• News

  • Sisi Lain

Dengar Bunyi Terompet Sangkakala, Rohanna Siap Jemput Hari Kiamat

Persawahan di Magetan tampak mengalami kekeringan akibat kemarau 2019
foto: senayanpost.com
Persawahan di Magetan tampak mengalami kekeringan akibat kemarau 2019

MAGETAN, NETRALNEWS.COM – Suara melengking memekakkan telinga itu berasal dari angkasa lepas. Rohanna mendongakkan kepalanya ke atas. Awan-awan putih berlarian ke arah Barat. Dari arah Timur, muncul semburat merah darah dan menyala. Langit di Magetan, Jawa Timur berubah mengerikan. 

Rohanna (61), Seorang Ibu beranak tiga bersimpuh di tanah depan rumahnya. Ia melihat orang-orang keluar dari kediamannya masing-masing laksana semut keluar dari sarangnya. Wajah-wajah panik terlihat jelas dari raut muka mereka.

Kembali suara terompet bergema membelah langit Kota Magetan. Masyarakat Kecamatan Poncol, tempat tinggal Rohanna dilanda kepanikan. Banyak orang meneriakkan takbir dan mohon ampun. Mereka semua meyakini hari akhir, kiamat telah tiba.

Rohanna duduk mengeriut. Dipusatkannya seluruh konsentrasi untuk berdoa. Mendadak semuanya menjadi gelap gulita.

Kenyang dengan pahitnya hidup

Rohanna mengaku sudah kenyang dengan apa yang disebut pahitnya hidup. Namun, ia ikhlaskan atas semua bencana yang melanda dan membuat hatinya dipenuhi bilur-bilur luka. Suaminya telah meninggalkannya sejak tiga puluh tahun silam karena kepincut perempuan lain yang lebih menggoda.

Rohanna kemudian memilih habiskan masa mudanya untuk mengentaskan tiga anaknya hingga tamat SMK. Bertahun-tahun ia bekerja serabutan mulai dari jualan sayuran hingga menjadi buruh di sawah. Ia biasa dipekerjakan oleh para petani di masa tanam, di masa menyiangi padi, hingga masa panen.

Kulitnya hitam berkeriput lebih cepat dibanding perempuan-perempuan lain yang bisa leluasa menggunakan gincu tebal. Kosmetika sehari-hari yang menghiasi wajah Rohanna hanyalah lumpur sawah. Walau begitu, Rohanna selalu berusaha tawakal dan mensyukuri kenyataan hidup yang harus ditelannya.

Ia menolak poligami tetapi apa arti dirinya yang hanyalah wanita lulusan SD. Ia sadar diri tak bisa merangkai kata dalam tulisan maupun pidato layaknya aktivis perempuan yang mampu berteriak-teriak membela persamaan gender dan hak-hak kaum perempuan.

Rohanna lebih banyak menelan ludah kekalahan. Di sudut hatinya, kadang ada suara yang menertawainya, mengapa tak mau dimadu? Kalau mau dimadu dan mau menerima suami nikah lagi, kan statusnya tidak menjanda dan tetap memiliki lelaki.

Cepat-cepat Rohanna menyahut. Apa pula enaknya dimadu bila suaminya yang berprofesi menjadi supir truk selalu memiliki kebiasaan buruk. Pulang mabuk dan sering bertindak kasar. Ia mendengar kabar dari para tetangga bahwa suaminya mata keranjang, suka main dengan wanita gatal di sejumlah kota.

Rohanna justru merasa jauh lebih tenang semenjak ditinggal suaminya yang kawin lagi dengan wanita dari kota Jombang. Sejak saat itu suaminya tak pernah terlihat batang hidungnya. Akhirnya, Rohanna pun memilih menjanda dan hanya mengurus ketiga anaknya hingga kini.

Sekarang, Rohanna merasakan sudah hidup di usia senja. Ketiga anaknya sudah menikah dan menikmati dunia mereka masing-masing. Ia masih tetap bekerja serabutan. Tenaganya masih laku untuk sekadar membersihkan rumput huma di sela-sela tanaman padi.

Uang dari kerja kerasnya telah ia kumpulkan. Uang itu telah ia belikan seekor kambing jantan besar. Di Hari Raya Idul Adha 1440 Hijriah nanti, Rohanna kesampaian untuk serahkan hewan kurban ke salah satu masjid di Kecamatan Poncol, Magetan.

