• News

  • Sisi Lain

Tentara Tewas sambil Memeluk Wanita Penghibur, Arwahnya Dikabarkan Gentayangan

Gedung Papak dan bunker di Pulau Doom
Netralnews/Istimewa
Gedung Papak dan bunker di Pulau Doom

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Perang selalu menyisakan tragedi. Perang juga selalu menyebabkan harkat martabat manusia rentan direndahkan. Penilaian tersebut memang terbukti bila kita mau menyelami sisi-sisi gelap di balik perang era pendudukan Jepang.

Di era pendudukan Jepang di Indonesia, dua lokasi yang menjadi markas pasukan kompetai menjadi bahan pergunjingan masyarakat luas. Di kedua lokasi tersebut, dahulu juga terdapat sejumlah wanita penghibur (Jugun Ianfu) yang mengalami tindak kekerasan seksual.

Kedua lokasi ini sebenarnya terpisah olah jarak yang sangat jauh tetapi dipersatukan oleh aroma kisah yang sama, yakni sama-sama menyisakan jejak tragedi memilukan.

Lokasi pertama berada di Grobogan, Jawa Tengah, dan lokasi kedua berada di Pulau Doom, Sorong, Papua Barat. Untuk itu mari kita simak kisah penuh tragedi dan misteri tersebut. 

Markas Kompetai di Grobogan
Gedung tua dan bersejarah yang dikabarkan angker berada di Desa Geyer, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Gedung ini memiliki luas sekitar 338,5 meter persegi.

Gedung ini, oleh masyarakat sekitar, biasa disebut juga sebagai Gedung Papak. Sebenarnya, bangunan ini merupakan salah satu cagar budaya Kabupaten Grobogan. Bangunannya terdiri dari dua lantai dan masing-masing memiliki dua ruangan yang luas.

Berdasarkan penelusuran Netralnews, ada seorang Jugun Ianfu yang masih selamat dari kejamnya perang dan bersedia memberikan kesaksian kepada seorang peneliti bernama Eka Hendra.

Hasil kajian tersebut pernah diterbitkan dalam Majalah More edisi April 2012 dengan judul “Nyah Kran Tawanan di Gedung Papak”. Dari tulisan tersebut, kisah tragis dan keangkeran di balik gedung ini dapat kita ketahui secara gamblang.

Gedung Papak adalah salah satu saksi bisu praktik kekejaman di era pendudukan Jepang. Dalam kajiannya, Hendra berhasil mewawancarai seorang penyintas atau korban praktik Jugun Ianfu yang masih hidup hingga kini. Ia biasa dipanggil Mbah Sri.

Saat Mbah Sri masih berumur sembilan tahun, ia biasa dipanggil “Nyah Kran”, karena postur tubuh dan wajahnya yang cantik dan kebelandaan. Namun, justru karena kecantikannya itu, malapetaka merenggut masa kecilnya.

Walaupun Nyah Kran adalah anak seorang Wedana Purwadadi bernama Soedirman, namun tak mampu menghalangi kesewenangan tentara Jepang. Menjelang kekalahan Jepang pada 1945, Wedana Soedirman tak kuasa menghalangi opsir Jepang merenggut anaknya yang masih belia itu.

Nyah Kran kemudian dibawa ke Gedung Papak. "Saya kenal gedung itu, karena satu-satunya gedung Belanda yang ditempati sebagai rumah tinggal Kepala Stasiun Gundih, orang Belanda yang memiliki seorang anak dengan perempuan Jawa asal Purwodadi," kenang Mbah Sri sambil berlinang air mata.

Opsir yang merampas Nyah Kran dari orang tuanya bernama Ogawa. Ia termasuk tentara berpangkat, karena memiliki banyak bawahan yang bermarkas di gedung itu. Nyah Kran berada dalam belenggunya.

Setelah dimandikan, dikeramasi, dan didandani seperti boneka, malam hari setelah berada di Gedung Papak, Nyah Kran atau Sri kecil dipaksa melayani nafsu bejat Ogawa hingga dini hari.

Perbuatan keji itu dilakukan beberapa hari hingga Nyah Kran mengalami pendarahan hebat dan pembengkakan pada alat vitalnya.

Di gedung itu, Nyah Kran juga menjadi saksi mata perempuan lain yang direnggut dan harus melayani banyak opsir Jepang. Nyah Kran masih beruntung, karena hanya melayani Ogawa yang senantiasa menguncinya dalam kamar. Hari-hari pedih dan suram itu harus ia jalani hingga Jepang menyerah.

