• News

  • Sisi Lain

Kisah Pilu Arwah Maria van de Velde saat Saksikan Puisi Diukir di Peti Matinya

Ilustrasi makam Maria van de Velde di Pulau Onrust
foto: adikristanto.net
Ilustrasi makam Maria van de Velde di Pulau Onrust

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Suara gemuruh ombak menggempur pantai terdengar jelas di telinga Hasan (56). Udara sore yang melelahkan tidak membuat Hasan berhenti bekerja. Ia justru akan lebih menderita jika sengaja menghentikan kerjanya. Cambuk serdadu akan meremukkan punggungnya.

Di sekitar Hasan, iring-iringan keluarga Belanda lalu lalang. Beberapa di antara mereka menghantar peti mati yang telah berisi jasad orang Belanda yang telah mati. Tak jauh dari lokasi Hasan berdiri, terdapat pemakaman orang Belanda yang kini ramai seiring merebaknya wabah penyakit mematikan bernama kolera.

Sudah kodratnya, Hasan hidup di abad ke-18. Ia lahir sebagai anak budak sehingga mewarisi status orang tuanya. Ia pun harus menjalani hari demi hari sebagai seorang budak dengan tugas sebagai pemahat peti mati (sarkofagus) kepada tuan Belanda.

Dengan adanya wabah kolera, pekerjaan Hasan semakin banyak. Pesanan peti mati membludak. Hasan berkubang dalam onggokan peti dan jasad-jasad yang kondisinya mengenaskan sebelum dikuburkan di pulau sebelah Utara kota Batavia yang bernama Onrust.

Konon, nama pulau tersebut berasal dari kata "unrest" atau pulau tak pernah istirahat. Sesuai namanya, di pulau itu, setiap saat ramai dengan berbagai aktivitas pelayaran yang menopang kepentingan pihak kolonial Belanda.

Sejak jatuh ke tangan Gubernur Jendral VOC Jan Pieterzoon Coen, Pulau Onrust dijadikan sebagai salah satu benteng pertahanan tetapi juga sekaligus sebagai lokasi transit perdagangan, pengiriman budak, pengiriman jemaah haji, hingga menjadi lokasi penguburan.

Di Pulau itu terdapat satu klinik kesehatan. Di belakang klinik terdapat penyimpanan peti-peti mati terbuat dari batu atau biasa juga dinamakan sarkofagus.  Di tempat itulah Hasan habiskan hari-harinya.

Hari itu, Hasan sedang mendapat pesanan khusus. Seluruh perhatiannya dicurahkan untuk menyelesaikan ukiran peti mati pesanan keluarga Belanda kaya. Di penutup peti itu tertera nama "Maria van de Velde".

Pohon besar di lokasi makam Maria van de Velde

Sesekali terdengar suara gemerincing rantai beradu. Suara itu keluar setiap kali kaki Hasan bergerak. Sebagai seorang budak, setiap hari kaki Hasan diikat rantai, sementara kedua tangannya menari-nari dengan memegang palu dan pahat.

Tanpa menoleh sedikitpun, Hasan merasakan ada sesosok perempuan jelita berambut pirang berdiri mendekat. Sosok itu datang tiba-tiba dari tak ada, menjadi tiba-tiba ada di samping Hasan.   

Paras muka Noni Belanda yang jelita itu telah tergantikan dengan raut wajah yang amat sangat pucat. Wajah tanpa darah dengan air mata mengalir di sudut matanya yang telah membiru. Juga bagian bibirnya yang tak kalah membiru.

Mata Noni Belanda itu menatap peti batu yang sedang dipahat Hasan. Hasan tetap tidak menoleh ke arah sosok Noni. Ia tetap konsentrasi memahat walau ia sadar sedang didekati sosok arwah yang jasadnya akan menempati peti mati yang dibuatnya.

Hasan sudah hafal dengan kejadian seperti itu. Setiap kali jasad orang Belanda tidak ikhlas mati, ia akan mendatanginya pada saat ia membuat ukiran peti mati.

Kali ini, jasad yang akan menempati peti mati buatannya adalah jasad gadis berdarah Belanda berusia 28 tahun yang arwahnya sedang berada di samping Hasan.

Hari masih sore dan belum gelap. Sosok Noni Belanda menjulurkan tangannya dan memegang peti mati. Hasan melirik. Ia melihat di pergelangan tangan perempuan bule itu terdapat luka bekas sayatan benda tajam memotong pergelangan tangan kirinya.

Seluruh bulu halus di tengkuk Hasan kini berdiri. Ia yang biasanya cukup kuat, ternyata masih bisa merasakan merinding karena takut. Ia baru tahu bahwa sas-sus yang beredar ternyata benar adanya.

Kemarin di Pulau Onrust terjadi kehebohan. Seorang wanita Belanda kaya berteriak-teriak dan meraung karena anaknya semata wayang yang akan segera dinikahkan ditemukan telah meninggal akibat bunuh diri. Wanita yang histeris itu adalah ibu dari Maria van de Velde.

Sekarang, arwah Maria van de Velde sedang mengawasi Hasan. Sosok roh halus itu sedang memperhatikan puisi yang belum selesai dipahatkan oleh Hasan di peti batunya.

Sejenak hasan termenang dan menghentikan ayunan palunya. Entah dapat bisikan dari mana, Hasan secara sengaja membacakan puisi yang dipahatnya untuk calon jasad Maria van de Velde.

"Hidup hampa tiada guna. Lebih baik tiada dari pada merana. Kekasih telah pergi untuk selamanya. Untuk selamanya pula aku akan mencarinya," kata Hasan terbata-bata dalam bahasa Belanda.

Begitu puisi itu selesai dibaca Hasan, sosok arwah Maria van de Velde di sampingnya menghilang. Disusul aroma bunga kamboja menyeruduk hidung Hasan. Ia menarik nafas panjang. Batinnya terasa lega.

Sejak kejadian itu, terdengar kabar silih berganti dari seluruh penduduk Pulau Onrust. Masing-masing penduduk mengaku pernah menjumpai penampakan sosok Maria van de Velde yang ke sana ke mari berusaha mencari sang pujaan hati.

Masing-masing penduduk membisikkan kabar bahwa Maria van de Velde tidak mau dijodohkan dengan lelaki pilihan orang tuanya. Yang ia harapkan adalah lelaki pujaan hatinya yang telah dikirim menuju medan laga.

Maria van de Velde akhirnya mendengar kabar bahwa pujaan hatinya tewas dalam salah satu pertempuran.

Hatinya meledak ketika tahu bahwa kepergian kekasihnya ternyata karena disebabkan oleh rencana ayah dan ibunya yang tidak menghendaki Maria van de Velde menikah dengan lelaki Belanda rendahan. Maka, kekasihnya harus disingkirkan.

Tak disangka, Maria van de Velde memilih menyusul pergi dan mencari sang pujaan hati, sampai di manapun dan kapanpun. Ia menyayat pergelangan tangannya dengan pisau hingga menemui ajal.

"Cinta adalah bunga. Bila bunga digantikan duri, maka lukalah adanya," batin Hasan.


Catatan: Kisah ini diadopsi dari kisah Astryd Diana Savitri dalam Sarcophagus Onrust (2018).

Editor : Taat Ujianto