Keinginan bisa pergi ke Mekkah pernah suatu kali melintas di benaknya. Namun, niat itu ia urungkan. Jumlah tabungan di hari tuanya tak mencukupi untuk ikut ibadah naik haji. Uang yang terkumpul hanya cukup untuk beli hewan kurban.

"Bila masih diberi umur panjang, saya akan menabung kembali. Siapa tahu niat umroh bisa kesampaian," tutur Rohanna kepada Netralnews.com saat ia mengunjungi salah satu anaknya yang tinggal di Bogor, Jawa Barat, Selasa (30/7/2019).

Mumpung sedang berlangsung musim kemarau, Rohanna sempatkan berkunjung ke rumah salah satu anaknya yang merantau di Bogor. Selama musim kemarau, Rohanna jarang mendapat panggilan bekerja harian dari para petani penggarap sawah di Magetan.

Dibayangi hari kiamat

"Terlalu sering sampai lupa berapa kali. Saya melihat penampakan hari-hari menjelang kiamat. Tak tahu juga mengapa bisa begitu. Saya bukan peramal loh, Mas. Dan saya juga nggak meramal. Namun namanya hidup, lahir dan mati ya hanyalah soal waktu saja. Sama halnya dengan kiamat," tuturnya.

Rohanna berpendapat bahwa hidup tak pernah ditawarkan dan tak pernah ia minta. Itu adalah berkah dan kodrat pemberian Yang Maha Kuasa. Manusia wajib mensyukuri dan menjalaninya dengan penuh tanggung jawab. Bahwa hidupnya pahit, Rohanna justru sering tertawa dalam hati bila mengenangnya.

"Kadang mimpi mendengar bunyi terompet sangkakala. Kekacauan terjadi. Orang-orang panik dan menangis. Seolah menyesal dengan hari-hari lalu yang melupakan bahwa kesenangan dan kenikmatan hidup hanya sekejab. Lalu terjadi goncangan dahsyiat dan gelap. Selalu hanya sampai situ saja yang saya lihat," terang Rohanna.

Ia mengaku tak tahu apa arti semua mimpi-mimpi itu. Ia juga tak tahu sebabnya. Ia memang suka dengan Ayat-Ayat Suci Alquran yang mengisahkan akhir zaman. Cerita itu membuatnya tenang dan tidak diresahkan oleh perkara-perkara hidup yang seolah begitu rumit dan menyiksa padahal tak seberapa.

"Cerita hari penghakiman, membuat saya tidak neko-neko istilah Jawanya. Nrimo ing pandum, mensyukuri bagian peran atau lokon hidup yang meski saya jalani. Ya beginilah saya, tiga puluh tahun menjanda dan kini sudah bau tanah," sambungnya.

Bukan karena sombong atau merasa suci, tapi Rohanna mengaku sudah siap kapanpun harus menghadap Yang Kuasa. Meski demikian, bila mengingat hal itu, rasa takut tetap tiba-tiba menyergapnya.

"Siap tidak siap, harus saya siapkan. Mau minta apa lagi untuk saya yang sudah renta ini? Kalau boleh ya dipundhut (dipanggil) Gusti dengan tenang. Tidak usah alami sakit menahun dan menyusahkan anak cucu," kata Rohanna.

Demikian halnya bila kiamat terjadi di waktu dekat ini, Rohanna pun mengaku tak terlalu merisaukannya.

"Sudah bertahun-tahun saya membayangkan bahwa kiamat akan terjadi besuk. Hal itu bukan membuat saya takut tetapi justru selalu mengingatkan saya agar lakukan yang terbaik. Bila besuk kiamat, saya harus siap dan tak malu menghadap Gusti," terang Rohanna.

Sayang sekali, di penghujung obrolan Rohanna dan Netralnews, ia tak berkenan untuk sekadar diambil gambarnya.

"Tak usah lah Mas. Anggap cerita ini dari nenekmu saja. Malu saya bila muka saya yang peyot ini terpampang di berita. Titip sampaikan saja kepada segenap umat muslim, Selamat Merayakan Hari Raya Idul Adha," pungkas Rohanna.

Editor : Taat Ujianto