• News

  • Sisi Lain

Ngeri, Kisah Alya Dikejar Penampakan Setan Cumplung Gigi Runcing Jelang Malam Idul Adha

Lokasi angker di Purworejo seperti dikisahkan Alya (kiri) dan ilustrasi hantu kepala glundung (kanan)
Netralnews/Taat Ujianto
Lokasi angker di Purworejo seperti dikisahkan Alya (kiri) dan ilustrasi hantu kepala glundung (kanan)

PURWOREJO, NETRALNEWS.COM – Orang Jawa Tengah pasti tidak heran dengan istilah "cumplung" atau kelapa yang berlubang dan isi atau daging kelapanya sudah habis karena dimakan tikus atau tupai.

Sementara istilah "setan cumplung" menunjuk pada penampakan makhluk halus yang menyerupai kelapa berlubang tetapi mendadak berubah secara tiba-tiba menjadi kepala manusia tanpa badan dan sering menakuti manusia.

Setan cumplung meringis sering disebut juga "kepala glundung pringis", "endas glundung", atau "hantu kepala". Makhluk halus ini bagi sebagian orang dianggap sebagai bagian dari jenis setan. Ada juga yang mengelompokkannya sebagai jin.

Di era tahun 1980-an, setang cumplung sangat populer digunakan oleh kaum ibu-ibu di Jawa untuk meperingatkan agar anak-anak tidak bermain sampai larut malam. Anak wajib pulang begitu mendengar Azan Magrib.

Anak-anak biasanya segera mengikuti perintah ibunya karena memang benar-benar takut dengan keberadaan setan yang disebutkan bisa meringis dan memamerkan taring-taringnya. Setan gundul pringis bisa mengejar untuk memangsa anak-anak.

Berbeda dengan anak zaman sekarang. Belum tentu mereka akan mengikuti perintah agar segera pulang saat Mahgrib dengan ditakut-takuti dengan sosok setan cumplung. Anak sekarang justru sangat menikmati tontonan hantu-hantu di Youtube. 

Sementara anak-anak generasi tahun 1970 sampai 1980-an belum kenal dengan gawai dan internet. Alam sekitarnya pun sangat berbeda dengan sekarang. Dahulu banyak lokasi belum memperoleh penerangan listrik layaknya sekarang. Kesan seram pun berbeda antara sekarang dengan masa itu.

"Saya malah masih merinding bila mengingat kejadian nyata yang saya alami soal setan cumplung," kata Alya (40) kepada Netralnews.com, Minggu (28/7/2019). Ia adalah salah satu generasi yang mengenyam masa kanak-kanak di era tahun 1980-an. Kini, Alya sudah menjadi seorang ibu beranak dua.

Alya lahir di daerah Kecamatan Banyuurip, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Ia mengaku memiliki kenangan unik tentang penampakan setan cumplung meringis saat ia masih duduk di kelas 1 SMP.

"Kejadiannya, satu malam  sebelum perayaan Idhul Adha. Saya pulang mengaji, naik sepeda onthel yang jadul dan besar itu. Saya tertinggal di belakang. Maklum, badan saya kecil bila dibanding analk pada umumnya, jadinya mengayuh berdiri, tidak duduk di sadel sepeda," kenang Alya.

Sesuai penuturan Alya, ia pulang dari mengaji dan bermain-main bersama teman-temannya sekitar pukul 21.00 WIB. Saat melintasi daerah perbatasan desa tetangga, ia dikejutkan dengan suara aneh seperti kelapa jatuh dari pohon.

"Mendadak di tengah jalan seperti ada kelapa jatuh tapi tidak ada pohon kelapa di tengah sawah itu. Yang ada adalah pohon randu (pohon kapuk, red). Jadi nggak mungkin ada kelapa jatuh dari pohon randu," jelas Alya.

Alya melihat sebutir kelapa besar menghadang di tengah jalan. Ia beranikan diri tetap mengayuh sepedanya untuk mendahului buah kelapa berwarna hitam yang masih bergerak-gerak di tengah jalan.

"Sepeda tetap saya kayuh. Badan mulai merinding. Sementara teman-teman ada di depan. Gelap di sekitar lokasi itu dan saya hanya mengandalkan lampu dinamo dari sepeda saya," sambung Alya.

Kekhawatirannya ternyata benar-benar terjadi. Kelapa yang bergerak di tengah jalan itu tiba-tiba berubah menjadi kepala manusia berwarna hitam dan meringis menyeringai. Giginya terlihat runcing seperti bertaring dan memantulkan cahaya. Alya langsung ketakutan.

"Badan saya merinding gemetaran. Untung masih mampu saya kendalikan sehingga  tidak sampai pingsan. Saya kayuh sepeda sekencang-kencangnya sambil berteriak-teriak memangil teman-teman saya. Saya masih sempat menengok ke belakang, setan cumplung masih mengejar saya," kata Alya dengan muka serius.

Ia berhasil menyusul teman-temannya yang segera berhenti karena mendengar teriakan Alya. Salah satu teman cowok bahkan berani menyusul dan memastikan apa yang dilihat oleh Alya.

"Ada teman saya yang pemberani dan jago ngaji. Begitu saya beritahu saya dikejar setan cumplung, ia ajak saya menunjukkan setan cumplung yang saya lihat. Kami pun berbalik arah, anehnya, tak ada apapun di lokasi yang sebelumnya jelas saya lihat ada kelapa berubah menjadi kepala manusia mengerikan," papar Alya.

Alya berusaha meyakinkan teman-temannya bahwa ia bukan sedang bercanda dan bukan pula sedang mengalami halusinasi. Teman-temannya pun akhirnya percaya karena mereka tahu bahwa di lokasi itu memang angker.

"Memang, di lokasi penampakan yang ditandai dengan pohon randu, menurut cerita orang-orang tua kami, sangat angker. Di situ dahulu menjadi lokasi hukuman mati sejumlah pejuang kemerdekaan Indonesia yang dituduh melakukan perampokan di tengah kekacauan. Oleh tentara Indonesia, oarang-orang itu dihukum tembak si kepalanya," tutur Alya.

Sejak kejadian mistis yang dialaminya, Alya mengaku banyak belajar dan memperdalam bagaimana cara melawan gangguan-gangguan setan atau jin dari seorang Kiai yang tinggal di tempatnya belajar mengaji.

"Saya akhirnya diajarkan untuk mengucapkan Ayat-Ayat Suci Alquran yang bisa digunakan untuk membentengi diri dan mengusir gangguan setan dan jin. Sejak itu, saya tidak pernah melihat lagi penampakan-penampakan makhluk halus," kata Alya.

Editor : Taat Ujianto