Saat Jepang kalah, Nyah Kran dikembalikan Ogawa kepada orang tuanya. Ogawa kemudian lenyap dari kehidupannya seiring kedatangan Sekutu dan era kemerdekaan. Namun derita dan beban mental yang dialami Nyah Kran tidak bisa terusir dari hidupnya, hingga masa tuanya.

Di masa akhir pendudukan Jepang, di sekitar lokasi gedung ini dikabarkan pernah ada seorang kompetai ditembak pejuang prokemerdekaan. Pasukan Jepang tersebut tewas  bersama seorang wanita penghibur dalam posisi sedang berhubungan badan.

Tersiar kabar bahwa sesudah peristiwa itu, di sekitar Gedung Papak sering ada penampakan tentara Jepang dan seorang perempuan compang-camping. Juga sering terdengar jeritan orang minta tolong.

Di era kemerdekaan, Gedung Papak pernah dipakai menjadi rumah dinas administratur Perhutani Kota Purwodadi hingga 1974. Namun, sejak keluarga administratur itu mengalami musibah kecelakaan, gedung itu dibiarkan kosong dan hanya dirawat oleh keluarga Soekiran.

Sebagai penjaga gedung, kepada media, Soekiran pernah menanggapi pendapat warga yang mengatakan bahwa rumah itu angker.

Menurutnya, cerita keangkeran Gedung Papak adalah bentuk ekspresi perih warga mengenang semua tragedi yang terjadi di gedung itu. Semuanya serba miris dan menyedihkan.

Markas Kompetai di Pulau Doom
Kisah markas kompetai di Pulau Doom pernah dipaparkan oleh oleh Frits Veldkamp dengan judul “Eksperimen Demokrasi di Ujung Hari” (dibukukan oleh Pim Schoorl dengan judul "Belanda di Irian Jaya, Amtenar di Masa Penuh Gejolak 1945-1962").

Walaupun proklamasi kemerdekaan Indonesia berkumandang sejak 1945, namun hingga 1962 wilayah Papua masih di bawah kekuasaan Kerajaan Belanda. Selama itu, sejumlah orang Belanda dikirim ke Papua untuk merintis pemerintahan dengan melibatkan warga setempat.

Salah satu kepala pemerintahan atau Kontrolir Belanda itu adalah Frits Veldkamp. Ia sebenarnya termasuk tokoh penting yang turut berjasa dalam pembangunan pos pemerintahan Belanda pertama di Wamena, sekitar 1956.

Sepanjang Frits Veldkamp membabat hutan Papua hingga 1962, beragam pengalaman pernah ia alami. Ia menyaksikan kondisi Papua saat belum terjamah peradaban. Ia menyaksikan bagaimana budaya asli penduduk Papua. Ia juga pernah mengalami pengalaman misterius.

Mengenai pengalaman misterius yang ia alami, terjadi bersamaan dengan berita dari Jakarta. Papua Barat harus segera diserahkan kepada Republik Indonesia. Presiden Soekarno telah mengirimkan pasukan untuk mengusir Belanda di Papua. Ancaman tersebut lebih dikenal dengan nama Operasi Tri Komando Rakyat (Trikora).

Akibat ancaman itu, orang-orang Belanda di Papua mengalami ketegangan dan kepanikan. Sebagian warga Belanda memilih meninggalkan Sorong dan kembali menuju Eropa, karena khawatir akan terjadi perang besar. Sementara yang lainnya, bertahan sambil menunggu kepastian apa yang akan terjadi.

Dalam situasi tidak menentu itulah, beredar berita tentang keberadaan hantu “tuan tanah” yang membuat resah warga di sekitar Sorong. Sumber berita berasal dari warga Papua yang tinggal di Pulau Doom (sekarang masuk wilayah Kota Sorong, Papua Barat).

Di Pulau Doom, sekitar 1943, konon ada seorang tuan tanah dari Jawa yang ditangkap dan dipenggal kepalanya oleh tentara Jepang. Arwah orang itu kemudian berulang kali muncul dan mengganggu warga di Pulau Doom.

Orang Papua percaya bahwa bila roh itu menampakkan diri, maka akan terjadi malapetaka. Arwah itu dihubung-hubungkan pula sebagai simbol kekuatan Pemerintahan Indonesia yang akan segera tiba dan mengusir orang Belanda.

Di sisi lain, muncul berita adanya mata-mata musuh yang keluar-masuk ke daerah Sorong. Antara berita berbau mistik dan berita politik “bercampur-aduk tak jelas ujung pangkalnya”, tulis Frits Veldkamp (hal 536).

