• News

  • Sisi Lain

Kisah Markas TNI-AU di Jawa Barat Diserbu Keluarga Dedemit

Pesawat Lock Heed L-12 merupakan salah satu koleksi pesawat kuno di museum Amerta Mandala, Lanud Suryadarma, Subang.
foto: kotasubang.com
Pesawat Lock Heed L-12 merupakan salah satu koleksi pesawat kuno di museum Amerta Mandala, Lanud Suryadarma, Subang.

SUBANG, NETRALNEWS.COM - Keluarga dedemit dalam mitologi Jawa adalah kumpulan jenis roh halus yang gemar menampakkan diri dan mengganggu kehidupan manusia. Kisah tentang keberadaannya selalu mengiringi perjalanan hidup manusia.

Dalam catatan-catatan Kitab Hindu Kuno seperti dikutip Capt RP Suyono dalam Dunia Mistik Orang Jawa (2009: 15) dikisahkan bahwa pada 450 SM hingga 78 M, nenek moyang suku Jawa dari Koromandel mulai berdatangan.

Pada masa itu, Jawa masih diliputi hutan belantara dan dikenal dengan nama Nusa Kendang. Daerah itu berhasil dikunjungi oleh orang-orang dari Kerajaan Astina atau Kling, Koromandel atas perintah raja mereka yang bernama Arjuna.

Diperkirakan mereka mendarat pertama kali di daerah Banten. Namun, mereka tidak mampu bertahan lama mendiami daratan Jawa karena ganasnya gangguan makhluk-makhluk berbentuk aneh.

Ada beberapa jenis makhluk aneh, antara lain  diberi nama gandarwa (Sanskerta: gandharva) atau biasa disebut genderuwo.  Makhluk aneh lainnya adalah tetekan, cicet, bahung, dan banaspati.

Selain serbuan makhluk aneh itu, mereka juga dimangsa oleh binatang-binatang buas. Akibatnya, banyak di antara mereka tewas. Dan yang selamat memutuskan kembali ke negeri asalnya.

Keberadaan dedemit yang menghuni tanah Jawa seperti dikisahkan Suyono, ternyata senada dengan catatan seorang wartawan buletin Minggu Pagi edisi 3 Tahun 1955 dengan nama inisial D Hrt.

Kala itu, ia sedang meliput acara penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada 18-24 April 1955. Karena penat, ia melancong ke berbagai daerah di lereng Tangkuban Perahu, Jawa Barat.

Hingga singgahlah ia ke pangkalan udara yang kini bernama Lapangan Udara (Lanud) Suryadarma di Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Lanud Suryadarma terkenal sebagai pangkalan udara militer tertua di Indonesia. Pangkalan ini didirikan pada masa Kolonial Belanda, tepatnya pada 30 Mei 1914.

Di kala itu, pangkalan udara Kalijati digunakan sebagai pusat lahirnya para pejuang dirgantara. Dan di sekitar lokasi ini pula, pasukan Belanda menyerah kepada tentara Jepang. Peristiwa itu terjadi pada 2 Maret 1942.

Anehnya, lokasi yang kini menjadi salah satu markas TNI AU ini, ternyata memiliki ragam kisah mistis. Wartawan D Hrt menuliskan bahwa dari cerita yang beredar di masyarakat sekitar pangkalan, konon, asal-usul pangkalan Suryadarma berupa hutan yang sangat angker.

Dalam cerita lisan leluhur orang Sunda, pangkalan udara Kalijati dahulu kala merupakan kawasan hutan yang dihuni oleh berbagai makhluk halus. Dan ketika hutan itu dibabat dan dijadikan markas tentara, ternyata hantu-hantu itu tidak mau pergi.

Mereka bahkan menyerbu pangkalan udara dan menghuni setiap ruangan dan setiap pohon yang ada di pangkalan udara. “Hantu-hantu itu menampakkan diri di waktu malam. Kantin perwira dijaga hantu lelaki tua kecil,” tulis D Hrt.

Ia juga masih menambahkan, “Beringin keramat di pangkalan, dihuni roh ronggeng cantik, tapi zonder badan, sedang rambutnya amat panjang.”

Bahkan ada pula roh halus yang menampakkan diri dalam wujud babi jadi-jadian. “Babi putih yang tak dapat ditembak menguasai (daerah) semak belukar di pangkalan.”

Dan hantu yang paling menakutkan menurut catatan D Hrt adalah “Jin-jin di rumah sakit.”

Ketika ia mencoba menanyakan warga sekitar pangkalan, tiba-tiba ia merasakan badanya merinding karena takut. Warga meyakini roh-roh halus itu ada hubungannya dengan berbagai peristiwa tragis sebelumnya.

“Dahulu, asal-asalnya (hantu, red) dipergunakan untuk menyimpan mayat-mayat korban kekejaman senjata. Bisa (potongan organ, red) paha, tangan, kepala, bergantungan di jendela atau pintu.”

Sambungnya, “Roh-roh korban itu menuntut balas. Sosok tanpa kepala, malam-malam berjalan-jalan. Kadang mengetuk pintu, membuka jendela, atau bermain-main di pintu mobil.”

Ketika netralnews.com berusaha menyelusuri keangkeran area Lanud Suryadarma, dijumpai keterangan bahwa keangkerannya ternyata tidak hanya di dalam area pangkalan udara, tetapi hingga mencapai radius cukup jauh.

Ada seorang perempuan warga sekitar yang mengaku bernama Rina (38), pernah mengalami pengalaman misterius. Di suatu malam, ia bersama suaminya sedang melintas jalan raya di sekitar Lanud Suryadarma.

Tiba-tiba muncul sosok perempuan tua menyeberang jalan raya dengan melayang di udara, menuju ke arah kompleks pangkalan udara. Anehnya, di belakang nenek tua itu, ada beberapa anjing yang mengejar sambil melolong laksana serigala.

Karena terkejut, suami Rina menghentikan sepeda motornya. Rina dan suaminya melihat sosok perempuan itu kemudian menghilang sementara anjing-anjing terus melolong dengan mendongakkan kepalanya ke atas.

Keterangan lain adalah tentang keangkeran di jalan raya Kalijati-Subang, tidak jauh dari Markas Paskhas Lanud Suryadarma. Ada bagian jalan raya yang bergelombang di antara hutan karet.

Menurut kepercayaan warga, daerah itu juga menjadi lokasi berkumpulnya berbagai jenis makhluk halus. Bisa dikatakan menjadi semacam perkampungan dedemit. Mengapa bisa begitu? Sejak zaman kolonial, sering digunakan sebagai area untuk membuang mayat korban perang.

Sementara di zaman kemerdekaan, sekitar tahun 1984-1985, warga sering menemukan mayat korban penembakan misterius (petrus).

Oleh sebab itu, daerah itu dinamakan “Cibuang” karena selalu dijadikan sebagai lokasi pembuangan korban-korban pembunuhan.

Maka tak heran juga, bila jalan raya di sekitarnya sering terjadi kecelakaan.

Setiap pengendara, wajib berhati-hati dan konsentrasi bila ingin melintasi daerah ini karena konon dedemit yang menghuni kawasan hutan karet Cibuang hingga Lanud Suryadarma sering mengganggu pengendara.

 

Catatan: artikel ini sebelumnya pernah dipublikasikan Netralnews.com dengan judul "Ngeri! Hantu Potongan Paha, Tangan, Kepala Bergelantungan di Markas TNI AU".

Editor : Taat Ujianto