• News

  • Sisi Lain

Kisah Kelam Penampakan Sosok Arwah Manusia Bercap Angka di Badan

Museum Tambang Batubara di Sawah Lunto, Sumatera Barat
foto: tripadvisor
Museum Tambang Batubara di Sawah Lunto, Sumatera Barat

SAWAHLUNTO, NETRALNEWS.COM – “Ngilu rasanya, Mas. Setiap kali mengenang penampakan sosok-sosok bayangan manusia penuh luka dan tersiksa di gua ini,” tutur lelaki yang mengaku bernama Riyadi (48), Kamis (22/8/2019).

Lelaki paruh baya yang malang melintang sebagai tour guide ternyata bisa merasakan arti kesedihan yang mendalam. Itu semua karena ia terkadang mampu menyerap semacam jejek sejarah dan penindasan manusia oleh manusia di masa silam.

“Iya, seperti merasakan kondisi zaman di masa itu. Nyesek di dada dan sakit di hati. Sulit saya terangkan dengan kata-kata. Tapi bisa jelas di pelupuk mata saya. Bayangan-bayangan sosok manusia diikat dengan rantai itu menampakkan diri di lorong bekas tambang itu,” sambungnya.

Apa yang disebut-sebut Riyadi adalah salah satu kenangan tak terduga yang ia alami beberapa bulan lalu saat mengantar sekitar 30 orang wisatawan dari Jakarta yang ingin mengunjungi objek wisata berupa Museum Tambang Batubara yang terletak di  Jl M Yazid, Tangsi Baru, Tanah Lapang, Lembah Segar, Sawahlunto, Sumatera Barat.

Hari itu adalah kali pertama Riyadi berkunjung ke lokasi yang menyimpan sejarah penting di Kota Sawahlunto. Wisatawan menyusuri lubang tambang dengan mengenakan helm dan mengenakan sepatu boot.

“Pintu masuk lubang tambang terdapat tangga menurun. Makin ke dalam, makin gelap dan hanya ada sedikit saja peneragan. Pemandu museum membantu penerangan dengan lampu senter yang mereka bawa,” kenang Riyadi.

"Panjang lubang tambang sebenarnya berkilo-kilo meter, dan belum dibuka seluruhnya. Ada enam level ke bawah dengan kedalaman sekitar 300 hingga 500 meter," imbuhnya.

Menurut informasi yang diperoleh Riyadi, tambang Sawahlunto dibuka sejak 1891. Di beberapa lubang, ada percabangan dan lekukan ke dalam. Konon, percabangan juga berfungsi sebagai sistem suplai oksigen, sedangkan lekukan untuk tempat menepi Iori (alat pengangkit).

Semakin masuk kedalam, udara terasa semakin pekat. Pihak museum kini telah memberikan selang besar untuk mengalirkan oksigen.

“Sekitar 20 menit kami menelusuri lubang tambang. Kami hendak keluar. Kala itu sudah sore. Dan entah mengapa, tiba-tiba saya hilang kesadaran, tepat saat mendekati pintu keluar. Dalam kondisi tak sadar itulah, saya seperti melihat penampakan sosok-sosok pekerja tambang yang dianiaya mandor mereka,” kenang Riyadi.

“Terlihat juga orang berkulit putih berbaju putih laksana memerintahkan para mandor untuk mempercepat penggalian lubang tambang. Semua pekerja itu dirantai leher dan kakinya,” lanjutnya.

Apa yang dilihat dan diceritakan Riyadi bisa kita bayangkan.  Manusia diperlakukan seperti hewan peliharaan. Laksana kuda yang diikat lehernya dan ditarik ke kanan dan ke kiri bila ingin agar si kuda menarik berlari menarik delman ke arah kanan atau ke kiri.

“Anehnya, penampakan atas apa yang saya lihat, sama persis dengan penjelasan petugas museum tambang di Sawahlunto. Saya tersadar kembali karena diobati mereka dan ditanya semua hal tentang apa saya mengalami saat pingsan tak sadarkan diri,” terang Riyadi.

Menurut petugas museum, apa yang dialami Riyadi adalah semasam pesan gaib yang ingin menceritakan apa yang dialami para tahanan di zaman kolonial Belanda. Mereka dipaksa bekerja membangun jalur tambang dan menambang batubara.

“Konon, keberadaan mereka kemudian 'dibunuh' dan diganti dengan mencantumkan nomor yang dicap di badan. Pekerja itu dulu dipanggil dan diperintahkan dengan menyebut nomor yang tertera ditubuhnya,” lanjutnya.

Bahkan, setelah para pekerja mati setelah menjalani kerja tak manusiawi, nama asli mereka tak akan pernah ditemukan dalam batu nisan. Yang dicantumkan hanya angka atau cap di badannya. “Mereka inilah yang kemudian disebut dengan julukan orang rante (orang yang dirantai, red),” tutur Riyadi.

Dalam penjelasan petugas Museum seperti diterangkan Riyadi, asal-usul orang rante ternyata beragam. Mereka berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Tak heran pula jika di Kota Sawahlunto, bahasa yang berkembang juga mencirikan campuran dari berbagai daerah hingga kini.

“Usai menjelaskan semua penampakan yang saya alami, saya ternyata justru menjadi dekat dengan para petugas museum. Hingga kini saya masih sering berkomunikasi dengan mereka,” kata Riyadi.

Riyadi yang sempat membuat panik para wisatawan yang dipandunya, hari itu memutuskan istirahat dan tidak melanjutkan perjalanan wisata. Para wisatawan akhirnya dipandu oleh teman-teman Riyadi dari satu biro jasa tempat ia mengabdi.

Namun, malam harinya, saat di rumah penginapan, Riyadi ternyata mengalami mimpi yang sama. Kali ini ia mengaku melihat dengan sangat jelas benda-benda yang pernah dipakai oleh manusia rantai.

“Saya terbangun sudah dini hari dan tak  bisa tidur lagi. Antara takut dan penasaran, pagi harinya saya putuskan kembali menemui petugas museum, barulah semua menjadi terang-benderang. Benda-benda yang saya lihat dalam mimpi ternyata sama persis dengan apa yang disimpan di etalase pusat informasi pariwisata Kota Sawahlunto,” papar Riyadi.

Riyadi akhirnya mampu menyambungkan semua potongan penampakan yang ia alami. Ia mulai menyadari arti dari semua penampakan.

“Bagi saya, pengalaman seperti ini menjadi bekal tersendiri untuk bisa menyampaikan kisah di balik benda-benda bersejarah peninggalan lampau. Dengan penampakan dan merasakan betapa menderitanya manusia rante, saya bisa bertutur ke wisatawan,” terangnya.

Rupanya, kejadian hilang kesadaran dan melihat penampakan gaib, bukan kali itu saja di alami oleh Riyadi. Ia mengaku berulang kali mengalami peristiwa serupa saat mengantar wisatawan berkunjung ke objek wisata.

“Biasanya objek wisata yang mengandung sejarah kekejaman masa lampau. Saya alami pingsan dan lihat penampakan. Sebelumnya saya alami juga di museum Fatahillah, Jakarta, di Cilacap juga pernah,” pungkas Riyadi.

Editor : Taat Ujianto