Frits Veldkamp juga mencatat bahwa konon roh tuan tanah itu sekonyong-konyong muncul di lokasi tertentu, kemudian muncul juga di lain tempat, dan mendadak lenyap tak bisa dilacak. Fenomena misterius itu tidak hanya disampaikan orang Papua tetapi juga oleh orang Eropa.

Orang-orang Eropa yang terbiasa berpikir rasional, ternyata juga melaporkan hal serupa. Mereka mengaku melihat orang yang tak dikenal dan mencurigakan. Orang misterius itu mengintai melalui jendela lalu sekonyong-konyong menghilang ke dalam hutan dan tidak bisa ditemukan.

Situasi tak menentu itu, oleh Frits Veldkamp, disebut dengan istilah massapsychose, yaitu situasi psikologis masyarakat di Papua di mana antara berpikir rasional dan irasional saling tumpang tindih.

Frits Veldkamp berusaha tetap berpikir logis. Ia berpandangan bahwa Pulau Doom adalah pulau yang relatif kecil. Semua orang tidak akan mudah bisa melarikan diri. Namun soal fenomena gaib menjadi desas-desus selama berminggu-minggu, ia pun bingung dan tidak dapat memberikan penjelasan lebih.

Ia menduga bahwa penampakan misterius itu, bisa jadi adalah mata-mata pendukung Republik Indonesia yang disusupkan ke Pulau Doom. Frits Veldkamp berusaha menolak mitos, namun tak mampu membendung dan menyangkal desas-desus yang telah merebak di Sorong.

Frits Veldkamp selanjutnya mencatat, “Puncaknya yang konyol adalah ketika salah seorang Eropa datang ke rumah saya, menyerahkan seorang lelaki yang ditangkap karena tingkah laku dan tampangnya yang mencurigakan.” (hal 537).

Sebelumnya, lelaki itu tak pernah terlihat di pulau itu. Kulitnya berwarna gelap, berjanggut hitam, dan cukup mengesankan. Ia ternyata mampu mengucapkan sepatah dua patah kata berbahasa Inggris.

Frits Veldkamp sebenarnya merasa gugup. Ia bingung harus bagaimana menghadapi orang itu. Ia ragu tetapi kemudian mempersilakan orang itu duduk dan menyodorkan segelas bir. Anehnya, orang itu justru menyambutnya dengan gembira.

Dengan bahasa isyarat dan beberapa patah kata dalam Bahasa Inggris, akhirnya terungkap bahwa orang misterius itu ternyata berasal dari India. Ia adalah seorang anak buah kapal yang tercerai-berai dengan kawan-kawannya saat berlabuh di Sorong.

Frits Veldkamp akhirnya membebaskan orang itu. Sesaat setelah dibebaskan, nampak mukanya bingung dengan apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia sadar bahwa dirinya baru saja ditahan, tapi mengapa kemudian dibebaskan setelah menenggak segelas bir?   

Sejak kejadian itu, Frits Veldkamp mengaku tak pernah berjumpa lagi dengan orang misterius itu. Namun, yang menjadi pertanyaan, apakah orang itu yang selama ini disebut sebagai arwah tuan tanah dan mengganggu warga Sorong? Frits Veldkamp tak mampu menyimpulkan.

Di balik pertanyaan Frits Veldkamp yang tak pernah terjawab, hingga kini di Pulau Doom, yang pasti masih ada sisa-sisa bangunan orang Belanda dan peninggalan sistem pertahanan militer Jepang.

Salah satu peninggalan Belanda yang kemudian menjadi objek wisata di pulau ini adalah sebuah Gereja Bethel. Di belakang Gereja Bethel terdapat gua.

Sekilas, gua itu hanya seperti gundukan tanah biasa yang berlubang. Di atasnya ditumbuhi pepohonan. Gua itu sebenarnya adalah lorong bawah tanah atau bunker pertahanan tentara Jepang pada masa Perang Dunia II, yang terhubung langsung ke pelabuhan di Pulau Doom.

Seperti halnya keberadaan objek wisata peninggalan masa kekejaman Jepang lainnya, di tempat ini lahir berbagai kisah mitos yang menjadi buah bibir warga Sorong.

Ada pula yang mengaku masih sering melihat penampakan tentara Jepang dan seorang perempuan berjalan beriringan dengan muka bersimbah darah. Konon kedua sosok itu adalah arwah seorang pasukan Jepang yang tertembak pasukan Sekutu saat tengah berhubungan badan dengan wanita penghibur di tempat itu.

Editor : Taat Ujianto