berbulan-bulan dan tahunan terbengkalai, tidak ada yang mengurus.

“Namanya barang berharga dan banyak dibutuhkan orang tetapi tidak ada yang menjaga, lama-lama seluruh isi toko bangunan itu habis diambil orang tidak bertanggung jawab,” kata Tjan menjelaskan isi toko bangunan Yingying yang kemudian ludes dicuri orang.

“Tak ada pesan apapun yang ditinggalkan Yingying. Ia bersama suami dan seluruh anaknya pergi. Katanya ingin berlibur. Namun, ternyata semua bernasib malang. Semoga Yang Maha Kuasa memberikan kedamaian di surga,” ucap Tjan dengan mata berkaca-kaca.

Setelah isi toko milik Yingying ludes, Tjan ternyata mendengar banyak cerita miring tentang toko milik Yingying. Ia sangat kecewa dengan orang yang meniupkan isu itu. Rasanya, cerita itu makin membuat keluarga Yingying yang sudah jatuh, tertimpa tangga.

“Sudah harta dijarah, diisukan bahwa toko bangunan yang kosong dan ditinggalkannya itu berubah menjadi angker. Banyak orang mengatakan melihat penampakan perempuan Tionghoa yang mengganggu orang yang melintas di depannya. Macam-macamlah isu itu,” kata Tjan mengungkapkan kekesalannya.

Konon, ada yang melihat sosok hantu seperti dalam film vampir Mandarin. Orang itu mengaku melihat sepasang vampir mandarin dikawal tiga anaknya sering berkeliling di komplek toko bangunan tersebut, seolah sedang menjaga dari tangan-tangan jahil.

“Pernah suatu kali saya menyamar dan menanyakan cerita itu kepada warga sekitar toko bangunan itu, ternyata cerita-cerita miring itu dipercaya seolah benar-benar terjadi. Saya tidak bisa berbuat apa-apa, tapi hati saya rasanya pedih,” kata Tjan.

Memang, rasanya keluarga Yingying yang sudah bernasib sial, benar-benar bertambah sial. Betapa tidak? Ada warga yang mengisahkan bahwa penampakan sosok misterius itu ada kaitannya dengan arwah keluarga Yingying yang kini menghuni komplek toko bangunan yang mereka miliki tersebut.

Saat malam hari, toko yang telah kosong dan ditumbuhi semak belukar dikabarkan berubah terang benderang seolah seperti toko bangunan yang baru buka. Ada warga yang mengaku mampir dan akan membeli sesuatu tapi kemudian lari terbirit-birit karena tiba-tiba melihat penjualnya adalah sosok-sosok berupa kerangka manusia berjalan.

Setelah orang itu kembali lagi bersama warga lain karena penasaran, toko kembali berubah gelap seperti aslinya. Cerita orang itu pun kemudian tersebar dari mulut ke mulut. Akibatnya, seolah muncul kesepakatan bersama bahwa rumah bekas toko bangunan itu sangat angker.

Beberapa waktu lalu, Tjan dan anggota keluarga besar Yingying lainnya berembug. Mereka sepakat akan menjual lahan bekas toko bangunan milik Yingying. Hasil penjualannya rencananya akan digunakan sebagai dana pembangunan kuil untuk mengenang keluarga Yingying. Namun, rencana itu ternyata tidak mudah diwujudkan.

“Cerita miring dan mistis sangat merugikan kami sebagai keluarga Yingying. Kerugian macam apa? Tanah bekas toko itu jatuh harganya. Selain itu, banyak orang tidak jadi membeli dan tidak lagi tertarik mengambilnya untuk lokasi usaha baru. Mereka selalu takut setelah mendengar cerita warga,” ujarnya dengan nada kesal.

Orang mungkin tidak menduga bahwa kisah mistis yang beredar dari mulut ke mulut ikut berdampak buruk terhadap persoalan lain. Hal ini adalah salah satu bukti, cerita mistis tentang bekas toko bangunan Yingying ternyata berdampak buruk bagi nilai jual tanah di lokasi tersebut.

Akhirnya, Tjan menyodorkan lokasi keberadaan bekas toko bangunan milik Yingying. “Mohon tidak disebutkan alamat dan lokasi toko itu. Mohon agar tidak semakin merugikan keluarga kami,” demikian pesan Tjan kepada penulis.

Sesuai pesan yang ia minta, penulis meluncur ke lokasi yang ia sebutkan. Memang benar, toko sudah berubah menjadi tempat yang menakutkan. Tak ada lagi bahan bangunan tersisa.

Namun, jejak toko bangunan masih terlihat. Lokasinya yang berada di pinggir jalan raya dan dikelilingi lahan pertanian semakin memberikan kesan tersendiri. Lahan di sekitarnya, sebenarnya sudah dibeli oleh pengembang dan rencananya akan dijadikan sebagai perumahan.

Kisah keluarga Yingying pernah diangkat oleh Netralnews.com dengan judul "Setelah Meninggal, Yingying Bergentayangan di Toko Bangunannya?"

Kebetulan, tim Netralnews.com kembali melintasi lokasi bekas toko bangunan Yingying, maka disempatkanlah mengorek kembali keterangan warga sekitar tentang kondisi terkini bangunan tersebut.

Lagi-lagi, seorang narasumber yang merupakan penggarap lahan pertanian tak jauh dari bangunan itu masih tetap mengatakan hal yang sama dengan cerita dahulu. Rumah itu angker. Sementara hingga kini, bangunan belum roboh dan belum laku dijual.

"Bangunan itu angker, Mas. Beberapa malam yang lalu saja, saya masih mendengar suara-suara ramai seperti dihuni oleh keluarga. Ada suara televisi, orang bercengkerama, ada suara anak bercanda, dan sebagainya. Padahal bangunan itu sangat gelap, kejadian sekitar pukul 18.30," tutur lelaki paruh baya yang mengaku bernama Asep (56), Kamis (25/7/2019).

"Saat saya mendekat, suara hilang. Saya pun pulang, takut ada apa-apa. Saya yakin, itulah suara-suara keluarga tak kasat mata, keluarga pemilik rumah itu yang telah meninggal. Lagipula, di sekitar bangunan itu tak ada rumah lain. Kalau bukan suara makhluk halus, lalu suara apa itu?" pungkas Asep.

Editor : Taat Ujianto